Pendampingan Psikologis Diintensifkan, Istri dan Anak Korban Tragedi Baturiti di Sidetapa, Dipastikan Tetap Mendapat Perlindungan

Dian Suryantini • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:06 WIB
Tim psikolog dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, Psikolog Tasya Yumika (kiri) dan Konselor Psikolog Luh Putu Yuli Surya Dewi (kanan)
Tim psikolog dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, Psikolog Tasya Yumika (kiri) dan Konselor Psikolog Luh Putu Yuli Surya Dewi (kanan)

 

BALIEXPRESS.ID– Pendampingan psikologis terhadap dua anak yang ditinggalkan orang tuanya akibat peristiwa tragis di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, terus dilakukan. Tim psikolog dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, memfokuskan penanganan pada pemulihan kondisi emosional anak, sekaligus memastikan mereka memperoleh rasa aman di tengah perhatian publik yang begitu besar terhadap kasus tersebut.

 

Pendampingan dilakukan menyusul meninggalnya ayah kedua anak itu yang merupakan terduga pelaku pencurian ayam dan tewas setelah diduga dikeroyok massa. Peristiwa yang menjadi sorotan luas tersebut tidak hanya menyisakan proses hukum, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis bagi keluarga, terutama anak-anak yang kini harus menghadapi kehilangan orang tua secara mendadak.

 

Psikolog UPTD PPA, Tasya Yumika menjelaskan, fokus utama saat ini bukanlah memberikan label mengenai tingkat trauma yang dialami anak, melainkan memastikan kondisi emosional mereka tetap stabil sesuai dengan tahap perkembangan usia masing-masing.

 

“Yang kami lakukan saat ini adalah asesmen dan pendampingan. Kami memastikan bagaimana anak mampu beradaptasi dengan kondisi baru yang sedang mereka hadapi. Kehilangan orang tua secara mendadak tentu merupakan peristiwa yang sangat berat bagi seorang anak,” ujarnya, Selasa (28/7).

 

Menurutnya, seluruh proses pendampingan dilaksanakan sesuai prosedur dan kode etik profesi psikolog. Karena menyangkut anak di bawah umur, berbagai informasi yang bersifat pribadi tidak dapat dipublikasikan demi melindungi hak-hak anak sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

 

Tim psikolog menegaskan bahwa setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kesedihan. Faktor usia menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan metode pendampingan.

 

“Usia anak berbeda, sehingga cara mereka mengungkapkan emosi juga berbeda. Karena itu pendekatan yang kami lakukan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan psikologis masing-masing anak,” jelasnya.

 

Pada tahap awal, tim lebih banyak memberikan rasa aman kepada istri dan anak-anak melalui konseling dan pendampingan emosional. Tujuannya agar mereka memiliki ruang yang nyaman untuk mengungkapkan perasaan tanpa tekanan dari lingkungan sekitar.

 

Selain itu, asesmen juga dilakukan untuk melihat kemampuan anak beradaptasi dengan situasi yang berubah secara drastis. Banyaknya pelayat, kunjungan masyarakat, hingga perhatian media menjadi faktor yang ikut diperhitungkan karena berpotensi menambah tekanan psikologis.

 

Pendampingan juga mencakup edukasi kepada keluarga agar mampu menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan anak. Psikolog menilai, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam mengurangi dampak trauma yang muncul setelah kehilangan orang tua.

 

Sementara itu, Konselor Psikolog, Luh Putu Yuli Surya Dewi menambahkan, hasil asesmen awal menunjukkan adanya perbedaan respons antara kakak dan adik. Anak yang lebih kecil masih menunjukkan perilaku yang berubah-ubah. Dalam situasi tertentu ia tampak ceria ketika berada di tengah banyak orang atau bermain dengan anak lain. Namun sewaktu-waktu, ketika mengingat sosok ayahnya atau berada dalam situasi yang memicu ingatan terhadap peristiwa tersebut, ia dapat menangis histeris.

 

“Respons anak seusia itu memang bisa berubah dengan cepat. Terkadang terlihat senang, tetapi pada saat tertentu muncul tangisan yang cukup kuat. Itu merupakan bagian dari proses emosional yang sedang dialaminya,” kata Yuli.

