Dampak Kemarau, Warga Desa Siakin Kintamani Harus Beli Air Bersih

I Made Mertawan • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:48 WIB
Korem 163/Wirastya menyalurkan air bersih di Desa Siakin, Kecamatan Kintamani, Bangli, Selasa (11/8/2026). (Ist)
Korem 163/Wirastya menyalurkan air bersih di Desa Siakin, Kecamatan Kintamani, Bangli, Selasa (11/8/2026). (Ist)

BALIEXPRESS.ID – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Banjar Siakin, Desa Siakin, Kecamatan Kintamani, Bangli.

Sejak sekitar sebulan terakhir, sejumlah warga harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena bak penampungan air desa mulai mengering.

Perbekel Siakin I Gede Disi mengatakan, kondisi itu terjadi karena debit air yang mengalir ke bak penampungan terus menyusut. Akibatnya, persediaan air tidak lagi mencukupi kebutuhan warga.

Baca Juga: Update Dugaan Korupsi Dinkes Tabanan: Kejari Temukan Uang di Laci Staf

Warga harus membeli air dengan harga Rp100 ribu per kubik. Jumlah tersebut rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama sekitar satu minggu, tergantung jumlah anggota keluarga dan pemakaiannya

Dengan kondisi tersebut, warga setidaknya harus mengalokasikan sekitar Rp400 ribu per bulan untuk membeli air.

Air yang dibeli terutama digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara kebutuhan air untuk pertanian relatif tidak terlalu terdampak.

Baca Juga: I Wayan Agus Widya Putra, Bangun Ekosistem Pariwisata Budaya Berbasis Teknologi

Sebagian warga telah tergabung dalam kelompok yang memanfaatkan sumur bor di desa lain maupun memanfaatkan sumber-sumber air lain.

Untuk meringankan beban warga, bantuan air bersih juga telah disalurkan Korem 163/Wirasatya, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: AKP I Nyoman Tantra, Kasubbag Bekpal Bag Logistik Polres Gianyar Naik Pangkat Pengabdian

Bantuan didistribusikan ke bak penampungan desa, rumah-rumah warga, serta bak penampungan di sekolah. “Kalau sudah habis, nanti didistribusikan kembali,” kata Disi.

Selain bantuan air, Kodim 1626/Bangli juga memberikan bantuan pipa untuk mengalirkan air dari sumber lain.

Namun, sumber tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena diperkirakan membutuhkan biaya operasional cukup besar. 

Disi menjelaskan, diperlukan sekitar lima mesin untuk mengalirkan air dari sumber tersebut hingga ke bak penampungan desa.

Kondisi ini membuat biaya operasional menjadi salah satu pertimbangan.

Pemasangan pipa juga masih tergolong baru sehingga perlu dilakukan pengecekan secara rutin untuk mengantisipasi kebocoran, sehingga air tersebut baru bisa dimanfaatkan sejumlah warga.

Meski demikian, sumber air tersebut dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan warga dalam jangka panjang. Untuk biaya operasionalnya masih perlu dibahas lebih lanjut. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
warga beli air Kintamani musim kemarau