BALIEXPRESS. ID – Penerapan nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan beragama terus digaungkan di tengah masyarakat Hindu. Salah satunya tampak dalam pelaksanaan upacara keagamaan di Griya Sabha, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang mengedepankan konsep ramah lingkungan melalui penggunaan dekorasi berbahan alami serta peralatan konsumsi yang minim sampah plastik.
Dalam prosesi upacara tersebut, berbagai ornamen dan dekorasi memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah terurai, seperti janur, daun kelapa, bambu, dan aneka dedaunan. Nuansa alami tidak hanya memperindah jalannya upacara, tetapi juga mencerminkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam sebagaimana diajarkan dalam ajaran Hindu.
Baca Juga: PLN Tingkatkan Daya Listrik Hotel di KEK Sanur Hampir 60 Persen
Menariknya, sajian konsumsi bagi para undanhan juga disiapkan menggunakan ingka beralas daun pisang sebagai pengganti piring. Langkah sederhana ini mampu mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam yang selama ini menjadi salah satu penyumbang sampah dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, sekaligus pemilik Gria Sabha, Dewa Nyoman Arsana, mengatakan bahwa konsep ekoteologi tidak hanya berbicara tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga mengintegrasikan nilai spiritual dengan tanggung jawab menjaga alam semesta. Menurutnya, ajaran Hindu sejak dahulu telah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan melalui konsep Tri Hita Karana.
“Penggunaan bahan-bahan alami dalam upacara merupakan bentuk nyata implementasi ekoteologi. Selain tetap menjaga kesakralan yadnya, masyarakat juga diajak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah yang sulit terurai,” ujarnya, Kamis (20/8).
Ia menjelaskan, penggunaan ingka beralas daun pisang merupakan warisan budaya leluhur yang sebenarnya sangat relevan dengan semangat pelestarian lingkungan saat ini. Selain ramah lingkungan, penggunaan bahan alami juga memberikan nilai estetika dan memperkuat identitas budaya Bali dalam setiap pelaksanaan upacara keagamaan.
Menurut Dewa Nyoman Arsana, gerakan ekoteologi yang saat ini menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama perlu diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat. Pelaksanaan upacara keagamaan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan menjadi contoh bahwa nilai-nilai agama dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam.
"Selain menciptakan suasana upacara yang lebih alami dan asri, penggunaan sarana berbahan organik dinilai mampu menekan volume sampah pasca kegiatan," imbuhnya.
Melalui pelaksanaan upacara yang mengedepankan dekorasi alami dan penggunaan ingka beralas daun pisang, Griya Sabha Desa Ketewel menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat dimulai dari tradisi dan praktik keagamaan. Semangat ekoteologi pun tidak hanya menjadi konsep, tetapi hadir sebagai gerakan nyata untuk menjaga keharmonisan alam.*
Editor : Putu Agus AdegrantikaSumber : adegrantika