BALIEXPRESS.ID – Pemerintah Kabupaten Buleleng terus mempercepat peningkatan kualitas sarana pendidikan melalui Program Revitalisasi Sekolah Tahun 2026.
Sebanyak 21 Sekolah Dasar (SD) mendapat penanganan dengan total anggaran mencapai lebih dari Rp21,18 miliar.
Untuk memastikan program berjalan sesuai rencana, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra turun langsung meninjau sejumlah sekolah penerima revitalisasi, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Gedung Sekolah Direvitalisasi, Siswa SDN 2 Tembuku Belajar di Balai Desa
Dua sekolah yang menjadi lokasi pemantauan yakni SDN 1 Kalianget dan SDN 2 Ringdikit.
Peninjauan tersebut tidak hanya untuk melihat capaian fisik pembangunan, tetapi juga memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai jadwal dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.
Sebagian besar revitalisasi menggunakan pola swakelola dengan melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Baca Juga: KONI Bangli Ajukan Rp5,6 Miliar untuk Porprov 2027, Naik dari Rp3,2 Miliar
Sutjidra mengatakan, pemantauan lapangan penting dilakukan agar berbagai kendala dalam proses pengerjaan dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti.
"Jadi hari ini kita mengunjungi beberapa sekolah yang mendapatkan revitalisasi untuk memantau perkembangan progresnya. Mudah-mudahan semua berjalan sesuai dengan harapan kita, sesuai jadwal, dan juga dari kualitas bangunannya," ujar Sutjidra.
Baca Juga: 746 Hektare Sawah Tabanan Kekurangan Air, Petani Mulai Tunda Tanam Padi
Ia menegaskan pola swakelola bukan berarti pekerjaan dapat dilakukan tanpa perencanaan dan pengawasan.
Menurutnya, kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai ketentuan.
"Semua revitalisasi sekolah ini dilakukan secara swakelola, tetapi tetap ada perencanaan dan pengawasannya. Ini yang perlu menjadi perhatian kepala sekolah karena tanggung jawab jalannya revitalisasi ada di kepala sekolah," tegasnya.
Di SDN 1 Kalianget, revitalisasi telah memasuki minggu ke-11. Sekolah tersebut memperoleh anggaran lebih dari Rp881 juta untuk rehabilitasi lima ruang kelas dan satu paket toilet atau jamban.
Hingga peninjauan dilakukan, progres fisik pembangunan telah mencapai 65 persen dengan realisasi keuangan sebesar 70 persen.
Sutjidra mengapresiasi pelaksanaan pekerjaan yang dinilai berjalan baik. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah desain ruang kelas yang dibuat dengan plafon lebih tinggi sehingga sirkulasi udara menjadi lebih optimal.
Menurutnya, aspek kenyamanan ruang belajar perlu menjadi bagian penting dalam pembangunan fasilitas pendidikan.
Lingkungan kelas yang memiliki sirkulasi udara baik diharapkan turut mendukung kesehatan dan kenyamanan siswa selama mengikuti pembelajaran.
"Di Kalianget ini progresnya sudah bagus. Plafonnya dibuat lebih tinggi sehingga sirkulasi udara jauh lebih baik. Kalau sirkulasi udaranya bagus, anak-anak lebih sehat untuk belajar di dalam kelas," jelasnya.
Berbeda dengan SDN 1 Kalianget, proses revitalisasi di SDN 2 Ringdikit baru memasuki minggu ketiga.
Progres fisik tercatat sebesar 5 persen, sementara progres keuangan mencapai 70 persen.
Dengan anggaran lebih dari Rp1,3 miliar, revitalisasi di sekolah tersebut memiliki cakupan pekerjaan cukup luas.
Pekerjaan meliputi rehabilitasi enam ruang kelas, ruang administrasi, ruang perpustakaan, toilet, serta penataan lingkungan sekolah.
Melihat progres tersebut, Bupati Sutjidra meminta seluruh pihak yang terlibat menjaga ritme pekerjaan agar target penyelesaian tidak terlewati.
Terlebih, pola swakelola memberikan ruang bagi masyarakat desa setempat untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan.
"Kalau melewati jadwal nanti akan ada masalah. Mudah-mudahan tidak, karena ini pekerjaan swakelola dan pekerjanya juga berasal dari desa setempat," ungkapnya.
Program revitalisasi ini menjadi salah satu langkah Pemkab Buleleng untuk menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih layak bagi peserta didik.
Penanganan tidak hanya berfokus pada ruang kelas, tetapi juga mencakup toilet atau jamban, UKS, ruang administrasi, perpustakaan, penataan lingkungan, penyediaan mebel, hingga kebutuhan mobilisasi bahan dan biaya manajemen.
Sebanyak 21 SD yang menjadi sasaran revitalisasi tahun 2026 tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Buleleng.
Sekolah tersebut yakni SDN 1 Pangkungparuk, SDN 1 Kalianget, SDN 2 Penglatan, SDN 4 Sukasada, SDN 2 Gerokgak, SDN 5 Banjar Jawa, SDN 5 Banjar, SDN 1 Beratan, SDN 2 Bengkel, SDN 2 Bongancina, SDN 1 Pucaksari, SDN 5 Penarukan, SDN 1 Astina, SDN 2 Galungan, SDN 2 Ringdikit, SDN 4 Pakisan, SDN 1 Bila, SDN 1 Silangjana, SDN 2 Tinga-Tinga, SDN 1 Kedis, dan SDN 5 Munduk.
Melalui program tersebut, pemerintah daerah menargetkan terwujudnya lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, nyaman, dan mendukung kegiatan belajar mengajar.
Pengawasan terhadap proses pembangunan pun akan terus dilakukan agar anggaran yang digelontorkan memberikan manfaat maksimal bagi peningkatan kualitas pendidikan di Buleleng. (*)
Editor : I Made Mertawan