Misteri Nelayan Jembrana Berakhir Tragis, Jenazah Ditemukan Terkubur di Banyuwangi

Gede Riantory Warmadewa • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 06:48 WIB
Soraya,54, menunjukkan foto almarhum I Gusti Putu Sugiarta,38, nelayan asal Desa Cupel, Kecamatan Negara, Jembrana. (Gde Riantory Warmadewa/Bali Express).
Soraya,54, menunjukkan foto almarhum I Gusti Putu Sugiarta,38, nelayan asal Desa Cupel, Kecamatan Negara, Jembrana. (Gde Riantory Warmadewa/Bali Express).

BALIEXPRESS.ID – Misteri hilangnya I Gusti Putu Sugiarta, 38, nelayan asal Desa Cupel, Kecamatan Negara, Jembrana, berakhir tragis.

Korban yang dilaporkan hilang saat melaut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di perairan sekitar Banyuwangi.

Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan SAR Jembrana, Dewa Putu Hendri Gunawan pada Minggu (13/9/2026) membenarkan korban telah ditemukan.

Baca Juga: Tanamkan Budaya Tertib Lalu Lintas, Bupati Adi Arnawa Bagikan Helm di SMAN 2 Abiansemal

Menurut dia, pencarian korban sebelumnya dilakukan bersama tim SAR gabungan. Pada hari keempat pencarian, informasi mengenai penemuan korban diterima setelah jenazah dievakuasi oleh nelayan ke Pantai Pengambengan.

“Pencarian hari keempat nelayan yang hilang sudah kita lakukan bersama tim SAR gabungan. Korban ditemukan dan dievakuasi oleh nelayan ke Pantai Pengambengan,” terang Dewa Hendri.

Proses penemuan hingga pemulangan jenazah menyisakan sejumlah pertanyaan bagi pihak keluarga.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Tegaskan Program Desa Harus Linier Dengan Kebijakan Kabupaten

Selain persoalan keterlambatan laporan, keluarga menyoroti perbedaan lokasi kejadian yang disampaikan kepada mereka.

Jenazah korban bahkan disebut sempat dikuburkan di kawasan pesisir Banyuwangi sebelum akhirnya dibongkar dan dibawa pulang ke Jembrana.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Siapkan Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi untuk Percepat Penyusunan RDTR

Rangkaian kejadian bermula pada Rabu (9/9/2026) pagi. Istri korban, Soraya, mengaku masih berkomunikasi dengan suaminya sekitar pukul 06.41 WITA.

Setelah komunikasi tersebut, Soraya tidak lagi mendapatkan kabar dari suaminya.

Menurut keterangan yang diterima keluarga, insiden yang menimpa korban terjadi pada Rabu siang. Sugiarta disebut mengalami kecelakaan saat melaut bersama sejumlah rekannya.

Akan tetapi, menurut Soraya, keluarga baru mengetahui adanya kejadian tersebut setelah laporan disampaikan pada Kamis (10/9/2026) siang.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan keluarga. Sebab, keluarga mengaku tidak langsung mendapat informasi mengenai hilangnya Sugiarta.

Soraya mengaku pada Rabu malam sekitar pukul 23.00 WITA sempat mendatangi salah seorang kru kapal untuk menanyakan keberadaan suaminya.

Namun, saat itu dirinya mengaku tidak mendapatkan informasi bahwa Sugiarta telah mengalami kecelakaan ataupun hilang di laut.

Kru tersebut, menurut Soraya, hanya menyampaikan persoalan tidak adanya sinyal. Bahkan, Soraya mengaku saat itu justru diberikan uang Rp100 ribu untuk membeli sayur.

Tidak adanya informasi mengenai kondisi Sugiarta membuat keluarga masih menganggap korban belum diketahui keberadaannya.

Kejanggalan lain yang kemudian diketahui keluarga berkaitan dengan lokasi kecelakaan.

Menurut Soraya, kejadian sebenarnya disebut berlangsung di perairan Senggrong, Banyuwangi, laporan yang diterima keluarga menyebut kecelakaan terjadi di perairan Pulukan, Jembrana.

Perbedaan lokasi tersebut menjadi salah satu pertanyaan utama keluarga. “Lokasi kejadian sebenarnya di perairan Senggrong Banyuwangi, tapi dilaporkan kecelakaan di perairan Pulukan,” ujar Soraya.

Keluarga pun mulai mencari informasi lebih jauh untuk memastikan keberadaan Sugiarta.

Hingga kabar mengejutkan kembali diterima keluarga pada Jumat (11/9/2026) malam.

Nomor telepon milik Sugiarta yang sebelumnya tidak aktif disebut kembali dapat dihubungi.

Dari komunikasi tersebut, keluarga mendapatkan informasi dari seseorang di Banyuwangi yang mengaku mengetahui keberadaan korban.

Orang tersebut menyampaikan bahwa korban telah ditemukan pada Kamis dan kemudian dikuburkan di sekitar kawasan pantai.

Menurut Soraya, penelpon juga menyebut jika keluarga ingin mengetahui lokasi penguburan, mereka dapat menanyakan kepada dua orang yang disebut selamat dalam kejadian tersebut.

Informasi itu membuat keluarga semakin penasaran sekaligus mempertanyakan kronologi sebenarnya.

Berbekal informasi tersebut, keluarga bersama sejumlah tetangga kemudian berangkat menuju Banyuwangi pada Minggu (13/9/2026).

Setelah melakukan pencarian di lokasi yang diinformasikan, keluarga akhirnya menemukan jenazah Sugiarta dalam kondisi terkubur.

Jenazah disebut berada di dalam tanah dengan kedalaman kurang dari satu meter di kawasan pesisir Muncar, Banyuwangi.

Keluarga kemudian membongkar makam tersebut dan mengevakuasi jenazah menggunakan dua sampan menuju Pantai Pengambengan, Jembrana.

Jenazah selanjutnya dibawa ke RSUD Negara untuk dititipkan di kamar jenazah. Soraya berharap seluruh rangkaian kejadian yang menimpa suaminya dapat diungkap secara terang.

Terutama mengenai waktu kejadian, keterlambatan laporan, perbedaan lokasi kecelakaan, hingga proses penemuan dan penguburan jenazah.

Menurut Soraya, Sugiarta baru pertama kali bekerja sebagai nelayan. Korban juga disebut tidak terlalu mengenal dua orang yang dikabarkan selamat dalam kejadian tersebut.

“Harapan saya yang terbaik, untuk memperjuangkan hak suami saya karena ini masalah nyawa. Suami kerja di laut baru pertama kali dan tidak kenal dekat dengan dua orang ini karena suami asli Tabanan,” ungkapnya.

Atas sejumlah hal tersebut, keluarga berencana melaporkan persoalan ini kepada Polres Jembrana.

Mereka berharap aparat dapat menelusuri seluruh rangkaian kejadian secara menyeluruh, termasuk memastikan lokasi kecelakaan yang sebenarnya serta alasan adanya jeda waktu sebelum keluarga mengetahui musibah tersebut.

Hingga kini, berbagai dugaan dan kejanggalan tersebut masih merupakan keterangan dari pihak keluarga.

Kepastian mengenai kronologi kecelakaan, penyebab kematian, serta rangkaian peristiwa setelah korban ditemukan masih menunggu hasil penyelidikan aparat berwenang. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
banyuwangi nelayan tenggelam jembrana