Malam Temaram di Pameran Rupa Jnana Rasmi, Purnama yang Menyalakan Ingatan dalam Karya Sujana Suklu

I Gede Paramasutha • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:28 WIB
Lukisan Malam Temaram karya I Wayan Sujana Suklu. (Bali Express/Istimewa)
Lukisan Malam Temaram karya I Wayan Sujana Suklu. (Bali Express/Istimewa)

BALIEXPRESS.ID – Seniman I Wayan Sujana Suklu menghadirkan pengalaman tentang malam, waktu, dan ingatan melalui lukisan berjudul Malam Temaram (2026). Karya berukuran 150 x 195 sentimeter tersebut menjadi bagian dari seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju yang dipresentasikan dalam pameran nasional RUPA JNANA RASMI yang dibuka oleh Ida Bagus Sidharta Putra di N-CAS ISI Bali, Rabu (26/8).

Dengan menggunakan media acrylic, sodas, dan glue on canvas, Suklu tidak menghadirkan malam melalui gambaran objek secara konvensional. Hampir seluruh bidang kanvas justru dipenuhi ribuan bentuk lengkung kecil berwarna yang disusun berulang secara horizontal.

Dari kejauhan, susunan tanda tersebut membentuk kesan sebuah hamparan malam yang gelap. Sementara di sisi kanan atas tampak lingkaran kuning-oranye yang secara spontan mengingatkan pada cahaya purnama.

Baca Juga: Eksplorasi Tabanan, Ciputra Beach Resort Jadi Titik Kumpul Volkswagen Lost in Paradise #6

Namun, semakin dekat karya diamati, semakin terlihat bahwa bentuk bulan tersebut ternyata dibangun dari unsur visual yang sama dengan tanda-tanda yang memenuhi seluruh permukaan lukisan. Bulan dan malam seolah lahir dari bahasa rupa yang sama. "Inilah yang menjadi kekuatan Malam Temaram," tandasnya.

Suklu mengolah garis sederhana yang terus-menerus diulang hingga berubah menjadi sebuah bidang yang padat, ritmis, sekaligus menghadirkan atmosfer. Satu garis lengkung mungkin tampak sederhana dan nyaris tidak memiliki makna ketika berdiri sendiri.

Namun melalui pengulangan dalam jumlah besar, garis-garis tersebut berkembang menjadi tekstur, kepadatan, gelombang, hingga pengalaman visual yang jauh lebih kompleks.

Baca Juga: Kabar Gembira Baik 5.000 Ojol Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Warna-warna gelap seperti hitam, cokelat, hijau tua, dan nuansa tanah mendominasi permukaan kanvas. Di tengah suasana gelap itu, muncul garis-garis bernuansa cokelat-oranye yang memberikan kesan kehangatan, seperti sisa cahaya yang masih bertahan di tengah malam.

Lingkaran purnama di bagian kanan atas kemudian menjadi pusat perhatian. Tetapi purnama itu bukan sekadar benda langit yang ditempatkan sebagai objek dekoratif. Dalam karya Suklu, bulan menjadi titik tempat berbagai fragmen pengalaman dan ingatan seolah berkumpul.

Melalui teknik repetisi, Suklu juga memperlihatkan hubungan yang kuat antara tubuh dan proses penciptaan. Setiap lengkungan merupakan jejak gerak tangan. Setiap tanda membutuhkan tindakan, tekanan, ritme, dan waktu untuk diciptakan.

Akumulasi dari tindakan-tindakan kecil tersebut akhirnya membentuk permukaan lukisan. Dengan demikian, waktu penciptaan tidak hanya menjadi sesuatu yang berlangsung sebelum karya selesai, melainkan turut mengendap di atas kanvas.

"Apa yang terlihat sebagai tekstur visual sesungguhnya dapat dibaca sebagai rekaman dari ribuan gerakan tubuh yang dilakukan secara berulang. Pengulangan itu juga membawa proses penciptaan menuju suasana meditatif," terangnya.

Perhatian tidak lagi hanya tertuju pada hasil akhir, tetapi pada setiap tindakan kecil yang terus dilakukan, mulai dari jarak antartanda, tekanan tangan, ritme gerakan, hingga perubahan-perubahan spontan yang muncul selama proses melukis.

Di tengah pengulangan tersebut, justru muncul berbagai perbedaan. Tidak ada dua tanda yang benar-benar sama. Dari situlah lahir dinamika visual yang membuat permukaan Malam Temaram terasa hidup.

