Mahasiswa Lintas Fakultas Unud Ciptakan AZOCALM, Terapi Panas yang Bisa Dipakai Berulang

I Gede Paramasutha • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 16:57 WIB
Mahasiswa Universitas Udayana mengembangkan AZOCALM. (Bali Express/Istimewa)
Mahasiswa Universitas Udayana mengembangkan AZOCALM. (Bali Express/Istimewa)

BALIEXPRESS.ID – Sekelompok mahasiswa Universitas Udayana (Unud) mengembangkan AZOCALM, sebuah inovasi reusable heat pack yang ditujukan sebagai alternatif terapi panas praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan penggunaan kompres hangat dalam aktivitas sehari-hari.

Produk tersebut lahir dari kolaborasi mahasiswa lintas fakultas di Unud. Tim pengembang melibatkan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Salah satu anggota tim, Nova Fitri dari FISIP Universitas Udayana, mengatakan gagasan pengembangan AZOCALM berangkat dari kebutuhan terhadap metode terapi panas yang lebih praktis. Selama ini, penggunaan kompres hangat masih banyak mengandalkan air panas, listrik, maupun perangkat tertentu.

Baca Juga: Mutasi 4 ASN di Lingkungan Bapenda, BKPSDM Badung Pastikan Sesuai Kebutuhan

Kondisi tersebut kemudian mendorong tim mencari konsep produk yang lebih mudah digunakan dan dapat dimanfaatkan berulang kali. AZOCALM memanfaatkan sodium acetate sebagai material penghasil panas. 

Saat diaktifkan, material tersebut mengalami proses kristalisasi yang menghasilkan panas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kompres hangat. Menariknya, setelah selesai digunakan, produk dapat dikembalikan ke kondisi semula untuk digunakan kembali. Dengan konsep tersebut, AZOCALM tidak dirancang sebagai produk sekali pakai.

Keunggulan lain yang ditawarkan adalah bentuknya yang portabel serta mekanisme aktivasi yang relatif mudah. Kombinasi tersebut membuat produk diarahkan agar dapat digunakan secara praktis tanpa bergantung pada sumber panas konvensional.

Baca Juga: DLHK Badung Minta Pengelola TPS3R Cemagi Lakukan Perbaikan, Buntut Dugaan Mencemari Lingkungan

Pengembangan AZOCALM juga tidak hanya mengutamakan aspek kesehatan. Keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu membuat produk tersebut dikembangkan melalui pendekatan multidisipliner.

Mahasiswa kedokteran berkontribusi dalam melihat kebutuhan serta aspek penggunaan produk dari perspektif kesehatan. Sementara mahasiswa bidang teknik dan sains mendukung pengembangan desain sekaligus karakteristik material yang digunakan.

Dari sisi lainnya, mahasiswa FISIP dan FEB turut memperkuat aspek sosial, komunikasi, pengembangan usaha, serta keberlanjutan produk. Nova Fitri menyebut tim tidak ingin AZOCALM berhenti sebatas gagasan maupun prototipe. 

“Kami ingin AZOCALM tidak hanya berhenti sebagai sebuah ide atau prototipe, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang benar-benar mudah digunakan dan memiliki manfaat bagi masyarakat,” ujar Nova, Selasa (8/9).

Menurutnya, penggabungan berbagai bidang keilmuan menjadi bagian penting dalam proses pengembangan AZOCALM. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan produk yang lebih aplikatif sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.

Dalam proses pengerjaannya, tim melalui sejumlah tahapan. Mulai dari merumuskan konsep, merancang produk, menentukan material, menyempurnakan bentuk kemasan, hingga mempersiapkan penerapannya agar dapat digunakan masyarakat.

Baca Juga: Koster Ubah Aset ‘Tidur’ Jadi Duit, Potensi Tambahan Pendapatan Hampir Rp200 Miliar

Ke depan, pengembang AZOCALM berencana meningkatkan kenyamanan penggunaan, memperbaiki desain agar lebih ergonomis, serta memperhatikan aspek keamanan dan keberlanjutan.

Pengembangan berikutnya juga akan menyentuh sejumlah aspek nonteknis, seperti legalitas, perlindungan kekayaan intelektual, branding, hingga peluang hilirisasi produk. Kolaborasi mahasiswa lintas fakultas tersebut diharapkan menjadi contoh bahwa inovasi di lingkungan kampus dapat berkembang lebih komprehensif ketika berbagai bidang keilmuan dipertemukan untuk menjawab persoalan yang ada di masyarakat. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
azocalm mahasiswa unud