BALIEXPRESS.ID – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu, IAHN Mpu Kuturan, Kadek Dika Wirawan, 22, berhasil memenangkan sayembara penamaan Titik Nol Kota Singaraja yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng.
Usulan nama yang diajukan remaja yang akrab disapa Dika, yakni “Praja Mandala Singa Ambara Raja”, terpilih sebagai pemenang dan secara resmi diumumkan pada Rabu (29/7) siang. Pengumuman tersebut dirangkaikan dengan kegiatan melaspas Titik Nol Singaraja yang bertepatan dengan momentum Purnama Sasih Karo.
Kepada Bali Express, Kadek Dika Wirawan mengungkapkan bahwa ide pemberian nama tersebut berangkat dari pemahamannya terhadap konsep tata ruang dalam kebudayaan Bali, khususnya konsep mandala.
Menurutnya, istilah mandala bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Bali karena sering digunakan dalam sistem tata letak tempat suci, seperti utama mandala, madya mandala, dan nista mandala.
“Mandala dalam hal ini berarti wilayah, zona, atau tempat. Sementara praja berarti pemerintah. Dari pemahaman itu saya mengambil konsep Praja Mandala, yang memiliki arti wilayah atau pusat dari pemerintahan Kota Singaraja,” jelas Dika.
Menurutnya, penamaan tersebut tidak hanya menggambarkan fungsi kawasan Titik Nol sebagai pusat kota, tetapi juga memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan identitas dan sejarah Singaraja.
Ia kemudian menambahkan unsur Singa Ambara Raja karena nama tersebut dianggap sebagai simbol yang melekat kuat dengan karakter Kota Singaraja.
Baca Juga: Dua Atlet Bali Antar Indonesia Juara Umum di Haier–AQUA SEA Badminton Final 2026
“Kenapa saya tidak menghilangkan nama Singa Ambara Raja, karena nama itu adalah maskot atau legenda dari Singaraja. Tidak mungkin nama yang sudah terukir di hati masyarakat harus dihilangkan. Rasanya kurang pantas, karena sebuah identitas dan simbol daerah harus tetap dipertahankan,” ungkapnya.
Dika berharap nama Praja Mandala Singa Ambara Raja dapat menjadi identitas baru yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga merepresentasikan sejarah, budaya, serta semangat masyarakat Singaraja.
Ia menilai keberadaan Titik Nol bukan sekadar penanda geografis, melainkan ruang simbolik yang menggambarkan pusat kehidupan sosial, pemerintahan, dan kebudayaan masyarakat Buleleng.
Dika menyebut, mengaku senang karena Praja Mandala Singa Ambara Raja dapat menjadi indentitas yang kuat bagi kota Singaraja.
“Semoga kawasan tersebut menjadi ruang yang nyaman dan mampu mempererat rasa cinta masyarakat kepada kota Singaraja. Dengan nama yang baru ini saya berharap akan menjadi simbol persatuan, kemajuan kepada kota Singaraja. Tentu, kedepan pengembangan Kota Singaraja terus berlanjut, dan bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika