BALIEXPRESS.ID— Perjalanan hidup seseorang tidak selalu dimulai dari kemudahan. Bagi I Dewa Gede Jaya Rahardi, atau yang lebih dikenal dengan nama Dewa Rahardi, perjalanan menuju posisi dan tanggung jawab yang diembannya saat ini justru ditempa dari pengalaman hidup yang penuh kerja keras, disiplin, dan kemandirian.
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang keras dan disiplin, Dewa Rahardi sejak muda telah terbiasa dengan nilai kerja keras dan tanggung jawab. Berbagai pekerjaan pernah dijalaninya, mulai dari menjadi sales, sopir, hingga menjalankan sejumlah usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membangun pengalaman.
Pada tahun 2011, di tengah kesibukannya bekerja sebagai sales dan sopir, Dewa tetap melanjutkan pendidikan di Universitas Mahendradatta. Baginya, bekerja dan belajar merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan.
Tidak hanya mengandalkan satu pekerjaan, Dewa juga pernah mencoba berbagai bidang usaha. Ia pernah berjualan nasi jinggo, membuka usaha rental PlayStation, usaha cuci motor, hingga berjualan melalui berbagai usaha kecil lainnya. Pengalaman tersebut menjadi proses panjang yang membentuk karakter dan naluri kewirausahaannya.
Dari Usaha Kecil hingga Mengembangkan Bisnis
Perjalanan kewirausahaan Dewa kemudian berkembang. Saat ini ia dikenal sebagai salah satu pelaku usaha minuman di Buleleng melalui gerai Es Teh Bedak, dan Singaraja Poci yang telah hadir di sejumlah wilayah Kabupaten Buleleng.
Tidak berhenti di bisnis minuman, Dewa juga mendapatkan kepercayaan untuk ikut mengelola Lembah Cinta 99, sebuah usaha yang bergerak di bidang kolam renang, restoran, glamping, dan playground.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman dari berbagai pekerjaan dan usaha yang pernah dijalani menjadi modal penting dalam membangun bisnis yang lebih besar.
Aktif Berorganisasi Sejak Bangku Sekolah
Selain dunia usaha, aktivitas organisasi juga telah menjadi bagian dari perjalanan Dewa Rahardi sejak usia muda.
Ketika duduk di bangku SMA, ia aktif dalam organisasi OSIS, sembari bekerja di sebuah konter telepon seluler. Aktivitas tersebut menjadi awal ketertarikannya terhadap organisasi, kepemimpinan, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Perjalanan organisasinya kemudian berlanjut dengan keterlibatan di Peradah pada periode 2014–2017.
Dewa juga pernah dipercaya menduduki posisi Sekretaris HIPMI Buleleng periode 2023–2026. Pengalaman tersebut memperkuat kiprahnya di dunia organisasi pengusaha dan memperluas jejaringnya dengan berbagai kalangan pelaku usaha di Buleleng.
Memasuki tahun 2026, Dewa kembali mendapatkan kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Sekretaris APINDO Buleleng periode 2026–2031.
Kini Mengemban Amanah sebagai Ketua DPD PSI Buleleng
Dari perjalanan panjang di dunia kerja, kewirausahaan, dan organisasi, Dewa Rahardi kini mengemban tanggung jawab yang tidak ringan. Ia dipercaya menjadi Ketua DPD PSI Kabupaten Buleleng oleh seorang Kaesang Pengarep yg merupakan anak ke 3 dari Presiden RI ke 7 , Ir. Joko Widodo.
Amanah tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman sebagai pekerja, pengusaha, dan organisatoris menjadi bekal dalam menjalankan tanggung jawab di dunia politik.
Bagi Dewa, perjalanan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Setiap fase kehidupan, mulai dari menjadi sales, sopir, berjualan nasi jinggo, membuka rental PlayStation dan usaha cuci motor, hingga membangun bisnis minuman dan mengelola usaha pariwisata, menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk dirinya.
Dari tempaan keluarga yang disiplin, pengalaman bekerja sejak muda, perjuangan membangun usaha, hingga aktif dalam berbagai organisasi, semuanya menjadi rangkaian perjalanan yang mengantarkannya pada posisi saat ini.
Kini, dengan berbagai pengalaman tersebut, Dewa Rahardi menghadapi tantangan baru sebagai Ketua DPD PSI Kabupaten Buleleng. Perjalanan yang telah dilaluinya menjadi modal untuk membawa pengalaman dari dunia usaha dan organisasi ke dalam pengabdian serta perjuangan politik di Kabupaten Buleleng.
Perjalanan Dewa Rahardi menjadi gambaran bahwa kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari pengalaman, tempaan, kerja keras, keberanian mengambil risiko, serta kesediaan untuk terus belajar dan menerima tanggung jawab.
Editor : Wiwin Meliana