BALIEXPRESS.ID - Di tengah hamparan kebun kelapa yang menghadap langsung ke pantai dan ladang garam Desa Les, Kecamatan Tejakula, berdiri sebuah warung sederhana bernama Don Coffee. Tidak ada bangunan megah, tidak pula konsep kafe modern dengan dekorasi berlebihan.
Yang menyambut setiap pengunjung justru semilir angin laut, rindangnya pepohonan kelapa, suara ombak yang berkejaran di bibir pantai, serta cerita-cerita yang membuat secangkir kopi terasa lebih bermakna.
Warung kecil itu digagas oleh pemuda Desa Les, Nyoman Nadiana, sebagai sebuah ruang kontemplasi. Baginya, Don Coffee bukan sekadar tempat menikmati kopi atau makanan ringan, melainkan ruang untuk berhenti sejenak, berbincang, dan mengingat kembali hubungan manusia dengan tanah tempat mereka berpijak.
Di tengah derasnya arus investasi yang mulai menyasar wilayah pesisir Bali Utara, Nyoman melihat semakin banyak lahan milik masyarakat yang berpindah tangan. Kondisi itu membuatnya berpikir bahwa tanah tidak semestinya hanya dipandang sebagai aset ekonomi.
"Lahan ini kami bersihkan dari jeratan investor karena kami ingin menjadikannya ruang kolektif. Menjual tanah bukan sekadar menjual sebidang lahan, tetapi juga menjual spirit. Artinya kita juga ikut tergusur," ujarnya saat ditemui, Selasa (4/8).
Warung Don Coffee berdiri di atas lahan keluarga seluas sekitar 20 are. Di depannya terbentang laut biru, sementara di sisi lain terdapat ladang garam yang masih dikelola ayahnya. Pemandangan itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus pengingat bahwa Desa Les memiliki kekayaan alam dan budaya yang masih hidup hingga hari ini.
Ke depan, Nyoman membayangkan lahan tersebut tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi. Ia ingin menjadikannya sebagai hub atau titik temu bagi siapa saja yang ingin berdiskusi, berkolaborasi, hingga mengembangkan berbagai potensi masyarakat lokal.
Menurutnya, ketika masyarakat memiliki ruang bersama, mereka akan lebih percaya diri untuk menunjukkan nilai yang dimiliki tanpa harus kehilangan identitas desa.
Konsep yang diusung Don Coffee pun berbeda dari kebanyakan warung kopi. Jika umumnya pengunjung datang, memesan minuman, lalu menikmati suasana, di tempat ini setiap tamu akan diajak mengenal Desa Les lebih dekat.
Secangkir kopi menjadi awal sebuah percakapan. Nyoman akan bercerita mengenai jalur perdagangan rempah melalui laut yang pernah menghubungkan wilayah ini dengan berbagai daerah, sejarah Desa Les, hingga kisah di balik produk-produk lokal yang dihasilkan masyarakat.
Dengan cara itu, pengalaman minum kopi berubah menjadi perjalanan mengenal sebuah desa.
Menu yang disajikan juga dibuat sederhana. Namun hampir seluruhnya menggunakan bahan dan produk lokal Desa Les. Penyajiannya disesuaikan dengan suasana tropis yang menjadi karakter tempat tersebut.
Harapannya sederhana, yakni memperkenalkan kekayaan desa melalui makanan dan minuman yang dinikmati pengunjung. Setiap hidangan menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan.
Nama Don Coffee sendiri memiliki kisah yang cukup menarik. Jauh sebelum warung ini berdiri, Nyoman lebih dulu aktif mengelola tamu secara daring. Dalam aktivitas tersebut ia lebih dikenal dengan nama Don, bahkan sering dipanggil Don Rare oleh orang-orang di sekitarnya.
Konsep ini ternyata telah ia rancang sejak sekitar lima tahun lalu. Setelah berbagai persiapan, gagasan itu akhirnya diwujudkan menjadi warung fisik pada tahun 2026. Seiring pembukaan warung, nama tersebut berkembang menjadi Don Coffee.
Baca Juga: Gallery Kohinoor Hadirkan Promo HUT RI 2026, Member Bisa Ikut Spin Wheel dan Undian Grand Prize
Meski jika diterjemahkan berarti "daun kopi", nama itu bukan dipilih tanpa makna.
"Kami mengambil daunnya, bukan bijinya. Alam sebenarnya sudah memberikan tanda kepada kita. Kalau daun tanaman sudah terlihat tidak bagus, maka buah, bunga, bahkan pertumbuhannya juga tidak akan bagus. Tetapi kalau daunnya sehat, kita bisa yakin pohon itu akan tumbuh dan bertahan sesuai kondisi lahannya. Begitu juga dengan warung Don Coffee ini," tutur Nyoman.
Filosofi tersebut menjadi gambaran tentang pentingnya merawat akar kehidupan terlebih dahulu. Bagi Nyoman, menjaga tanah, budaya, dan masyarakat lokal merupakan "daun" yang harus tetap hijau agar masa depan desa dapat terus bertumbuh.
Di tengah maraknya pembangunan dan investasi di kawasan pesisir, Don Coffee hadir dengan cara yang sederhana. Tidak menawarkan kemewahan, tetapi menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pengunjung tidak hanya membawa pulang rasa kopi atau makanan yang mereka nikmati, melainkan juga cerita tentang Desa Les, tentang garam, tentang laut, tentang rempah, serta tentang pentingnya mempertahankan ruang hidup masyarakat lokal.
Bagi Nyoman Nadiana, secangkir kopi hanyalah awal dari sebuah percakapan. Sementara tujuan akhirnya jauh lebih besar, yakni menghadirkan ruang bersama agar masyarakat tetap memiliki tempat untuk berkumpul, bertukar gagasan, dan terus menjaga spirit tanah yang telah diwariskan oleh para leluhur. (dhi)
Editor : Iqbal Kurnia