BALIEXPRESS.ID – Dua dekade setelah menginjakkan kaki di Pulau Jeju, Korea Selatan, seniman sekaligus akademisi seni rupa I Wayan Sujana Suklu masih menyimpan satu kenangan yang terus hidup dalam ruang kreatifnya. Ingatan tentang purnama yang perlahan muncul dari balik pepohonan itu kini menjelma menjadi dua karya monumental yang dipamerkan dalam ajang seni kriya internasional “Prakriti Pustaka Padma” di Museum ARMA, Ubud.
Pameran yang berlangsung pada 8–18 Juli 2026 tersebut menjadi bagian dari perayaan 30 tahun perjalanan ARMA dan menghadirkan 50 seniman dari delapan negara. Sebanyak 79 karya kriya dwimatra dan trimatra ditampilkan, memperlihatkan kekayaan praktik seni kontemporer yang berakar pada tradisi, alam, pengetahuan, dan spiritualitas. Pameran ini diresmikan oleh Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Adnyana.
Di tengah dominasi karya tekstil, tapestri, serat, kayu, logam, dan keramik, Sujana Suklu tampil dengan pendekatan yang berbeda. Ia menghadirkan dua karya lukis berjudul “Femina Lunaris” dan “Purnama di Jeju, Ingatan di Bali”, yang justru membuka dialog baru antara seni lukis dan seni kriya.
Menurut Sujana Suklu, kedua karya tersebut lahir dari pengalaman personal yang sangat mendalam ketika berada di Jeju pada tahun 2005. Pemandangan bulan purnama yang muncul di balik pepohonan meninggalkan kesan kuat dan terus berulang dalam ingatannya selama bertahun-tahun.
“Selama hampir dua puluh tahun, memori itu tetap hadir. Bulan bagi saya bukan sekadar objek visual, tetapi simbol perjalanan hidup, pencapaian batin, sekaligus energi feminin yang tenang dan memelihara kehidupan,” ujar Sujana Suklu.
Baca Juga: Rektor UNHI Ajak Pengusaha Hindu Berkontribusi Pada Lembaga Pendidikan
Keunikan karya-karya tersebut terletak pada teknik yang digunakannya. Meski berupa lukisan, Sujana membangun visual melalui metode woven line painting atau menganyam garis. Ribuan garis disusun berulang-ulang dengan ketelitian tinggi hingga membentuk tekstur, ritme, dan ruang visual yang menyerupai proses menenun dalam seni kriya.
Baginya, proses menjadi bagian terpenting dari penciptaan karya. Setiap garis yang hadir di atas kanvas merupakan hasil pengulangan yang dilakukan dengan kesabaran dan konsentrasi penuh. Warna-warna tidak ditorehkan secara instan, melainkan tumbuh perlahan melalui lapisan demi lapisan yang membangun kedalaman visual.
Pendekatan tersebut membuat karya-karyanya terasa dekat dengan semangat tapestri yang mendominasi pameran. Jika para perajin tekstil membangun bidang melalui anyaman benang, Sujana membangun permukaan kanvas melalui anyaman garis dan warna. Persinggungan inilah yang menurutnya menunjukkan bahwa ruh seni kriya tidak hanya terletak pada medium, tetapi pada cara berpikir, ketekunan proses, serta penghormatan terhadap kerja tangan.
Melalui partisipasinya dalam pameran internasional ini, Sujana Suklu sekaligus memperlihatkan bagaimana batas antara seni lukis dan seni kriya semakin cair. Dari ribuan garis yang dianyam di atas kanvas, lahir bahasa visual yang menghubungkan Jeju dan Bali, masa lalu dan masa kini, sekaligus memperkaya wacana seni kontemporer di tengah perayaan tiga dekade Museum ARMA. Bagi Sujana, seni bukan hanya soal hasil akhir, melainkan perjalanan panjang memelihara ingatan, kesabaran, dan makna dalam setiap goresan. *