BALIEXPRESS.ID – Pelaksanaan bhakti yadnya tidak semata-mata dipahami sebagai rangkaian upacara seremonial, melainkan memiliki makna mendalam sebagai sarana pembentukan karakter dan penguatan integritas Aparatur Sipil Negara (ASN). Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, dalam kegiatan pembinaan keagamaan yang menekankan pentingnya keterhubungan antara tata nilai agama dan pelaksanaan tugas sebagai abdi negara di Kantor Kemenag Gianyar, Senin (29/6).
Gusti Made Sunartha menegaskan bahwa tata titi agama dan dharma negara harus berjalan selaras. Menurutnya, ASN Kementerian Agama memiliki tanggung jawab lebih besar karena merupakan insan yang memahami ajaran agama secara intelektual dan akademis. "Karena itu, setiap aktivitas keagamaan yang dilakukan harus berlandaskan sumber-sumber ajaran yang benar serta dipahami makna dan fungsinya, " jelas Kakanwil Kemenag Bali asli Gianyar tersebut.
Ia mengatakan melaksanakan sembahyang atau ritual keagamaan jangan hanya sebatas rutinitas tanpa memahami esensi yang terkandung di dalamnya. Padahal, pemahaman yang benar terhadap ajaran agama akan melahirkan kesadaran spiritual yang mampu membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan etika dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Menurutnya, sebagai insan intelektual di bidang agama, ASN Kementerian Agama setidaknya harus memahami tiga aspek utama dalam setiap aktivitas keagamaan, yakni tattwa, susila, dan acara. Ketiga unsur tersebut merupakan fondasi yang saling berkaitan sehingga pelaksanaan ritual tidak hanya menjadi kegiatan simbolik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa setiap upacara memiliki fungsi yang jelas. Minimal terdapat fungsi pemujaan kepada Tuhan, fungsi pemurnian diri, fungsi penyelamatan, serta fungsi proteksi atau perlindungan.Pemahaman terhadap fungsi-fungsi tersebut penting agar umat dapat menjalankan ritual dengan penuh kesadaran dan keyakinan.
Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung makna upacara seperti mecaru yang kerap disalahpahami. Menurutnya, unsur api atau agni dalam ritual bukan sekadar simbol untuk mengundang kekuatan di alam semesta, tetapi juga menjadi sarana membersihkan sifat-sifat negatif yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian, proses penyucian tidak hanya berlangsung di lingkungan sekitar, tetapi juga di dalam diri setiap individu.
“Kita harus memahami bahwa ritual agama memiliki tujuan membangun kualitas diri. Jika pemujaan dilakukan secara teratur, maka akan tumbuh kedisiplinan, rasa percaya diri, dan kekuatan batin. Tuhan adalah sumber perlindungan, sehingga melalui bhakti yang dilakukan dengan pemahaman yang benar, kita memperoleh tuntunan untuk menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus ASN yang profesional dan berintegritas,” pungkas Gusti Made Sunartha *