BALIEXPRESS.ID– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan terus melakukan inovasi, salah satunya adalah membuat peternakan ayam.
Peternakan ini sebagai salah satu bentuk program pembinaan kemandirian yang diberikan Lapas kepada para warga binaannya,
Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menjelaskan program pembinaan peternakan ini, merupakan salah satu inovasi yang dilakukan Lapas Tabanan dengan memanfaatkan area brandgang sebagai sarana peternakan ayam petelur.
Baca Juga: Amor ing Acintya! Pelajar 14 Tahun Tewas Hantam Mobil di Karangasem, Begini Kronologinya
“Melalui program ini, Lapas Tabanan berhasil mengembangkan program pembinaan kemandirian yang memberikan keterampilan bagi warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan internal,” jelasnya Selasa (4/8/2026).
Untuk mengelola peternakan ini, sebelumnya warga binaan dibekali dengan pelatihan dan sudah menjalankan aktivitas di peternakan ini selama delapan bulan.
Meski memanfaatkan area yang terbatas, sebanyak 114 ekor ayam petelur dipelihara secara rutin dan mampu menghasilkan rata-rata 90 butir telur setiap hari.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Dampingi Gubernur Bali, Jajaki Obligasi Daerah ke Pemprov DKI Jakarta
Hasil panen tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kegiatan tata boga pada program kegiatan kerja, sementara sebagian lainnya dipasarkan kepada petugas Lapas ataupun kepada para pengunjung Lapas Tabanan.
"Lapas Tabanan memang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana, namun hal tersebut tidak menghalangi kami untuk terus berinovasi. Kami ingin setiap potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal demi menciptakan pembinaan yang semakin berkualitas," lanjut Prawira.
Baca Juga: Komisi I DPRD Bali Tinjau Bea Cukai Ngurah Rai, Soroti Transparansi Pengelolaan Barang Sitaan
Peternakan ayam petelur menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang tidak hanya membekali Warga Binaan dengan keterampilan praktis, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam mendukung ketahanan pangan internal.
Lebih lanjut dikatakan Prawira, melalui optimalisasi area brandgang menjadi sarana peternakan produktif, Lapas Tabanan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus berinovasi.
Program ini menjadi wujud nyata pembinaan yang tidak hanya membangun kemandirian warga binaan, tetapi juga menghadirkan manfaat berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan serta mewujudkan Pemasyarakatan yang semakin berdampak bagi masyarakat. (*)
Editor : I Made Mertawan