Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ida Bagus Komang Sindu Putra, Ubah Cara Menikmati Seni Lewat "Sparsa Rupa"

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 5 Juli 2026 | 10:37 WIB

 

 

 

PAMERAN : Pameran Tunggal bertajuk Sparsa Rupa oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra di Guwang, Sukawati.
PAMERAN : Pameran Tunggal bertajuk Sparsa Rupa oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra di Guwang, Sukawati.

BALIEXPRESS.ID – Menikmati karya seni rupa umumnya dilakukan dengan mata. Namun, seniman sekaligus akademisi Ida Bagus Komang Sindu Putra justru membalik paradigma tersebut melalui pameran tunggal bertajuk Sparsa Rupa. Dalam pameran yang menjadi bagian dari disertasi program doktoralnya itu, pengunjung tidak hanya diperbolehkan menyentuh karya, tetapi justru diajak merasakan seni melalui sentuhan, bunyi, dan pengalaman tubuh.

 

Pameran yang digelar di Kulidan Kitchen & Space, Banjar Wangbung, Guwang, Sukawati, Gianyar, menghadirkan sepuluh karya yang dirancang untuk mengajak pengunjung keluar dari kebiasaan menikmati seni hanya dengan melihat. Bagi Sindu Putra, pengalaman estetik seharusnya tidak berhenti pada indra penglihatan.

 

Melalui Sparsa Rupa, ia mengangkat pertanyaan sederhana namun mendasar, yakni apakah seni rupa harus selalu dipahami melalui mata. Selama ini, ruang pamer identik dengan larangan menyentuh karya sehingga interaksi pengunjung dengan karya menjadi terbatas.

Baca Juga: Satpol PP Badung Akan Lakukan Pemeriksaan Lapangan ke Jade by Todd English

Paradigma tersebut kemudian dibalik. Seluruh karya dalam pameran justru mengundang pengunjung untuk menyentuh, meraba, mendengar, hingga membangun hubungan langsung dengan material. Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam memahami makna yang ingin disampaikan seniman.

 

"Sentuhan menjadi jalan utama untuk mengenali karya. Permukaan, tekstur, tekanan, kontur, tonjolan, lapisan, hingga resistensi material membuka cara membaca yang lebih lambat dan lebih dekat. Makna tidak hadir sekaligus, melainkan tumbuh melalui gerak tangan dan hubungan langsung antara tubuh dengan material," ujar Sindu Putra, Minggu (5/7).

 

Sepuluh karya yang dipamerkan lahir dari perenungan mengenai esensi kehidupan manusia. Menurutnya, kehidupan bukan hanya tentang perjalanan yang terang dan mudah dimengerti, tetapi juga dipenuhi kesunyian, pertumbuhan yang perlahan, keraguan, hingga tekanan yang pada akhirnya membentuk ketahanan seseorang.

 

Refleksi tersebut diterjemahkan bukan melalui narasi atau cerita yang eksplisit, melainkan melalui kedalaman tekstur, perubahan material, ritme permukaan, dan bunyi yang muncul ketika karya disentuh. Pengunjung diajak memahami bahwa kehidupan dapat dimaknai melalui rasa, ingatan, dan kesadaran tubuh.

 

Secara keseluruhan, Sparsa Rupa menampilkan sembilan instalasi dua dimensi dan satu objek tiga dimensi. Seluruh karya sengaja dirancang agar dapat disentuh. Kesempatan menyentuh bukan sekadar memberikan kebebasan kepada pengunjung, melainkan menjadi bagian utama dari cara kerja karya dalam membangun pengalaman estetik.

 

Selain mengandalkan pengalaman taktil, unsur bunyi turut menjadi elemen penting dalam pameran ini. Relasi antara sentuhan, suara, dan ruang menciptakan pengalaman artistik yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penglihatan. Pendekatan tersebut sekaligus menghadirkan ruang apresiasi yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas netra maupun masyarakat umum.

 

Melalui Sparsa Rupa, Sindu Putra ingin menunjukkan bahwa seni rupa merupakan ruang perjumpaan antara tubuh, material, ruang, dan pengalaman hidup. “Rupa tidak berhenti pada apa yang ditangkap mata, melainkan bergerak melalui kulit, telinga, ingatan, dan kesadaran manusia dalam memaknai perjalanan kehidupan,” tegasnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Sparsa Rupa #Pameran tunggal