 

Sementara itu, sang kakak memperlihatkan respons yang berbeda. Ia cenderung lebih pendiam dan tenang. Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat disimpulkan sebagai bentuk trauma tertentu karena masih diperlukan asesmen lanjutan.

 

Tim psikolog memilih tidak terburu-buru memberikan diagnosis. Mereka akan terus memantau perkembangan kondisi anak secara bertahap agar penanganan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

 

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Berdasarkan hasil pendampingan awal, anak tersebut masih memperlihatkan kecemasan mengenai rutinitas sehari-hari yang sebelumnya selalu dilakukan bersama orang tuanya, seperti dijemput sepulang sekolah. Begitu juga dengan istri korban yang kini beralih menjadi tulang punggung keluarga.

 

“Kami juga berikan penguatan kepada istri korban yang merupakan ibu dari anak-anak ini. Saat ini peran ibu bekerja sebagai penganyam bambu dan sekarang beralih menjadi tulang punggung keluarga,” ungkapnya.

 

Perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari itu dinilai dapat memunculkan rasa kehilangan yang semakin kuat apabila tidak ditangani dengan tepat.

 

Selain kehilangan sosok ayah, anak juga berpotensi mengalami tekanan akibat maraknya pemberitaan dan penyebaran video mengenai kasus tersebut di media sosial.

 

Konselor Psikolog, Putu Yuli mengungkapkan bahwa anak sempat melihat sebagian konten yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Karena itu, keluarga diberikan edukasi agar membatasi akses anak terhadap tayangan maupun pemberitaan yang dapat memperburuk kondisi psikologisnya.

 

“Paparan yang berulang terkait konten tersebut dapat memberikan dampak psikologis yang kurang baik,” ujarnya.

 

Tim juga berencana melakukan koordinasi dengan pihak sekolah kedua anak. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan anak kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar ketika kondisi emosionalnya dinilai sudah memungkinkan.

 

Sekolah diharapkan dapat menjadi lingkungan yang membantu anak memperoleh kembali rutinitas normal, berinteraksi dengan teman sebaya, serta mengurangi rasa kehilangan secara perlahan.

 

“Kami akan berkunjung ke sekolah untuk memastikan anak dapat kembali beraktivitas. Harapannya, rutinitas sekolah dapat membantu meminimalkan rasa tidak nyaman yang sedang mereka alami,” jelas Yuli.

 

Meski demikian, waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan tidak dapat dipastikan. Setiap anak memiliki proses penyembuhan yang berbeda sehingga pendampingan akan dilakukan secara berkelanjutan sesuai perkembangan kondisi masing-masing.

 

Tim psikolog memastikan akan menerapkan sistem jemput bola apabila anak belum siap mengikuti layanan di kantor. Dengan cara itu, proses konseling tetap dapat berlangsung tanpa menambah beban psikologis anak.

 

Dari pandangan psikolog, saat ini perhatian masyarakat terhadap keluarga memang sangat besar. Berbagai bentuk empati dan bantuan terus berdatangan. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga harus diimbangi dengan pertimbangan kesiapan mental anak agar mereka tidak terus-menerus berada dalam situasi yang mengingatkan pada peristiwa tragis tersebut.

 

Karena itu, setiap bentuk interaksi dengan anak diharapkan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak dan tidak memaksa mereka untuk menceritakan kembali pengalaman yang dialaminya.

 

Konselor Psikolog, Yuli juga mengingatkan bahwa meskipun anak tidak menyaksikan langsung peristiwa yang menimpa ayahnya, kehilangan orang tua akibat tindak kekerasan tetap merupakan pengalaman yang berpotensi menimbulkan trauma.

 

“Trauma akibat kehilangan orang tua secara mendadak tentu ada. Yang menjadi fokus kami sekarang adalah memastikan kondisi emosional anak tetap aman sehingga mereka dapat tumbuh dan menjalani kehidupan dengan lebih baik ke depannya,” tegasnya.

 

Ke depan, pendampingan tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga lingkungan keluarga dan sekolah sebagai sistem pendukung utama. Melalui asesmen berkala, konseling, psikoedukasi, serta pengawasan terhadap paparan media sosial, diharapkan dampak psikologis yang muncul dapat diminimalkan sehingga kedua anak memiliki kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara normal di tengah dukungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah. (dhi)

Editor : Wiwin Meliana
Baturiti pendampingan psikologi