BALIEXPRESS.ID – Kemarau yang berlangsung beberapa pekan terakhir mulai menguras cadangan air warga Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Sejumlah warga kini harus membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga memberi minum ternak.
Kondisi itu dirasakan Ni Nyoman Remini, 48, warga Banjar Dinas Batumadeg, Desa Besakih.
Baca Juga: KPK Bongkar Jual Beli Kursi Maba Unsoed, Diduga Tak Hanya Fakultas Kedokteran
Persediaan air yang disimpan di cubang atau bak penampungan miliknya telah habis.
Padahal, air tersebut menjadi cadangan utama untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Remini mengatakan kebutuhan air di rumahnya tidak hanya untuk memasak dan mandi, tetapi juga untuk ternak.
Baca Juga: TPA Suwung Denpasar Terbakar, 10 Armada Damkar Dikerahkan Padamkan Api
Ia harus membeli air bersih dari penjual air tangka karena cubang telah kosong.
“Sudah lama habis (air cubang), saya sudah tiga kali membeli air bersih. Satu tangki air bersih harganya Rp200 ribu,” ujar Remini, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Pemerintah Buka Ruang Partisipasi Publik, Literasi Digital Jadi Kunci Cegah Hoaks
Remini mengaku harus mengatur penggunaannya sehemat mungkin agar bisa bertahan hingga beberapa pekan.
“Paling lama air digunakan tiga minggu, setelah habis, lagi membeli air,” ucapnya.
Pengeluaran untuk membeli air pun menjadi kebutuhan tambahan yang harus disiapkan warga selama musim kemarau.
Kondisi ini dipengaruhi menipisnya cadangan air yang biasanya ditampung warga saat musim hujan.
Peningkatan kebutuhan air juga dirasakan Wayan Wardana, 42, salah seorang penjual air bersih.
Ia mengatakan permintaan dari warga Besakih meningkat cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Wardana mengambil air dari sumber mata air Arca di Desa Menanga, Kecamatan Rendang.
Dalam sehari, ia bisa beberapa kali bolak-balik mengangkut air karena permintaan warga cukup tinggi. “Bisa menjual tiga sampai empat tangki dalam sehari,” kata Wardana.
Menurut Wardana, persoalan kekurangan air di Besakih memang berulang setiap kali musim kemarau tiba.
Warga Besakih selama ini mengandalkan cubang sebagai tempat menyimpan cadangan air, terutama air hujan.
Saat kemarau berlangsung panjang, cadangan dalam cubang semakin cepat terkuras. (*)
Editor : I Made Mertawan
Sumber : Radar Bali