BALIEXPRESS.ID – Di tangan seorang seniman, material yang lapuk bukan sekadar benda usang. Kayu tua yang retak, pudar, bahkan nyaris terlupakan justru mampu menjelma menjadi medium yang menyimpan kisah perjalanan manusia dan kebudayaan. Gagasan inilah yang dihadirkan Prof. Wayan Karja melalui karya instalasi bertajuk Fragments of Memory, sebuah refleksi mendalam tentang ingatan, identitas, dan keberlanjutan budaya.
Berangkat dari pemahaman bahwa material bukan hanya media berkarya, Prof. Wayan Karja memandang setiap benda memiliki kemampuan merekam pengalaman, sejarah, dan memori kolektif. Kayu-kayu yang telah mengalami pelapukan dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena menyimpan jejak waktu yang tidak dapat direkayasa.
Menurut Prof. Wayan Karja, Kamis (9/7) menjelaskan setiap retakan, lapisan warna yang memudar, hingga tekstur yang berubah akibat perjalanan waktu merupakan bagian dari narasi yang terus hidup. Material tidak pernah benar-benar kehilangan makna, tetapi justru memperlihatkan bagaimana kehidupan dan kebudayaan terus bergerak mengikuti perubahan zaman.
Baca Juga: Pemkab Buleleng Salurkan Bantuan Pertanian Rp3,6 M untuk 30 Subak, Perkuat Infrastruktur dan Ketahanan Pangan
"Material sesungguhnya adalah penyimpan memori. Setiap bekas yang ditinggalkan waktu merupakan bagian dari perjalanan budaya yang tidak boleh dipandang sebagai kerusakan semata, melainkan sebagai catatan kehidupan yang terus berlanjut," ujar seniman asal Desa Sayan Ubud ini.
Dalam karya tersebut, fragmen-fragmen ukiran kayu yang dulunya menjadi bagian dari struktur yang utuh disusun kembali dalam komposisi baru. Potongan-potongan itu tidak berusaha mengembalikan bentuk aslinya, tetapi menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana sebuah warisan budaya tetap memiliki nilai meskipun telah mengalami perubahan.
Melalui pertemuan antara bagian kayu yang masih utuh dan yang telah lapuk, karya ini menggambarkan bahwa memori kolektif tidak bergantung pada kesempurnaan bentuk fisik. Sebaliknya, justru pada jejak-jejak yang ditinggalkan waktu, masyarakat dapat membaca perjalanan sejarah, tradisi, dan identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Prof. Wayan Karja menuturkan, warisan budaya seharusnya tidak dipahami sebagai sesuatu yang statis atau beku. Budaya merupakan entitas hidup yang terus bertransformasi mengikuti dinamika masyarakat, tanpa kehilangan akar nilai yang membentuknya.
"Warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang untuk dikenang. Ia terus hidup, berubah, beradaptasi, dan membentuk cara kita memahami sejarah, identitas, serta hubungan manusia dengan lingkungannya," jelasnya.
Melalui Fragments of Memory, publik diajak untuk memaknai kembali benda-benda yang selama ini dianggap usang atau tidak bernilai. Setiap potongan material menyimpan pengetahuan, keterampilan, serta nilai estetika yang diwariskan oleh para pendahulu, menjadikannya sebagai arsip budaya yang terus mentransmisikan pengetahuan lintas generasi.
Lebih dari sekadar karya seni instalasi, Fragments of Memory menjadi ruang refleksi tentang pentingnya merawat ingatan kolektif di tengah derasnya arus modernisasi. Karya ini mengingatkan bahwa identitas budaya tidak hanya hidup dalam cerita atau dokumen sejarah, tetapi juga tersimpan pada material-material yang telah menemani perjalanan panjang peradaban dan tetap berbicara kepada generasi masa kini. *
Editor : Putu Agus Adegrantika