BALIEXPRESS.ID – Penyanyi muda asal Singaraja, Bali, Nikitha Maitri Devie resmi merilis single perdananya bertajuk "Sing Buin Ngingetang" pada tahun 2026. Lagu berbahasa Bali tersebut menjadi langkah awal perjalanan profesionalnya di industri musik sekaligus menghadirkan kisah emosional tentang pengkhianatan dalam sebuah hubungan asmara.
Nikitha mengungkapkan bahwa lagu tersebut terinspirasi dari kisah nyata yang menggambarkan perjalanan seseorang yang telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun.
Sosok dalam lagu itu merasa dicintai sepenuh hati, namun akhirnya harus menerima kenyataan pahit ketika kepercayaan yang dibangun runtuh akibat perselingkuhan.
Kekecewaan mendalam itu kemudian menjadi titik balik untuk mengakhiri hubungan dan memulai lembaran kehidupan yang baru.
"Lagu ini saya harapkan bisa mewakili perasaan banyak orang yang pernah mengalami pengkhianatan. Saya ingin mereka tahu bahwa setiap luka dapat menjadi kekuatan untuk bangkit," ujar Nikitha.
Perjalanan Nikitha di dunia tarik suara sebenarnya telah dimulai sejak usia enam tahun. Lahir di Denpasar pada 4 Juli 2001, ia aktif mengikuti berbagai lomba menyanyi sejak kecil.
Prestasi membanggakan diraihnya pada 2017 saat berhasil menjadi Juara Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMK tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang mengantarkannya mewakili provinsi tersebut pada ajang FLS2N tingkat nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Saat menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Nikitha juga konsisten mengembangkan bakat bermusiknya dengan meraih berbagai prestasi, termasuk beberapa kali masuk tiga besar pada ajang Dies Natalis Undiksha.
Setelah sempat vakum karena kesibukan bekerja, ia akhirnya kembali menekuni dunia musik melalui perilisan single perdananya.
Lagu "Sing Buin Ngingetang" merupakan karya cipta Wayan Kobar, dengan aransemen musik oleh Dek Artha, sementara video musiknya disutradarai oleh Pandarel.
Melalui karya debut ini, Nikitha berharap lagu tersebut dapat diterima oleh masyarakat, khususnya pecinta musik Bali, sekaligus menjadi penyemangat bagi mereka yang pernah mengalami luka karena pengkhianatan untuk bangkit dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik. (dik)
Editor : I Putu Mardika