Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prembon Duta Gianyar, Ceritakan Jejak Dharma di Jagat Nusa dan Pertarungan Sakti I Gusti Ngurah Jelantik Bogol Menaklukkan Dalem Dukut

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 25 Juni 2026 | 20:34 WIB
PENTAS : Pementasan seni prembon dari Sanggar Taksu Dese Srenggo, Banjar Seronggo Kelod, Gianyar di PKB 2026
PENTAS : Pementasan seni prembon dari Sanggar Taksu Dese Srenggo, Banjar Seronggo Kelod, Gianyar di PKB 2026

BALIEXPRESS.ID – Di balik kisah-kisah besar yang hidup dalam tradisi Bali, tersimpan sebuah legenda heroik tentang perjuangan menegakkan dharma di Jagat Nusa pada pementasan seni prembon dari Sanggar Taksu Desa Srenggo, Banjar Seronggo Kelod, Gianyar di PKB 2026.

Kisah itu mengisahkan pertarungan dahsyat antara seorang raja sakti bernama Dalem Dukut dan patih pemberani Kerajaan Gegel, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Cerita yang diwariskan turun-temurun tersebut kini kembali diangkat melalui garapan seni budaya oleh Sanggar Taksu Dese Srenggo, Banjar Seronggo Kelod, Gianyar.

Dikisahkan, Dalem Dukut merupakan penguasa Jagat Nusa yang memiliki kesaktian luar biasa. Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kekuatannya. Namun, kekuatan yang dimiliki justru membawa penderitaan bagi rakyat. Jagat Nusa dilanda ketakutan dan kekacauan karena tidak ada yang berani melawan sang raja sakti.

Melihat kondisi rakyat yang semakin terpuruk, Bendesa Jagat Jungutan memutuskan mencari pertolongan ke Kerajaan Gegel. Ia menghadap Dalem Waturenggong dan memohon bantuan untuk menghentikan kekuasaan Dalem Dukut.

Bahkan, demi keselamatan masyarakat, Bendesa Jagat Jungutan berjanji menyerahkan wilayah Jagat Nusa kepada Kerajaan Gegel apabila Dalem Dukut berhasil dikalahkan.

Mendengar permohonan tersebut, Dalem Waturenggong mengutus patih andalannya, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Dengan keberanian dan kesetiaan kepada kerajaan, sang patih berangkat menuju Jagat Nusa untuk menghadapi langsung Dalem Dukut yang selama ini dianggap tak terkalahkan.

Baca Juga: Jagaraga Raih Gelar Terbaik Lomba Sunari PKB 2026 Berkat Pendalaman Filosofi dan Ketepatan Teknik

Sebelum peperangan dimulai, kedua tokoh mengucapkan bisama atau janji suci. Mereka sepakat bahwa siapa pun yang kalah harus tetap dihormati dan diupacarai secara layak hingga Atma Kertih. Nilai ini menjadi salah satu pesan penting dalam kisah tersebut, yakni penghormatan terhadap martabat manusia dan penyucian atma meskipun berada dalam situasi peperangan. 

Ketua Sanggar Taksu Dese Srenggo Banjar Seronggo Kelod, Ketut Warnata, Kamis (25/6) mengatakan kisah Dalem Dukut dan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol dipilih karena sarat nilai pendidikan moral dan spiritual bagi generasi muda. Menurutnya, cerita tersebut mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada kesaktian, tetapi juga pada keberanian, kesetiaan, dan komitmen menjalankan dharma.

"Melalui pementasan ini kami ingin memperkenalkan kembali warisan cerita leluhur yang mengandung pesan-pesan luhur. Ada nilai perjuangan, pengorbanan, hingga penghormatan terhadap sesama manusia yang tetap dijaga meskipun terjadi peperangan," ujar Ketut Warnata.

Ia menjelaskan, salah satu bagian paling menarik dalam kisah ini adalah kemunculan I Gusti Ayu Blang Singa yang membawa pusaka suci Ki Pencok Sahang. Kehadiran tokoh perempuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah perjuangan tidak terlepas dari dukungan, kesetiaan, dan pengorbanan yang diberikan keluarga.

"Tokoh I Gusti Ayu Blang Singa menjadi simbol keteguhan hati dan peran penting perempuan dalam menjaga keseimbangan kehidupan," katanya.

Baca Juga: Pemkab Jembrana Raih Penghargaan BKN, Bupati Kembang Hartawan Dinilai Sukses Terapkan 12 Kebijakan Pro ASN

Menurut Ketut Warnata, makna Atma Kertih yang menjadi bagian akhir kisah juga sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Bali hingga saat ini. Atma Kertih tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada jiwa manusia agar mencapai kesucian dan ketenangan sesuai ajaran Hindu.

Melalui garapan seni yang memadukan unsur drama, tari, dan tradisi Bali, Sanggar Taksu Dese Srenggo berharap kisah epik Jagat Nusa dapat terus dikenal masyarakat luas. Selain menjadi tontonan yang menghibur, cerita tersebut diharapkan mampu menjadi tuntunan yang menanamkan nilai-nilai dharma, kehormatan, dan kemanusiaan kepada generasi penerus. (ade)

Editor : I Putu Mardika
#Sanggar Taksu Desa Srenggo #2026 #Prembon #seni #pkb