BALIEXPRESS.ID – Suara derkuku bersahutan dari gantangan di Taman Sangkur, Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Minggu (9/8/2026). Puluhan sangkar berjajar, sementara para penghobi menunggu suara burung masing-masing mengalun.
Bukan sekadar ramai oleh bunyi, setiap suara yang terdengar menjadi bagian dari penilaian untuk menentukan kualitas irama dan keindahan nada. Lomba Derkuku Bupati Cup Tahun 2026 menjadi ajang pertemuan para penghobi sekaligus upaya menghidupkan kembali tradisi derkuku yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Panitia Lomba Derkuku Bupati Cup 2026, I Putu Maruti, 69, mengatakan sekitar 70 peserta ambil bagian dalam lomba tersebut. Mereka terbagi dalam dua kelas, yakni Kelas Lokal dan Kelas Bebas.
“Untuk Kelas Lokal, kuota 40 gantangan sudah terpenuhi. Sedangkan Kelas Bebas diikuti 34 peserta,” kata Maruti.
Kelas Lokal diperuntukkan bagi derkuku lokal yang berasal atau ditangkap dari alam. Sementara Kelas Bebas diperuntukkan bagi derkuku hasil persilangan atau crossing.
Baca Juga: Barong Gajah di Desa Adat Blahkiuh, Simbol Sang Hyang Gana Pati
Menurut Maruti, lomba derkuku memiliki karakter penilaian yang berbeda dengan lomba burung berkicau pada umumnya. Penilaian tidak semata-mata mengandalkan keras atau seringnya burung mengeluarkan suara, tetapi lebih menitikberatkan pada kualitas suara, nada dan irama.
“Kalau burung berkicau kan yang kuat-kuatan bunyi. Kalau derkuku ini yang dicari iramanya. Biarpun gacor, tetapi kalau tidak ada irama, tidak masuk kategori,” ungkapnya.
Penilaian dibagi dalam tiga tingkatan, yakni Bagus, Sangat Bagus dan Istimewa. Pada kategori Istimewa, burung dinilai memiliki struktur nada bagian depan, tengah dan ujung yang mengayun sempurna serta memiliki irama yang harmonis.
Setidaknya terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian juri. Pertama, keaktifan burung selama proses penilaian. Kedua, irama dan alunan suara yang harmonis serta merdu. Ketiga, struktur suara atau kualitas lagu secara keseluruhan, mulai dari bagian pembuka, variasi pada bagian tengah hingga penutup atau bagian ujung.
Karakter tersebut juga menjadi salah satu pembeda lomba derkuku dengan perkutut. Pada lomba perkutut, penilaian antara lain berkaitan dengan frekuensi atau jumlah bunyi dalam durasi tertentu. Sedangkan pada derkuku, penilaian lebih menitikberatkan pada estetika dan keindahan irama alunan nada.
Dalam lomba kali ini, peserta mengikuti empat babak dengan durasi masing-masing 35 menit. Penilaian dilakukan oleh dua juri, masing-masing berasal dari Denpasar dan Jembrana. Dari setiap kelas, ditetapkan 10 juara.
Maruti mengatakan keberadaan komunitas derkuku di Jembrana terus berkembang. Saat ini terdapat sekitar 80 penghobi yang terdata secara resmi. Aktivitas komunitas tidak hanya melalui perlombaan, tetapi juga latihan bersama atau Latber yang digelar rutin setiap bulan.
Baca Juga: Pemkab Badung Siapkan Kajian Pendanaan Infrastruktur melalui Obligasi Daerah
Sementara event Bupati Cup menjadi lomba utama yang digelar satu kali dalam setahun dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Jembrana.
Bagi Maruti, derkuku bukan sekadar burung peliharaan maupun hobi. Suara khasnya memiliki nilai seni dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Lomba derkuku sebenarnya merupakan warisan tradisi luhur yang sudah ada sejak dahulu secara turun-temurun. Seni ini mulai dibangkitkan kembali sekitar lima tahun lalu dan aktivitasnya semakin semarak serta diminati masyarakat dalam dua tahun terakhir,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan sehingga kecintaan masyarakat terhadap derkuku tetap terjaga. Dukungan pemerintah juga dinilai penting untuk mempertahankan keberadaan komunitas dan tradisi tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara, mengapresiasi pelaksanaan lomba tersebut. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan komunitas dan masyarakat tidak hanya menjadi ruang menyalurkan hobi, tetapi juga mempererat silaturahmi dan menjaga tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Lomba ini bukan semata-mata tentang hobi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan burung. Kami mengajak komunitas turut berkontribusi dalam pelestarian burung dan menghindari perburuan liar,” katanya.
Menurut Sapta Negara, upaya pelestarian tidak hanya ditujukan terhadap satu jenis burung, tetapi seluruh jenis burung yang ada di alam.
“Tidak hanya burung tekukur, tetapi semua jenis burung harus dijaga agar tetap lestari,” tegasnya.
Ia menyebut lomba derkuku sebagai salah satu kekayaan tradisi Jembrana yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, keberadaan event tersebut diharapkan dapat dipertahankan sekaligus dikenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Ini harus terus dilestarikan dan dikenalkan kepada khalayak luas sehingga bisa berdampak positif bagi masyarakat Jembrana,” ujarnya.
Di antara deretan sangkar dan suara derkuku yang terus mengalun, tradisi itu kembali menemukan ruangnya. Dari sebuah hobi yang diwariskan lintas generasi, komunitas derkuku Jembrana berupaya mempertahankan seni mendengar dan menilai alunan nada, sekaligus menjaga agar warisan tersebut tetap hidup di tengah masyarakat. (tor)
Editor : I Putu Mardika