FGBMFI World Convention 2026 di Bali, Delegasi 48 Negara Siap Perkuat Jejaring Bisnis

Rika Riyanti • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:56 WIB
KONFERENSI: Konferensi pers Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) World Convention 2026 yang digelar Selasa (11/8)
KONFERENSI: Konferensi pers Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) World Convention 2026 yang digelar Selasa (11/8)

 

BALIEXPRESS.ID — Bali menjadi pusat pertemuan pengusaha dan profesional dari berbagai negara melalui Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) World Convention 2026.

Kegiatan yang digelar di Bali International Convention Center (BICC), The Nusa Dua, pada 12–15 Agustus 2026 ini diikuti delegasi dari 48 negara.

Konvensi tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan 50th Jubilee FGBMFI dengan mengusung tema “One Fire, One Vision for Acceleration”.

Selain menjadi ruang pertemuan internasional, kegiatan ini diarahkan untuk memperluas jejaring, menyatukan visi, serta membuka peluang kolaborasi di bidang bisnis dan kehidupan sosial.

National President Full Gospel Indonesia, Dalie Sutanto, mengatakan Bali dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki reputasi sebagai destinasi internasional dengan dukungan fasilitas yang memadai serta karakter masyarakat yang ramah.

Baca Juga: Diusut Kejari Badung, Kasus Hibah Pura di Jimbaran Segera Terbit Sprinlid

“Kenapa dipilih Bali bukan kota-kota lain? Karena kita beranggapan dan semua setuju bahwa Bali ini menjadi daya tarik dunia. Jadi kalau diadakan acaranya di Bali, orang lebih tertarik untuk datang. Sarananya lengkap, orangnya ramah,” ujar Dalie.

Menurut Dalie, pilihan Bali sebagai lokasi penyelenggaraan turut memberikan dampak terhadap jumlah peserta yang hadir.

Sebanyak 48 negara mengirimkan delegasi dalam World Convention tahun ini, yang disebut menjadi salah satu jumlah kehadiran negara terbanyak sepanjang penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Ini menjadi suatu kebanggaan juga buat kita sebagai penyelenggara. Ternyata terbukti bahwa dalam acara kali ini 48 negara yang hadir dan ini merupakan terbanyak untuk penyelenggaraan World Conference FGBMFI,” katanya.

Ia menjelaskan, World Convention FGBMFI merupakan agenda tahunan yang digelar secara bergantian di berbagai negara.

Penentuan negara tuan rumah dilakukan berdasarkan keputusan International President bersama jajaran organisasi.

“FGMFI mengadakan World Convention satu kali setiap tahun dan itu bergiliran sesuai pilihan daripada International President dan jajarannya. Jadi kita bersyukur, Indonesia 2012 pernah jadi tuan rumah yang peserta yang terbanyak dari luar yang hadir,” jelasnya.

Sejumlah pembicara dari kalangan rohaniwan dan profesional dijadwalkan mengisi rangkaian kegiatan.

Mereka antara lain Romo Koko, Ps. Juan Mogi, Ps. Rubin Adi Abraham, Ps. Harliem Salim, Ps. Lito Samsriwi, dan Ps. Timotius Arifin.

Baca Juga: DPRD Buleleng Kaji Ulang Potensi PAD, Target Rp840 Miliar pada 2027

Dari sektor bisnis, hadir pula Batara Sianturi selaku CEO Citi Indonesia, Anthony Putihrai dari Tamara Corporation, serta sejumlah pembicara lainnya.

Selain mempertemukan anggota FGBMFI dari berbagai negara, penyelenggaraan World Convention 2026 juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan produk Indonesia kepada calon pasar internasional.

Ketua Acara World Convention Bali 2026, Agus Surjanto, mengatakan panitia menyediakan sejumlah booth bagi perusahaan yang memiliki produk dengan peluang untuk dipasarkan ke luar negeri.

“Memang dimanfaatkan selain untuk mengundang business man Christian, ini ada 48 negara yang akan datang. Kita juga ada buka beberapa booth dari company-company yang mungkin market-nya itu khusus untuk luar negeri,” kata Agus.

Ia menyebut salah satu delegasi dengan jumlah besar berasal dari Kongo, Afrika.

Sekitar 140 pengusaha dari negara tersebut dijadwalkan mengikuti kegiatan di Bali.

Kehadiran para pengusaha dari berbagai negara itu dinilai dapat dimanfaatkan pelaku usaha Kristen Indonesia untuk membuka akses pasar baru, termasuk peluang ekspor.

“Jadi sekalian momen ini mungkin dimanfaatkan oleh pembisnis-bisnis Kristen Indonesia untuk mengambil peluang bisnis yang akan bisa diekspor,” ujarnya.

Beragam produk disiapkan untuk diperkenalkan melalui booth selama konvensi, di antaranya makanan, parfum atau minyak wangi, pakaian, serta produk lainnya.

Baca Juga: 2 Hektare Hutan TWA Gunung Batur Terbakar, Diduga Akibat Puntung Rokok Dibuang Sembarangan

“Besok datang itu booth-nya sudah banyak sekali, untuk makanan, untuk parfum, minyak wangi, baju, apa saja yang bisa diekspor. Kira-kira momennya itu yang sekalian diambil,” tambahnya.

Perhatian terhadap pengembangan usaha kecil dan menengah juga menjadi salah satu bagian yang dibawa FGBMFI Indonesia dalam kegiatan tersebut.