Baca Juga: Inovasi Sederhana Tapi Berdampak Nyata, Unmas Denpasar Hadirkan Alat Pencacah Sampah

Judul Malam Temaram sendiri merujuk pada suasana cahaya yang berada di antara gelap dan terang. Dalam kondisi temaram, sesuatu belum sepenuhnya hilang dari pandangan, tetapi juga tidak tampil secara tegas.

Keadaan ambang itu sejalan dengan gagasan dalam seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju. Dua ruang yang berbeda secara geografis dipertemukan bukan melalui gambaran lanskap secara langsung, melainkan melalui pengalaman yang tersimpan di dalam ingatan.

Bali menjadi ruang tempat purnama hadir dan diamati, sementara Jeju muncul kembali melalui memori. Keduanya tidak harus dihadirkan lewat gambar gunung, pantai, rumah, atau penanda geografis lainnya. Yang muncul justru jejak pengalaman.

Baca Juga: T-OPT, Suku cadang Murah Yang Tidak Murahan Solusi Suku Cadang Alternatif Toyota

Purnama yang dipandang di Bali dapat membangkitkan kembali kenangan tentang Jeju. Jarak geografis menjadi tidak lagi penting karena ingatan mampu menciptakan ruangnya sendiri.

Melalui karya ini, Bali dan Jeju seakan bertemu di dalam kesadaran. Keduanya bukan lagi sekadar dua titik di peta, tetapi dua pengalaman yang saling terhubung dalam ruang batin.

Secara visual, kekuatan Malam Temaram juga terletak pada perubahan pengalaman ketika penonton mengatur jarak pandangnya. Dari dekat, ribuan lengkungan kecil tampil sebagai bentuk-bentuk individual. Ketika penonton mengambil jarak, tanda-tanda tersebut mulai menyatu menjadi pola repetitif.

Dari jarak yang lebih jauh, keseluruhan bidang berubah menjadi medan visual yang membentuk gelombang, tekstur, dan suasana malam. Perjalanan mata penonton pun terus bergerak dari detail menuju keseluruhan. Dari garis menjadi pola. Dari pola menjadi bidang. Dari bidang menjadi atmosfer.

Di tengah seluruh kepadatan visual itu, purnama tetap menjadi semacam jangkar bagi pandangan. Mata dapat kembali menuju lingkaran cahaya tersebut setelah menyusuri ribuan detail yang tersebar di permukaan kanvas.

Namun ketika diamati lebih dekat, batas antara bulan dan malam kembali menghilang. Purnama ternyata dibangun dari unsur yang sama dengan ruang gelap yang mengelilinginya.

Bagi Suklu, purnama kemudian bukan hanya benda yang dipandang, tetapi juga menjadi perangkat untuk mengingat. Bulan hadir secara berkala, tetapi setiap kemunculannya dapat membawa pengalaman yang berbeda. Ia dapat berkaitan dengan perjalanan, masa lalu, perjumpaan, kehilangan, kesunyian, atau sebuah tempat yang telah lama ditinggalkan.

Baca Juga: Inverter PLTS Bangli Banyak Rusak, Carles: Kenapa Justru yang Menghasilkan Tidak Diperhatikan?

Melalui Malam Temaram, purnama menjadi penanda yang menghubungkan malam yang sedang dihadapi dengan malam-malam lain yang pernah tersimpan dalam ingatan. Karya ini pun tidak menghadirkan malam sebagai sesuatu yang selesai. Barisan tanda yang bergerak secara horizontal memberikan kesan bahwa bidang visual tersebut dapat terus berlanjut melampaui batas kanvas. Seolah malam itu tidak memiliki akhir.

Pada akhirnya, Malam Temaram menjadi refleksi tentang pengulangan, waktu, ingatan, dan keberadaan. Sebuah garis lengkung sederhana terus diulang hingga meninggalkan jejak. Jejak-jejak itu kemudian membentuk tekstur, bidang, dan akhirnya melahirkan sebuah purnama.

Melalui karya ini, I Wayan Sujana Suklu memperlihatkan bahwa lukisan tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah objek terlihat. Lukisan juga dapat menjadi ruang tempat tubuh mengingat, tangan bekerja, waktu mengendap, dan pengalaman perlahan menemukan bentuknya.

Di atas kanvas Malam Temaram, cahaya purnama seakan tidak hanya menerangi malam. Ia juga menerangi ingatan yang tersimpan dan perlahan muncul kembali melalui ribuan garis yang berulang. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
malam temaram rupa jnana rasmi pameran suklu