BALIEXPRESS.ID – Kabupaten Gianyar yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya Bali dinilai memiliki modal kuat dalam menjaga kelestarian tradisi sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama pun didorong untuk menjadi garda terdepan dalam mengajegkan budaya melalui pelaksanaan swadharma sebagai abdi negara.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Ketut Ariawan, S.H., M.Pd.H., saat membuka kegiatan di Kemenag Gianyar, Kamis (14/8).
Menurut Ariawan, ASN Kementerian Agama tidak hanya bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai budaya, agama, dan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur. Gianyar yang selama ini dikenal sebagai daerah seni dan budaya diharapkan mampu menjadi contoh dalam menjaga identitas Bali di tengah perkembangan zaman.
“Melalui pelaksanaan swadharma sebagai ASN, kita harus mampu menjadi teladan dalam menjaga dan melestarikan budaya Bali. Penguatan karakter, etika, dan nilai-nilai keagamaan harus berjalan seiring dengan tugas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ariawan juga menekankan pentingnya implementasi program prioritas Kementerian Agama melalui Asta Protas, khususnya penguatan Ekoteologi. Program ini mengajak seluruh ASN dan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari praktik keagamaan dan spiritualitas.
Menurutnya, nilai-nilai Ekoteologi sangat relevan diterapkan di Bali yang memiliki filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Karena itu, berbagai kegiatan pelestarian lingkungan perlu terus digalakkan sebagai wujud nyata ajaran agama.
Selain penguatan Ekoteologi, Ariawan juga menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi umat. Ia menilai sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
“UMKM harus terus dibangkitkan dan diberdayakan. Kementerian Agama mendukung berbagai upaya pengembangan ekonomi umat agar masyarakat semakin mandiri dan berdaya saing,” katanya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, ASN, tokoh agama, pelaku usaha, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan demikian, Gianyar tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya seni dan budaya, tetapi juga menjadi contoh dalam penguatan nilai keagamaan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi umat.
Melalui penguatan swadharma ASN, implementasi Ekoteologi, dan dukungan terhadap UMKM, Kementerian Agama optimistis mampu berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan berbudaya sesuai dengan visi pembangunan nasional.*
Editor : Putu Agus AdegrantikaSumber : adegrantika