Director World Convention Bali 2026, Anthony Putihrai, mengatakan organisasi telah mendorong pembentukan koperasi yang digagas oleh para pengusaha yang tergabung dalam komunitas FGBMFI.

“Kita akan bicara tentang UMKM dan bahkan bukan sampai sana saja. FGBMFI Indonesia sudah membuat, mendirikan koperasi. Jadi kita bukan cuma omong-omong,” ujar Anthony.

Baca Juga: Tarik Tambang OPD Meriahkan HUT Kemerdekaan RI di Bangli, Dinas Kesehatan Raih Juara Pertama

Koperasi tersebut diharapkan dapat menjadi wadah yang membantu pelaku usaha, baik yang sedang menghadapi persoalan dalam menjalankan bisnis maupun yang membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usahanya.

Anthony menilai persoalan permodalan masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM.

Karena itu, keberadaan ruang yang mempertemukan pelaku usaha dinilai penting untuk membuka kemungkinan kolaborasi dan pengembangan bisnis.

“Kita mau menyemangati teman-teman yang bisnisnya masih kurang baik ataupun juga mau berkembang. Di mana sekarang kita tahu bahwa mau mencari modal itu tidak gampang,” katanya.

Senior Ambassador Full Gospel Indonesia, Djinhard, mengatakan kepedulian terhadap UMKM merupakan bagian dari kontribusi anggota FGBMFI yang berkecimpung di dunia usaha.

Ia menegaskan, koperasi tersebut dibentuk oleh para pengusaha yang tergabung dalam FGBMFI dan tidak menjadi bagian dari kepemilikan organisasi.

Baca Juga: Aktivasi IKD di Tabanan Tembus 20.833, Disdukcapil Ingatkan Warga Waspada

“Orang-orang yang sudah masuk di FGBMFI dan menjadi peduli kepada UMKM, mari kita bantu teman-teman kita. Karena FGBMFI sendiri itu perkumpulan nirlaba,” jelasnya.

Menurut Djinhard, para anggota FGBMFI tidak hanya diharapkan memiliki kehidupan keluarga dan profesional yang baik, tetapi juga mampu memberikan manfaat kepada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

FGBMFI memiliki pendekatan yang menggabungkan kehidupan rohani dengan kehidupan sehari-hari para anggotanya.

Pengembangan anggota tidak hanya mencakup aspek spiritual, tetapi juga keluarga, pekerjaan, bisnis, dan kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Jelang BulFest 2026, Dishub Buleleng Siapkan Jalur Alternatif dan Kendalikan Kendaraan Berat

Melalui pendekatan marketplace, para anggota didorong untuk menerapkan nilai iman, etika, integritas, dan kepemimpinan dalam profesi serta lingkungan masing-masing.

International President FGBMFI, Mr. Fransis Owuso, menegaskan bahwa organisasi tersebut beranggotakan para pengusaha dan profesional, bukan pendeta atau pastor.

“Kita bukan pendeta atau pastor. We are ordinary men and women involved in business. Kita adalah orang-orang biasa yang berbisnis, tetapi kita semua mengalami kekuatan Tuhan yang nyata,” tuturnya.

Fransis turut menceritakan pengalaman pribadinya sebelum bergabung dengan FGBMFI.

Ia mengatakan pernah menghadapi persoalan dalam kehidupan pribadi, termasuk masalah minum, sebelum kemudian mengalami perubahan setelah menjadi bagian dari organisasi tersebut.

“Setelah saya masuk ke organisasi ini, Tuhan menjamah hidup saya. Saya berubah. Saya menjadi orang yang lebih baik, a better husband,” katanya.

Baca Juga: Sekda Tabanan Buka Suara soal Penggeledahan di Dinkes, Siap Berikan Keterangan  

Pengalaman personal seperti itu, menurut Fransis, kemudian menjadi bagian dari interaksi antaranggota FGBMFI di berbagai negara.

Para anggota saling berbagi cerita mengenai kehidupan masa lalu, perubahan yang dialami, hingga nilai-nilai yang membantu mereka menghadapi persoalan kehidupan.

“Kita tidak mau terlalu kelihatan religious. Kita itu orang-orang yang praktikal. Bagaimana kita bisa membantu orang-orang yang sedang ada masalah dengan keluarga maupun semua aspek kehidupan mereka,” ujarnya.

Pertemuan FGBMFI sendiri berlangsung secara rutin di berbagai negara.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Kritik Dijamin, Aksi Anarkis Jelang HUT ke-81 RI Ditindak Tegas

Forum tersebut tidak selalu digelar dalam format besar, tetapi juga dapat berlangsung secara sederhana di restoran maupun hotel. Dalam pertemuan tersebut, anggota saling berbagi pengalaman dan memberikan dukungan.

Di Indonesia, FGBMFI dikenal dengan nama Perkumpulan Usahawan Injil Sepenuhnya Indonesia (PUISI).

Organisasi tersebut merupakan organisasi Kristen interdenominasi yang beranggotakan pengusaha dan profesional dari berbagai bidang.

FGBMFI Indonesia bukan organisasi gereja serta tidak berafiliasi dengan partai politik maupun denominasi gereja tertentu.

Organisasi ini berfokus pada pengembangan anggotanya dalam aspek pertumbuhan rohani, etika, keluarga, dunia kerja, bisnis, serta kehidupan bermasyarakat.(***)

Editor : Rika Riyanti
FGBMFI international pengusaha bali