I Wayan Artawan, Garap Tabuh “Bebarisan Steya Yudha”, Angkat Heroisme Mahapatih Bendesa Mas dan Kesakralan Barong Landung

Putu Agus Adegrantika • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 16:29 WIB
KARYA: Garapan karya tabuh Bebarisan Strya Yudha.
KARYA: Garapan karya tabuh Bebarisan Strya Yudha.

BALIEXPRESS.ID – Kekayaan sejarah dan budaya Bali kembali diangkat ke dalam sebuah garapan seni tabuh berjudul “Bebarisan Steya Yudha”. Karya ini terinspirasi dari kisah perebutan wilayah antara Kerajaan Ubud dan Kerajaan Negara Batuan yang menyimpan nilai kepahlawanan, keberanian, serta penghormatan terhadap warisan budaya yang masih lestari hingga kini.

Penata karya, I Wayan Artawan, Rabu (22/7) menjelaskan bahwa ide penciptaan garapan ini lahir dari keinginannya menggali kembali sejarah lokal yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, kisah tersebut memiliki nilai artistik dan filosofis yang kuat untuk diterjemahkan ke dalam bahasa musikal gamelan Bali.

"Saya tertarik mengangkat kisah ini karena tidak hanya berbicara tentang peperangan dan kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menghormati peninggalan leluhur yang memiliki nilai sakral. Sejarah ini memiliki pesan yang relevan untuk generasi sekarang," ujar Artawan yang merupakan anggota STT Bina Warga Banjar Mas, Sayan, Ubud. 

Baca Juga: The Banker Rilis Daftar Top 1000 World Banks 2026, BRI Pertahankan Posisi sebagai Salah Satu Bank Terbesar Dunia

Secara musikal, “Bebarisan Steya Yudha” menggambarkan perjalanan misi Mahapatih Bendesa Mas dalam memimpin pasukan Kerajaan Ubud. Garapan dibuka dengan suasana persiapan perang yang ditandai oleh pola-pola ritmis tegas dan dinamis, menggambarkan kesiapan para prajurit sebelum berangkat menuju medan laga.

Memasuki bagian tengah, tempo tabuh berkembang menjadi lebih cepat dengan permainan kotekan yang rapat dan energik. Bagian ini merepresentasikan perjalanan pasukan menuju wilayah pertempuran sekaligus menunjukkan semangat, keberanian, dan solidaritas para ksatria yang berjuang demi kerajaan.

Puncak garapan ditampilkan melalui ledakan musikal yang kuat, ditandai dengan aksentuasi keras, perubahan dinamika yang tajam, serta permainan instrumen yang intens. Nuansa tersebut menjadi simbol dahsyatnya pertempuran antara pasukan Kerajaan Ubud dan Kerajaan Negara Batuan dalam memperebutkan wilayah kekuasaan.

"Pada bagian perang, saya menggunakan karakter melodi yang cepat, keras, dan penuh tekanan untuk menggambarkan suasana medan laga. Saya ingin penonton dapat merasakan semangat juang dan keteguhan hati para ksatria melalui bunyi yang dihasilkan gamelan," kata Artawan.

Setelah suasana peperangan mereda, garapan beralih ke nuansa yang lebih tenang dan khidmat. Tempo musik melambat dengan olahan melodi yang lembut untuk menggambarkan penghormatan terhadap pusaka sakral Topeng Barong Landung yang kemudian dibawa dan disakralkan di Banjar Mas, Desa Sayan.

Menurut Artawan, bagian tersebut menjadi inti pesan karya yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa kemenangan dalam sejarah tidak hanya diukur dari keberhasilan menaklukkan wilayah, tetapi juga dari kemampuan menjaga dan menghormati warisan budaya yang diwariskan leluhur.

"Melalui karya ini saya ingin menyampaikan bahwa warisan budaya bukan sekadar benda peninggalan masa lalu, tetapi simbol identitas dan pemersatu masyarakat. Nilai itulah yang saya coba hadirkan dalam setiap bagian garapan ‘Bebarisan Steya Yudha’," ungkapnya.

Melalui perpaduan unsur heroisme, sejarah, dan spiritualitas, “Bebarisan Steya Yudha” hadir bukan hanya sebagai sajian seni tabuh, tetapi juga sebagai media edukasi budaya. Garapan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan sejarah Kerajaan Ubud sekaligus pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai tradisi yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
Sumber : adegrantika
tabuh kerajaan