BALIEXPRESS.ID – Realisasi pajak air tanah di Kabupaten Bangli hingga September ini masih jauh dari target yang ditetapkan tahun 2026.
Dari target sebesar Rp700 juta, realisasi baru mencapai Rp227,2 juta atau sekitar 32,46 persen.
Kepala Badan Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah (BKPAD) Bangli Putu Agus Muliawan mengatakan, pemungutan pajak air tanah kini mulai diintensifkan. Salah satunya dengan melakukan jemput bola ke wajib pajak.
Baca Juga: Tak Ada Calon Tambahan, Petahana di Tojan Klungkung Berpotensi Lawan Kotak Kosong
“Kemarin kan kekhawatiran orang, kalau dipungut ke rumah-rumah, bukti lunasnya mana kan begitu. Ini kita sudah minta support sistem dari BPD, ketika kita turun sudah bawa sistem BPD, mereka dapat bukti lunas,” ujar Agus.
Menurutnya, rendahnya realisasi bukan semata-mata karena wajib pajak enggan membayar.
Besaran pajak air tanah yang relatif kecil membuat sebagian wajib pajak belum terbiasa melakukan pembayaran secara digital, meski fasilitas pembayaran online telah tersedia.
Baca Juga: Paham Seluk-beluk Tower, Teknisi BTS Diduga Curi Baterai Rp24 Juta di Jembrana
“Besaran air tanah itu kecil-kecil sehingga orang diberi fasilitas pembayaran online dia tidak laksanakan, sehingga kita jemput bola. Bukan karena tidak mau bayar tapi karena belum terbiasa dengan sistem digital, makanya kita jemput bola,” jelasnya.
Selain melakukan penagihan, petugas juga sekaligus melakukan pendataan wajib pajak air tanah di lapangan.
Baca Juga: Armada Pemadam Kebakaran Tak Kunjung Standby di Kintamani, Carles Minta Pemerintah Lebih Peka
Langkah tersebut dilakukan karena masih ada indikasi belum seluruh pengguna air tanah masuk dalam data wajib pajak.
Agus menyebutkan, potensi pajak air tanah cukup banyak terdapat di wilayah Susut. Oleh karena itu, pemungutan akan terus diintensifkan untuk mengejar target Rp700 juta hingga akhir tahun. “Kita upayakan maksimal untuk memenuhi target itu,” katanya.
Sekadar diketahui, realisasi pajak air tanah yang belum optimal bukan hanya terjadi tahun ini.
Pada 2025, realisasi juga hanya mencapai sekitar separuh dari target. “Target tahun lalu juga sama Rp700 juta. Terealisasi separuhnya,” ungkap Agus. (*)
Editor : I Made Mertawan