BALIEXPRESS.ID-Kekurangan guru Agama Hindu masih terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Kondisi tersebut membuat wali kelas harus merangkap mengajar mata pelajaran Agama Hindu untuk siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Kondisi ini mendapat perhatian Pengurus Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Buleleng melalui program KMHDI Mengajar. Organisasi mahasiswa tersebut menerjunkan mahasiswa yang memiliki latar belakang Pendidikan Agama Hindu untuk membantu proses pembelajaran di sekolah tersebut.
Ketua PC KMHDI Buleleng, Komang Dia Damayanti, mengatakan persoalan kekurangan guru Agama Hindu perlu segera mendapat perhatian pemerintah. Menurutnya, ketersediaan tenaga pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kalau kita berbicara tentang kemajuan pendidikan, ketersediaan tenaga pendidik harus menjadi prioritas utama,” ujarnya, Selasa (15/9)
Dia mengatakan, kekurangan guru Agama Hindu membuat wali kelas harus mengambil alih pembelajaran agama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kondisi tersebut dinilai dapat menambah beban guru karena selain mengajar mata pelajaran utama sesuai tugasnya, wali kelas juga harus memberikan pembelajaran agama kepada siswa.
Melalui program KMHDI Mengajar, tiga mahasiswa berlatar belakang Pendidikan Agama Hindu ikut membantu mengisi kekosongan tersebut. Pendampingan pembelajaran dilakukan secara rutin sekitar 1 hingga 1,5 jam setiap minggu dengan menyesuaikan jadwal kuliah dan aktivitas mahasiswa.
Selain membantu pembelajaran Agama Hindu di sekolah, PC KMHDI Buleleng juga menggelar kegiatan pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bagi anak-anak di Desa Panji. Kegiatan tersebut dipusatkan di Aula Kantor Desa Panji dan berlangsung selama tiga bulan atau sekitar 12 kali pertemuan.
Sekitar 30 anak tercatat menjadi sasaran program berdasarkan data dari Pemerintah Desa (Pemdes) Panji. Anak-anak tersebut berasal dari sejumlah sekolah dasar yang berada di wilayah Desa Panji.
Dalam pelaksanaan program, sekitar 15 pengurus PC KMHDI Buleleng terlibat. Mereka juga menggandeng enam mahasiswa dari Teruna-Teruni Dharma Duta Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja untuk membantu kegiatan pendampingan.
Dia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kekurangan guru Agama Hindu. Salah satunya dengan membuka formasi tenaga pendidik sesuai kebutuhan sekolah dan kondisi daerah.
“Pemerintah Kabupaten Buleleng kami harapkan segera membuka formasi tenaga pendidik, khususnya Guru Agama Hindu, agar masalah kekosongan ini bisa segera diatasi,” katanya.
Dia juga menyoroti proses penetapan formasi dan perekrutan guru yang dinilai membutuhkan waktu cukup lama karena mengikuti skema dari pemerintah pusat. Menurutnya, pendataan kebutuhan guru dan mekanisme perekrutan perlu lebih responsif terhadap kebutuhan di daerah.
Sementara itu, Kepala SDN 4 Panji, Komang Suheni, membenarkan sekolahnya masih mengalami kekurangan guru Agama Hindu. Pihak sekolah, kata dia, telah menyampaikan kebutuhan tersebut melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
“Kami sudah mengajukan kekosongan guru lewat Dapodik,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Program KMHDI Mengajar merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dirancang secara berkelanjutan. Selain membantu sekolah yang mengalami keterbatasan tenaga pendidik, program tersebut juga diarahkan untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak yang membutuhkan dukungan dalam kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. (dik)
Editor : I Putu Mardika