BALIEXPRESS.ID - Upaya Bali menangani persoalan sampah terus diarahkan dari hulu hingga hilir.
Selain memperluas pengelolaan sampah berbasis sumber, Pemerintah Provinsi Bali kini mengawal pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang ditargetkan rampung pada Desember 2027.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan pengelolaan sampah berbasis sumber terus diperkuat bersama pemerintah kabupaten/kota serta masyarakat.
Pemilahan tidak hanya didorong di tingkat rumah tangga, tetapi juga menyasar berbagai fasilitas dan sektor kegiatan.
Baca Juga: Bukan Usia Galon, Pakar Sebut Faktor Ini yang Menentukan Keamanan AMDK
"Akan bekerja terus bersama Pemerintah Kota, Kabupaten se-Bali, dan masyarakat dari tingkat rumah tangga, mempercepat pelaksanaan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai, dan mempercepat pengelolaan sampah berbasis sumber. Baik juga di perkantoran, desa, desa adat, hotel, mall, maupun juga lembaga pendidikan serta lembaga lainnya," kata Koster dalam Sidang Paripurna Istimewa di Ruang Sidang Utama DPRD Provinsi Bali, Jumat (14/8).
Menurut Koster, penerapan pemilahan sampah dari sumber telah menunjukkan perkembangan signifikan.
Kota Denpasar dan Kabupaten Badung bahkan disebut menjadi daerah dengan tingkat pemilahan tertinggi secara nasional.
"Jadi gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber ini sudah berjalan dengan sangat masif, memilah sampah dari rumah tangga. Sekarang ini tingkatnya sudah mencapai di atas 70 persen di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Tepuk tangan untuk dua kota ini dan kabupaten ini. Paling tinggi sekarang. Di tidak saja di Bali, di Indonesia," jelasnya.
Selain mengurangi sampah dari sumbernya, Pemprov Bali menyiapkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik sebagai bagian dari penanganan sampah di tingkat akhir.
Koster mengatakan pembangunan PSEL dilakukan dengan dukungan kebijakan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melalui BPI Danantara.
Bali disebut menjadi provinsi pertama yang melakukan groundbreaking proyek fasilitas tersebut.
"Berkaitan dengan pengelolaan sampah ini agar bisa tuntas, telah dilakukan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah menjadi energi listrik atau PSEL atas dukungan kebijakan Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, melalui BPI Danantara," ucapnya.
Ia menegaskan pembangunan fasilitas tersebut terus dipantau agar target penyelesaian dapat tercapai sesuai jadwal.
Baca Juga: Sesi Pemanasan Rip Curl Cup Padang Padang 2026 Jadi Pembukaan Seru Jelang Main Event
"Jadi titiang perlu melaporkan Bali baru satu-satunya provinsi yang groundbreaking untuk melalui pembangunan fasilitas pengelolaan sampah menjadi energi listrik, yang dilakukan 8 Juli yang lalu, dan sesuai target, Desember 2027 pembangunannya harus selesai. Titiang monitor langsung dan titiang awasi langsung, dan titiang pimpin rapat-rapatnya," ungkapnya.
Koster juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan terhadap pembangunan infrastruktur dan penanganan lingkungan di Bali.
Selain persoalan sampah, Pemprov Bali juga menyiapkan sejumlah pembangunan infrastruktur untuk menangani kemacetan sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.
Pembangunan tersebut direncanakan berlangsung bertahap pada periode 2026 hingga 2029.
Sejumlah infrastruktur yang disiapkan mencakup shortcut, jalan baru, underpass, jembatan, jalan lingkar Bali serta konektivitas antarkabupaten.
"Selain itu, guna mengatasi masalah kemacetan dan kebutuhan prioritas strategis, mulai tahun 2026 sampai 2029, titiang merencanakan dan telah mulai melaksanakan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana strategis," terangnya.
Penanganan kemacetan juga diarahkan pada sektor angkutan logistik.
Pemprov Bali berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengalihkan sebagian jalur angkutan barang dari penyeberangan Ketapang-Gilimanuk menuju jalur pelabuhan di sejumlah wilayah Bali.
Koster mengatakan rencana tersebut mencakup pengembangan fasilitas di Pelabuhan Celukan Bawang serta konektivitas menuju Sangsit, Amed dan Kusamba di Klungkung.
"Jadi titiang sudah rapat dengan Bapak Menteri Perhubungan, salah satu sumber macetnya itu adalah jalur transportasi logistik nyebrang dari Ketapang ke Gilimanuk sampai di Badung, Denpasar. Karena itu, akan dikembangkan Pelabuhan Celukan Bawang ini ditambahkan dengan fasilitas untuk penyimpanan angkutan logistik, sehingga tidak lagi nyebrang ke Gilimanuk, nyebrangnya langsung dari Ketapang ke Celukan Bawang, ke Sangsit, ke Amed, dan ke Kusamba, Klungkung," bebernya.
Baca Juga: HUT ke-68 Bali, Koster Dorong Pembangunan 2025-2030 Jadi Fondasi Bali Era Baru
Pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang disebut mulai dikerjakan tahun ini secara bertahap.
Pemerintah menargetkan penataan jalur logistik tersebut dapat mengurangi kepadatan arus kendaraan barang di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk pada 2027.
"Jadi sedang dimulai tahun ini. Secara bertahap ini dimulai adalah pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang, supaya nanti tahun 2027 targetnya Pak Menteri, itu tidak macet penyeberangan dari Gilimanuk–Ketapang atau sebaliknya, supaya lebih nyaman transportasi kita ke Bali," tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti