BALIEXPRESS.ID- Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Dusun Palaktiying, Desa Landih, Kabupaten Bangli, Putu Ayu Meita Widyastuti, 19, ditemukan meninggal dunia di apartemen tempat tinggalnya di Jepang.
Pihak keluarga mendapat informasi mengenai kematian Meita pada Minggu (16/8/2026).
Hingga kini, keluarga belum mengetahui kapan jenazah akan dipulangkan ke Bali.
Baca Juga: Satu Dekade Menahan Rindu, Kejutan BRI Pertemukan Yuni dengan Sang Ibu di Taiwan
Pihak Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang memberangkatkan korban masih mengurus administrasi kepulangannya.
I Ketut Gabeng, kerabat korban, saat ditemui di rumah duka, Senin (24/8/2026) mengaku tidak menyangka Meita mengakhiri hidupnya di Jepang.
Menurutnya, selama berkomunikasi dengan keluarga, Meita yang dikenal sebagai sosok kalem tidak pernah bercerita mengenai persoalan yang dihadapinya, termasuk terkait pekerjaannya.
Baca Juga: 26 Ribu Kupon Diundi! Level 21 Mall Banjir Antusiasme Customer
Meita berangkat ke Jepang pada 1 Juli 2026. Sebelum mulai bekerja di bidang pemotongan daging, ia terlebih dahulu menjalani karantina selama satu bulan.
Korban baru sekitar 10 hari bekerja ketika ditemukan meninggal dunia Minggu pagi waktu Jepang.
Baca Juga: 1.912 Peserta Ramaikan Pawai Budaya, Bhineka Tunggal Ika Jadi Napas Perayaan HUT ke-131 Kota Negara
Malam sebelum ditemukan meninggal, Meita sempat melakukan video call cukup lama dengan adiknya yang berada di Palaktiying.
Dalam percakapan tersebut, tidak terlihat gelagat aneh. Pembicaraan juga berlangsung seperti biasanya, membahas aktivitas Meita selama berada di Jepang.
"Hampir setiap hari nelpon adik dan keluarga lainnya. Kalau sudah pulang kerja, nelpon," ujar bibi korban, Ni Wayan Nangi.
Dalam komunikasi dengan keluarga, Meita bahkan beberapa kali mengaku senang bekerja di Jepang.
Bekerja di Negeri Sakura merupakan impiannya sejak lama. Setelah lulus dari SMA Negeri 2 Bangli, ia pun langsung melanjutkan pendidikan di salah satu LPK di Bangli sebagai persiapan untuk bekerja di Jepang.
Kabar mengenai kematian Meita pertama kali diterima keluarga dari LPK yang memberangkatkannya ke Jepang.
Berdasarkan hasil autopsi pihak berwenang di Jepang, pihak keluarga mendapat informasi bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Meita meninggal diduga akibat ulah pati.
Pada hari sebelum ditemukan meninggal dunia, korban tidak masuk kerja. (*)
Editor : I Made Mertawan