BALIEXPRESS.ID - Pemkot Denpasar melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kini mulai melakukan pengerukan sedimentasi di aliran Tukad Mati, sekitar Jalan Pura Demak, Desa Pemecutan Kelod.
Penataan ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya banjir yang kerap terjadi pada musim hujan.
Dalam pengerukan sedimentasi, dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, bersama sejumlah personel dan alat berat diturunkan untuk mempercepat proses pengerjaan.
Baca Juga: Jadi Penyumbang Pendapatan Terbesar, Kondisi Pasar Kuta II Rusak Parah
Kadis PUPR Denpasar, I Gede Cipta Sudewa mengatakan, pengerukan ini dilakukan lantaran sedimentasi di alur Tukad Mati cukup tinggi.
Dalam penanganan tersebut pengerukan akan dilakukan setidaknya dengan panjang sekitar 200 meter.
Untuk proses pengerjaan dibantu dengan dua alat berat yang masing-masing milik Dinas PUPR dan BWS Bali-Penida.
Baca Juga: Tanah Bersertifikat Sejak 1979 Kena Overlap 1,2 Hektare, Warga Laporkan BPN Karangasem ke Ombudsman
"Ini untuk antisipasi turunnya musim hujan. Lokasinya cukup tinggi sedimentasinya, sehingga kita lakukan pengerukan," ujar Cipta Sudewa, di sela-sela pengerukan Tukad Mati, Selasa (22/9).
Pihaknya menyebutkan, dalam pengerukan tersebut tidak hanya dilakukan dengan alat berat ada juga sejumlah tugas yang disiapkan di lokasi.
Penataan ini juga bersinergi dengan BWS Bali-Penida agar pengerjaan dapat lebih cepat terselesaikan.
Baca Juga: Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI yang Membuka Jalan Akses Finansial di Pulau Seram
“Mudah-mudahan musim hujannya agak panjang untuk turunnya, sehingga ketika kita sudah bersihkan, ada hujan, antisipasi banjir di Pura Demak bisa dikurangi,” ungkapnya.
Sementara Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OPSDA) BWS Bali-Penida, I Wayan Riasa menyatakan, pihaknya kesulitan dalam menurunkan alat berat ke aliran sungai karena minimnya akses.
Dirinya pun mengaku, membuat jalan operasi dan pemeliharaan (OP) sepanjang 2 Km pada dua sisi area hilir Tukad Mati.
Jalan dengan lebar 2 meter tersebut juga dibuat untuk memudahkan operasi dan pemeliharaan.
“Dengan harapan nanti kedepannya kalau memungkinkan ke hulu (sungai) biar sama seperti yang ada di DAM Umadui ke hilir,” ungkap Riasa.
Dirinya pun mengaku, juga menurunkan eskavator amfibi untuk proses penanganan di aliran sungai atau Tukad Badung.
Pengerjaan yang dilakukan yakni menggali senderan sungai yang jebol.
“Itu kita tidak bisa melakukan dengan alat berat yang manual, sehingga kami turunkan amfibi,” imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga