Pondok Literasi Sabih Pedawa Kolaborasi Internasional dengan Mahasiswa Universitas Waseda Jepang

I Putu Mardika • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 10:46 WIB
Sebanyak 14 mahasiswa Universitas Waseda Jepang bersama seorang dosen pembimbing berkunjung ke Pondok Literasi Sabih dalam rangka kolaborasi internasional. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 19-21 September 2026
Sebanyak 14 mahasiswa Universitas Waseda Jepang bersama seorang dosen pembimbing berkunjung ke Pondok Literasi Sabih dalam rangka kolaborasi internasional. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 19-21 September 2026

BALIEXPRESS.ID-Suasana berbeda terlihat di Pondok Literasi Sabih (PLS), kawasan Sabih, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Anak-anak Pondok Literasi Sabih tidak hanya belajar tentang buku dan budaya lokal, tetapi juga mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari Jepang.

Sebanyak 14 mahasiswa Universitas Waseda Jepang bersama seorang dosen pembimbing berkunjung ke Pondok Literasi Sabih dalam rangka kolaborasi internasional. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 19-21 September 2026. Kolaborasi ini menjadi ruang perjumpaan antara anak-anak Pedawa dengan mahasiswa Jepang untuk saling mengenal budaya, tradisi, lingkungan, serta kehidupan masyarakat masing-masing.

Pendiri Sekolah Adat sekaligus penggerak Pondok Literasi Sabih, Wayan Sadyana, mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi kunjungan mahasiswa asing ke Pedawa. Lebih dari itu, kegiatan dirancang sebagai proses belajar bersama dengan menjadikan budaya lokal sebagai sumber pengetahuan.

“Kolaborasi ini bukan hanya mahasiswa Jepang datang melihat budaya Pedawa. Anak-anak juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal budaya Jepang secara langsung. Jadi ada proses saling belajar dan saling mengenal,” ujar Wayan Sadyana.

Baca Juga: Apresiasi Merchant, BRI Gatot Subroto Gelar Gathering Perkuat Penggunaan EDC dan QRIS

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah presentasi budaya yang dilakukan oleh anak-anak Pondok Literasi Sabih. Seorang anak kelas V sekolah dasar mendapat kesempatan mempresentasikan keberadaan Pondok Literasi Sabih kepada mahasiswa Waseda.

Dalam presentasi tersebut, anak-anak memperkenalkan PLS sebagai ruang belajar berbasis komunitas yang tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi tempat untuk mengenal dan mempertahankan budaya Pedawa.

Kesempatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak. Mereka belajar berbicara di depan orang lain, menjelaskan budaya sendiri, serta berkomunikasi dengan mahasiswa dari negara berbeda.

Menurut Sadyana, kemampuan seperti ini penting dimiliki anak-anak sejak dini. Di tengah perkembangan dunia yang semakin terbuka, kemampuan memahami budaya sendiri dan menghargai budaya orang lain menjadi bekal penting dalam pergaulan internasional.

Baca Juga: Icon Beach Festival 2026 Sukses Guncang Sanur Selama Dua Hari

“Anak-anak harus mengenal budayanya sendiri terlebih dahulu. Setelah itu mereka bisa belajar mengenal budaya lain. Dengan begitu, mereka tidak merasa rendah diri ketika bertemu dengan orang dari negara lain, tetapi juga tidak kehilangan identitasnya,” katanya.

Dalam kolaborasi tersebut, mahasiswa Universitas Waseda juga diajak mengenal sumber-sumber air yang terdapat di wilayah Pedawa. Sumber air tidak hanya diperkenalkan sebagai bagian dari lingkungan alam, tetapi juga dijelaskan keterkaitannya dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Pedawa.

Pengetahuan mengenai sumber air tersebut menjadi bagian dari pembelajaran tentang bagaimana masyarakat lokal membangun hubungan dengan lingkungan. Alam tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial, budaya, dan tradisi masyarakat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan budaya kuliner. Mahasiswa Waseda mendapat kesempatan mengikuti workshop pembuatan senggait. Mereka terlibat langsung dalam proses pembuatan makanan tradisional tersebut.

Suasana belajar pun berlangsung lebih santai. Anak-anak dan mahasiswa Jepang dapat berinteraksi sambil mengenal bahan, proses pembuatan, serta konteks budaya yang melekat pada makanan tradisional masyarakat setempat.

