BALIEXPRESS.ID - Seragam dinas kepolisian tidak selalu identik dengan tugas menjaga keamanan. Di tengah denyut kehidupan masyarakat Bali, kehadiran seorang polisi juga bisa berarti duduk bersama warga, mengangkat pekerjaan gotong royong, dan ikut ngayah demi kelancaran sebuah upacara adat dan keagamaan.
Hal itu terlihat dari sosok Bhabinkamtibmas Desa Singakerta Polsek Ubud, Aiptu I Made Widastra, yang turut ngayah bersama masyarakat Banjar Buduk, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Selasa (15/9).
Widastra hadir bersama warga dalam persiapan pelaksanaan upacara Dewa Yadnya (Odalan) di Pura Dalem Demayu. Tanpa sekat antara aparat dan masyarakat, ia ikut bergotong royong menyiapkan berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan untuk pelaksanaan upacara.
Baca Juga: Tradisi Nyuun Ancak di Desa Kedisan, Dilaksanakan Empat Tahun Sekali
Bagi masyarakat Bali, ngayah bukan sekadar aktivitas membantu menyelesaikan pekerjaan. Di dalamnya terdapat nilai mebraya semangat persaudaraan, kebersamaan, dan gotong royong yang telah diwariskan lintas generasi.
Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai pembina keamanan dan ketertiban masyarakat, Widastra memilih hadir langsung dalam ruang sosial warga. Kehadirannya menjadi gambaran pendekatan Polri yang tidak hanya bertumpu pada aspek keamanan, tetapi juga membangun kedekatan melalui kehidupan masyarakat sehari-hari.
Momentum ngayah itu sekaligus dimanfaatkan Widastra untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas. Ia mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan rasa persaudaraan serta bersama-sama memperhatikan keamanan lingkungan selama seluruh rangkaian upacara berlangsung.
Pesan tersebut disampaikan dalam suasana yang cair, di tengah aktivitas warga mempersiapkan kebutuhan upacara. Pendekatan semacam ini membuat pesan keamanan tidak terasa berjarak, tetapi menjadi bagian dari kebersamaan antara polisi dan masyarakat.
Bagi Desa Singakerta, tradisi mebraya menjadi salah satu kekuatan sosial yang menjaga hubungan antarmasyarakat. Gotong royong dalam kegiatan adat dan keagamaan menjadi ruang perjumpaan warga sekaligus sarana memperkuat solidaritas.
Nilai tersebut juga penting diwariskan kepada generasi muda. Di tengah perubahan zaman, tradisi mebraya menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat Bali tidak hanya dibangun oleh hubungan individual, tetapi juga oleh semangat saling membantu dan menjaga satu sama lain.
Kapolsek Ubud Kompol I Wayan Putra Antara, S.Pd., M.H., seizin Kapolres Gianyar AKBP James I. S. Rajagukguk, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa kehadiran Bhabinkamtibmas dalam kegiatan adat dan keagamaan merupakan bagian dari pelayanan Polri kepada masyarakat.
“Bhabinkamtibmas harus selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya menjaga keamanan, namun juga ikut mendukung dan melestarikan budaya serta tradisi gotong royong atau mebraya yang menjadi warisan leluhur masyarakat Bali,” ujar Kompol I Wayan Putra Antara.
Menurutnya, kebersamaan antara kepolisian dan masyarakat menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. (ade)
Editor : Putu Agus AdegrantikaSumber : humas polres gianyar