Institut Mpu Kuturan Sukses Jadi Tuan Rumah iTELL Conference 2026 Dorong Kolaborasi Global Pembelajaran Bahasa

I Putu Mardika • Dipublikasikan Sabtu, 18 Juli 2026 | 20:27 WIB
Rektor Institut Mpu Kuturan (IMK), Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A saat membuka International Technology-Enhanced Language Learning (iTELL) Conference 2026 yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026 (I Putu Mardika/Bali Express)
Rektor Institut Mpu Kuturan (IMK), Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A saat membuka International Technology-Enhanced Language Learning (iTELL) Conference 2026 yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026 (I Putu Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID-Institut Mpu Kuturan (IMK) sukses menjadi tuan rumah International Technology-Enhanced Language Learning (iTELL) Conference 2026 yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026, di Kampus Institut Mpu Kuturan, Jalan Pulau Menjangan, Banyuning. Konferensi internasional hasil kolaborasi Institut Mpu Kuturan dan International Technology-Enhanced Language Learning (iTELL) yang dipimpin oleh Dr. Gumawang Jati, MA. tersebut mempertemukan ratusan akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk luar negeri mulai dari Myanmar, Cina, Jepang, dan Irlandia.

Mengusung tema "Empowering Language Learners in Multicultural Contexts: Trends in Technology and Pedagogy", konferensi menghadirkan berbagai agenda akademik, mulai dari keynote address, plenary session, parallel session, workshops, iTELL boar workshops, poster presentations, dan sponsor presentation. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi ruang berbagi gagasan dan membangun jejaring akademik di bidang pembelajaran bahasa berbasis teknologi.

Rektor Institut Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., yang membuka konferensi sekaligus menjadi keynote speaker, mengatakan penyelenggaraan iTELL Conference 2026 merupakan kehormatan bagi Institut Mpu Kuturan karena dipercaya menjadi tuan rumah forum akademik bertaraf internasional.

Menurut Suwindia, konferensi tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan para akademisi dari berbagai latar belakang dalam merumuskan arah pendidikan tinggi di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

"The real question is, 'How should higher education use Artificial Intelligence wisely?” (diterjemahkan: Pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi apakah perguruan tinggi perlu menggunakan kecerdasan buatan, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara bijaksana,”) kata Suwindia.

Ia menjelaskan, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi apakah perguruan tinggi perlu menggunakan kecerdasan buatan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Baca Juga: Nuanu Memperluas Program Seni Kontemporer melalui Kolaborasi dengan Kolektif Seni Independen

"Technology alone cannot make education meaningful. That responsibility still belongs to us as educators, as researchers, and as human beings," (diterjemahkan: Teknologi saja tidak akan mampu membuat pendidikan menjadi bermakna. Tanggung jawab itu tetap berada di tangan kita sebagai pendidik, peneliti, dan manusia,") ujarnya.

Menurut dia, teknologi saja tidak akan mampu membuat pendidikan menjadi bermakna. Tanggung jawab itu tetap berada di tangan para pendidik, peneliti, dan manusia. Karena itu, transformasi pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi, tetapi juga harus dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal.

Dalam keynote speech bertajuk "A Tri Kaya Parisudha Framework for Transforming Higher Education in the Age of Artificial Intelligence", Suwindia memperkenalkan filosofi Tri Kaya Parisudha sebagai kerangka transformasi pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan. Menurutnya, prinsip berpikir yang baik (manacika), berkata yang baik (wacika), dan berbuat yang baik (kayika) tetap relevan sebagai landasan pengembangan pendidikan tinggi di tengah kemajuan teknologi.

"The future belongs to those who can use Artificial Intelligence with wisdom, with integrity, and with empathy," (diterjemahkan: Masa depan adalah milik mereka yang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan dengan kebijaksanaan, integritas, dan empati," kata Suwindia.

Ia menegaskan, masa depan adalah milik mereka yang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan dengan kebijaksanaan, integritas, dan empati. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab memastikan bahwa teknologi tetap digunakan untuk melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Baca Juga: Festival Seni Bali Jani 2026 Wadahi Kreativitas Seni Modern Pemuda Bali

Selain menghadirkan Rektor Institut Mpu Kuturan sebagai keynote speaker, konferensi internasional tersebut juga menghadirkan sejumlah akademisi dunia sebagai keynote dan plenary speaker, yakni Dr. Dian Toar Y. G. Sumakul dari Indonesia, Colm Downes dari English Score, UK, Kevin McCaughey dari RELO, USA, Dr. Willy Renandya dari Singapura, Dr. Peter De Costa dari Amerika Serikat, Dr. Warid Mihat dari Malaysia, serta Dr. Chua Hang Kuen dari Malaysia. Kehadiran para pakar tersebut memperkaya perspektif peserta mengenai perkembangan teknologi, pedagogi, dan pembelajaran bahasa dalam konteks global.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai forum ilmiah yang menghadirkan akademisi, praktisi, dan peneliti dari berbagai institusi. Selain menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, konferensi juga membuka peluang lahirnya jejaring dan kerja sama akademik yang berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Rektor IMK International Technology-Enhanced Language Learning (iTELL) Conference 2026 Institut Mpu Kuturan Gede Suwindia