Minat Petani Kintamani Tanam Bawang Putih Rendah, Dinas PKP Dua Alasan Utama

I Made Mertawan • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 07:50 WIB
Polres Bangli melaksanakan penanaman bawang putih di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Rabu (19/8/2026). (Polres Bangli)
Polres Bangli melaksanakan penanaman bawang putih di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Rabu (19/8/2026). (Polres Bangli)

BALIEXPRESS.ID – Pengembangan bawang putih di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, masih sangat jauh tertinggal dibandingkan bawang merah.

Dilihat dari sisi geografis dan iklim, wilayah Kintamani khusus di area kaldera Gunung Batur dinilai sangat potensial untuk pengembangan komoditas tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, mengatakan minat petani Kintamani mengembangkan bawang putih masih rendah.

Baca Juga: Tergiur Untung Besar, Pemilik Warung di Gilimanuk Jual Rokok Ilegal Senilai Rp20 Juta

Kondisi itu dipengaruhi dua faktor. Pertama  masa tanam yang lebih lama dibandingkan bawang merah.

"Bawang putih membutuhkan waktu sekitar 105 hingga 115 hari hingga panen. Bawang merah hanya sekitar 60 hingga 65 hari," kata Sarma, Rabu (19/8/2026).

Faktor kedua berkaitan dengan daya saing di pasar. Keberadaan bawang putih impor membuat produk lokal kesulitan bersaing.

Baca Juga: Hadir Serentak di 131 Lokasi dengan Penawaran Menarik, BRI KKB National Expo Torehkan Rekor MURI

Dari sisi kualitas umbi maupun ukuran, bawang putih impor dinilai lebih unggul, sehingga lebih banyak dipilih konsumen.

“Selama masih ada bawang impor, bawang putih lokal akan menjadi pilihan kedua karena memang dari segi kualitas, buahnya lebih bagus impor. Sehingga petani tidak terlalu tertarik mengembangkan bawang putih,” jelasnya.

Baca Juga: Aksi OPM Ancam Keselamatan Warga, Aparat Didorong Pulihkan Keamanan di Jila

Meski tidak berkembang luas, tanaman bawang putih masih ditemukan di sejumlah wilayah Kintamani, di antaranya Desa Pinggan, beberapa titik di Desa Sukawana, Banjar Bunut serta Madya di Desa Terunyan.

Hanya saja, luas tanaman di wilayah tersebut relatif kecil, sehingga keberadaannya belum tercatat dalam data statistik pertanian Bangli.

Sarma menyebut persoalan daya saing menjadi tantangan utama pengembangan bawang putih di Kintamani.

Jika melihat kondisi geografis dan iklim, kawasan Kintamani memiliki potensi untuk ditanami bawang putih.

Pengembangan bawang putih di Kintamani sebelumnya sempat cukup menggeliat. Kondisi itu terjadi setelah adanya kebijakan pemerintah pusat pada 2016 yang mendorong penanaman bawang putih sebagai bagian dari pengembangan bawang merah.

Saat itu, pengembangan bawang merah disertai kewajiban menyisipkan tanaman bawang putih.

Sebagai contoh, setiap pengembangan bawang merah seluas 10 hektare harus disertai pengembangan bawang putih seluas satu hektare.

Namun, kebijakan tersebut kini tidak lagi berjalan sehingga pengembangan bawang putih kembali bergantung pada minat petani dan kondisi pasar. “Sekarang tidak ada,” jelas Sarma. (*)

Editor : I Made Mertawan
petani bawang Kintamani bangli