Tidak kalah menarik adalah workshop pembuatan canang dan bunga kojong. Mahasiswa Waseda diperkenalkan dengan salah satu bentuk persembahan sederhana dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga belajar secara langsung mengenai proses pembuatannya. Canang dan bunga kojong kemudian menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana kehidupan masyarakat Bali memiliki hubungan erat antara aktivitas sehari-hari, seni, budaya, dan praktik keagamaan.

Sebaliknya, mahasiswa Waseda juga mendapat kesempatan memperkenalkan budaya Jepang kepada anak-anak Pondok Literasi Sabih. Mereka memperkenalkan permainan fukuwarai dan origami.

Anak-anak PLS tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Origami, misalnya, menjadi media sederhana untuk memperkenalkan kreativitas dan kebudayaan Jepang. Sementara fukuwarai memberikan pengalaman baru bagi anak-anak melalui permainan tradisional Jepang.

Baca Juga: Usulan Penataan Belum Terpenuhi, Dewan Badung Ingatkan Tanjung Benoa Penyumbang PAD

Pertukaran budaya tidak berhenti pada kegiatan di Pondok Literasi. Mahasiswa Waseda juga diajak melihat secara langsung kehidupan masyarakat Desa Pedawa. Mereka berkeliling menikmati alam desa sekaligus belajar mengenai budidaya buah dan budaya pertanian yang berkembang di wilayah tersebut.

Mereka juga berkesempatan mengeksplorasi rumah adat Pedawa, yakni rumah adat Mesegali dan Seridandan yang baru selesai direvitalisasi. Rumah adat tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pedawa.

Mahasiswa juga diperkenalkan dengan kebudayaan gembeng yang saat ini kondisinya hampir punah. Pengenalan tersebut menjadi bagian penting karena mahasiswa tidak hanya diajak melihat budaya yang masih hidup dan berkembang, tetapi juga mengetahui adanya tradisi yang menghadapi tantangan keberlangsungan.

Sadyana mengatakan, perjumpaan seperti ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Pedawa kepada masyarakat internasional sekaligus membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian budaya.

“Budaya yang hampir punah harus diperkenalkan. Kalau anak-anak tidak mengetahui budaya yang ada di desanya, bagaimana mereka bisa ikut mempertahankannya?” ungkapnya.

Kolaborasi tersebut terselenggara melalui kerja sama antara jaringan Ekowisata Desa, Kayoman Pedawa, Pondok Literasi Sabih, serta program Universitas Waseda Jepang yang memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk mengenal budaya dari negara lain.

Bagi Pondok Literasi Sabih, kegiatan bersama Universitas Waseda bukan merupakan kolaborasi internasional pertama. Sebelumnya, PLS telah menjalin kegiatan bersama sejumlah perguruan tinggi dari Jepang, di antaranya Universitas Iwate, Universitas Ohkagakuen dan Universitas Toyo. Kolaborasi juga pernah dilakukan dengan Universitas Murdoch Australia.

Selain perguruan tinggi, Pondok Literasi Sabih juga aktif menerima relawan dan lembaga nonpemerintah dari berbagai negara. Sejumlah relawan dari Jepang, Taiwan, Polandia dan Australia pernah berkunjung dan melakukan kegiatan bersama anak-anak serta masyarakat Pedawa.

Baca Juga: Polwan Berpeluang Pimpin Polri, Konferensi IAWP Diharapkan Jadi Ruang Meningkatkan Kemampuan

Menurut Sadyana, berbagai kegiatan tersebut memiliki satu muara, yakni membangun kemampuan lintas budaya bagi anak-anak Pondok Literasi Sabih dan masyarakat Desa Pedawa secara lebih luas.

“Muara dari semua kolaborasi ini adalah pemahaman lintas budaya. Anak-anak perlu memiliki kemampuan memahami orang lain yang berbeda budaya, bahasa dan kebiasaan. Ini menjadi landasan penting bagi mereka dalam pergaulan internasional sekarang,” jelasnya.

Kolaborasi dengan mahasiswa Universitas Waseda akhirnya tidak sekadar meninggalkan cerita tentang kunjungan mahasiswa Jepang ke Pedawa. Lebih dari itu, perjumpaan selama tiga hari tersebut memperlihatkan bahwa desa dengan kekayaan tradisi lokal dapat menjadi ruang belajar internasional.

Anak-anak Pedawa belajar memperkenalkan identitas budayanya, sementara mahasiswa Jepang mendapatkan pengalaman langsung mengenai kehidupan, tradisi, lingkungan dan masyarakat Bali. Dari perjumpaan sederhana tersebut, pengetahuan bergerak dua arah. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
Pondok Literasi Sabih (PLS) Universitas Waseda Jepang PEDAWA bali aga Banjar