BALIEXPRESS.ID- Pasca viralnya air limbah di Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, kini telah dilakukan penataan oleh manajemen Finns Beach Club.
Penanganan yang dilakukan yakni meratakan kondisi pasir pantai yang sebelumnya menjadi kubangan air.
Penataan yang dilakukan yakni sebagai bentuk penanganan darurat.
Baca Juga: Taman Nusantara Gianyar 2026, Ruang Pembelajaran Kebhinekaan bagi Generasi Muda
Berdasarkan hasil pemantauan Senin (3/8), sebuah alat berat mulai bekerja di Pantai Berawa.
Ekskavator tersebut pun meratakan pasir pantai dan menambah tanah di area tangga menuju pantai tersebut.
Karyawan proyek Finns Beach Club, Samsul Arifin, 42, mengatakan alat berat mulai bekerja sejak pukul 08.00 Wita untuk meratakan area yang tergerus ombak agar aliran air dari drainase kembali mengalir ke laut.
Baca Juga: Jelang HUT RI Ke-81, Kapolsek dan Camat Blahbatuh Suntik Semangat Pasukan Paskibra
Cekungan yang muncul di area pantai sebenarnya terjadi sekitar seminggu terakhir.
Menurutnya, ombak besar yang disusul hujan deras mengikis bibir pantai hingga membentuk cekungan cukup dalam, sehingga air dari saluran drainase tidak langsung mengalir ke laut.
"Alat berat dikerahkan sejak sekitar pukul 08.00 WITA. Perataan dilakukan supaya tidak ada lagi cekungan yang menampung air dari drainase," ujar Samsul.
Pihaknya menyebutkan, lokasi perbaikan memang merupakan fasilitas umum, namun penanganannya sebagai bentuk bantuan penanganan darurat.
Selain melakukan perataan pasir, saluran drainase juga dibersihkan agar aliran air kembali lancar.
"Sudah sekitar seminggu tidak bisa dilalui air. Setelah ombak besar dan hujan, pasir tergerus sehingga terbentuk cekungan yang dalam. Tadi kami langsung diperintahkan oleh owner untuk tutup genangan," paparnya.
Sementara, Perbekel Tibubeneng, I Made Kamajaya menerangkan, pemerintah desa selama ini rutin melakukan pengawasan lingkungan.
Ia juga menyebutkan, genangan yang viral bukan semata-mata disebabkan oleh limbah dari satu usaha, melainkan karena kondisi alam yang membuat aliran drainase tertahan.
Kamajaya pun menjelaskan, saat air laut pasang kemudian surut, terbentuk gundukan pasir yang menciptakan cekungan di muara drainase.
Akibatnya, air dari saluran, termasuk hasil olahan IPAL berbagai usaha maupun limbah domestik warga yang telah melalui saluran, tertahan selama beberapa hari hingga menimbulkan bau.
“Kondisi alam menyebabkan air menggenang karena tidak bisa langsung mengalir ke laut. Ditambah sampah yang terbawa dan dibuang pengunjung, akhirnya muncul bau yang menyengat," jelasnya.
Sebagai langkah cepat, Kamajaya mengaku telah berkoordinasi dengan manajemen Finns Beach Club melakukan penanganan preventif dengan mengerahkan alat berat untuk mengeruk jalur air menuju laut, sekaligus menimbun cekungan menggunakan pasir.
Keterlibatan pihak swasta dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) atas permintaan pemerintah desa untuk penanganan darurat.
"Langkah ini sifatnya darurat agar genangan segera hilang. Sekarang air sudah bisa kembali mengalir ke laut dan cekungan yang menyebabkan genangan sudah ditutup. Kalau kewenangan infrastrukturnya tetap pemerintah," paparnya.
Lebih lanjut Kamajaya berharap, Pemkab Badung melalui instansi teknis segera melakukan penataan permanen terhadap infrastruktur drainase di kawasan Pantai Berawa.
Begitu juga terkait saluran pembuangan diharapkan dapat ditata lebih baik sehingga tidak lagi menimbulkan genangan maupun kesan kumuh di kawasan wisata.
Selain itu, pengawasan berkala terhadap instalasi pengolahan air limbah (IPAL) seluruh pelaku usaha juga perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Kami ingin persoalan ini diselesaikan secara menyeluruh. Infrastruktur drainasenya ditata, pengawasan IPAL diperketat, sehingga tidak lagi muncul persoalan yang merugikan lingkungan maupun citra pariwisata Berawa," tandasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga