Ubud FolkFest 2026 Hadirkan Ruang Kreatif, Genjek Pondok Pekak Buka Festival

Rika Riyanti • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:53 WIB
RUANG KREATIF: Ubud FolkFest 2026 kembali digelar di Biji World, Ubud, 14–15 Agustus 2026
RUANG KREATIF: Ubud FolkFest 2026 kembali digelar di Biji World, Ubud, 14–15 Agustus 2026

 

BALIEXPRESS.ID — Ubud FolkFest 2026 kembali digelar di Biji World, Ubud, 14–15 Agustus 2026.

Memasuki tahun kelima, festival ini menghadirkan musik, seni rupa, budaya, komunitas, serta berbagai aktivitas kreatif.

Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka festival pada Jumat (14/8).

Pertunjukan melibatkan tujuh pemain genjek laki-laki, lima pemain genjek perempuan, dan lima pemain gamelan laki-laki.

Baca Juga: Transformasi BRI Tuai Pengakuan Global, Raih Dua Penghargaan Asian Banking & Finance Awards 2026

Pertunjukan genjek memadukan vokal yang menirukan bunyi instrumen gamelan Bali seperti kendang, cengceng, reong hingga kenyur (sir), dengan iringan suling.

Penampilan juga diwarnai candaan, pesan sosial, kritik, serta interaksi dengan penonton.

Selama dua hari, Ubud FolkFest menghadirkan tiga panggung musik, pameran seni, pertunjukan budaya, lokakarya, aktivitas anak, art market, record store hingga drum circle.

Sejumlah musisi yang tampil antara lain Navicula, Iksan Skuter, Anda Perdana, Gede Robi, Managona dari Taiwan, SUNZ dari New Zealand dan Tanya George dari Australia.

Salah seorang pendiri Ubud FolkFest, Sarah Hadi, mengatakan festival tersebut berangkat dari kegelisahan melihat ruang kreatif Ubud yang dirasakannya mulai kurang terlihat dibandingkan masa sebelumnya.

“Orang-orang bertemu di sini dan menjalin persahabatan; sebagian dari kami bahkan mendapatkan sahabat seumur hidup melalui festival ini. Itu adalah hal yang sungguh istimewa,” katanya.

Menurut Sarah, keberlanjutan festival tidak harus ditempuh melalui pertumbuhan besar-besaran.

Komunitas menjadi bagian penting yang harus terus dirawat, sementara akses terhadap festival juga dijaga agar tetap terjangkau.

“Bagi kami, pada akhirnya Ubud FolkFest adalah tentang menciptakan ruang di mana seni, musik, dan manusia dapat bersatu, serta memastikan ruang tersebut tetap terbuka bagi komunitas,” jelas Sarah.

Baca Juga: Pastikan Listrik Andal Jelang Kemerdekaan, PLN Sukses Gelar Pemeliharaan TL Bay Amlapura 2 di GI 150kV Gianyar

Sementara itu, salah seorang pendiri Ubud FolkFest sekaligus pemilik Biji World, Ida Bagus Oka Genijaya, menekankan pentingnya praktik langsung dalam menjaga seni dan budaya.

“Akar dari republik ini adalah seni dan budaya. Dalam filosofi Hindu Bali, budaya adalah ibu, sesuatu yang melahirkan. Karena itu, seni dan budaya perlu ditanam, dijaga, dan yang paling penting, dilakukan,” ujarnya.

Oka menyebut Ubud FolkFest dibangun dari kreativitas, pertemanan, dan kerja keras tim yang relatif kecil.

Memasuki tahun kelima, ia berharap festival semakin kuat tanpa kehilangan akar komunitasnya.

Baca Juga: Lautan Obor di Tegallalang, Semangat Kemerdekaan dan Budaya Bali Menyala

“Kami punya tim yang muda dan kecil, tetapi sangat solid. Saya rasa itulah salah satu alasan mengapa festival ini masih bisa terus berjalan. Ada kerja keras, ada pertemanan, dan ada orang-orang yang percaya pada apa yang sedang kami bangun bersama,” paparnya.

Pendiri lainnya, Rizal Hadi, menjelaskan istilah folk dalam nama Ubud FolkFest dimaknai sebagai rakyat.

Karena itu, festival tidak dibatasi oleh genre musik tertentu dan membuka ruang bagi beragam ekspresi.

“Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan festival. Yang terpenting bagi kami adalah quality over quantity,” tegas Rizal.

Baca Juga: Rakor Bersama DPR RI Bahas Konflik Agraria, Menteri Nusron Jelaskan Tiga Kategori dan Mekanisme Penyelesaiannya

Selain pertunjukan musik dan seni rupa, festival juga menghadirkan program Fast Forward Ubud bertema Short Stories. Big Ideas. Get Inspired. yang menghadirkan enam pembicara, di antaranya Sandrina Malakiano, Rudolf Dethu, Gede Robi Navicula dan Mark Feldman.

Melalui rangkaian tersebut, Ubud FolkFest tidak hanya menawarkan pertunjukan, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk belajar, berinteraksi, bereksperimen, dan bertemu dengan berbagai komunitas kreatif.(Ika)

Editor : Rika Riyanti
ubud folkfest biji world bali agustus musik