BALIEXPRESS.ID– Kondisi I Gede Selamet, 20, korban dugaan pembakaran oleh bosnya sendiri di wilayah Selat, Karangasem, pada Jumat (18/9) lalu, hingga kini masih memprihatinkan. Pemuda yang mengalami luka bakar mencapai 68 persen itu masih menjalani perawatan intensif di Burn Unit RSUP Prof Dr IGNG Ngoerah Denpasar dan sengaja dibuat tidak sadar oleh tim medis untuk membantu proses pernapasan serta mengurangi rasa sakit.
Kepala ICU, Dr. dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI, Subsp.An.Ped.(K), menjelaskan Selamet tiba di rumah sakit sekitar pukul 19.00 WITA setelah sebelumnya mendapat penanganan awal di Puskesmas Rendang dan kemudian Rumah Sakit Karangasem. "Pasien ini datang tanggal 18, sampai di sini sore, karena proses rujukan. Sebelumnya sempat ke Puskesmas di Rendang, kemudian sudah ditangani first aid-nya di sana. Kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Karangasem," ujar dr. Putu.
Setibanya di rumah sakit, tim medis langsung melakukan sejumlah tindakan, mulai dari membersihkan luka, memberikan cairan hingga mengamankan jalan napas korban. Langkah tersebut dilakukan lantaran dokter mencurigai adanya uap panas atau asap yang terhirup korban saat kejadian. Menurut dr. Putu, kondisi tersebut berisiko menyebabkan pembengkakan pada saluran pernapasan. Karena itu, korban kemudian diintubasi dan dipasangi alat bantu pernapasan.
Lebih lanjut, dokter spesialis bedah plastik Dr. dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, Sp.BP-RE (K) mengatakan dari hasil pemeriksaan, luka bakar yang dialami Selamet ternyata lebih luas dibandingkan perkiraan awal yang disebut sekitar 40 persen. Luka bakar yang dialami kornan mencapai 68 persen dengan kedalaman mulai derajat 2B hingga derajat 3.
Luka bakar yang lebih dari 40 persen disertai dengan adanya trauma inhalasi memiliki resiko kematian lebih dari 300 kali lipat. Luka cukup berat ditemukan pada bagian dada depan yang melingkar hingga ke bagian belakang. "Kami juga berdiskusi dengan dokter anestesi untuk segera dilakukan intubasi untuk secure jalan napasnya," jelas dr. Roy.
Dari pemeriksaan terhadap luka, dokter mendapati kondisi luka cukup dalam. Bahkan, pakaian yang dikenakan korban diduga masih menempel pada tubuh ketika mengalami luka bakar sehingga memperparah kondisi jaringan.
Tim medis kemudian melakukan pencucian dan pembersihan luka, termasuk debridemen untuk mengangkat jaringan yang mengalami kerusakan. Setelah tindakan tersebut, korban tetap dipertahankan menggunakan ventilator. Hingga memasuki hari keempat perawatan, kondisi Selamet disebut belum stabil. Korban masih dalam kondisi sengaja ditidurkan dengan bantuan obat-obatan dari tim anestesi dan belum dapat dibangunkan.
dr. Roy menerangkan, sebelumnya tim medis sempat merencanakan proses penyapihan dari ventilator atau weaning. Namun, hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan masih terdapat kondisi pada paru-paru yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. "Masih ada sisa-sisa jelaga atau asap yang masuk ke dalam paru-paru dan itu masih butuh waktu untuk bisa pasiennya di-weaning," katanya.
Karena itu, penggunaan alat bantu pernapasan masih dipertahankan sambil terus memantau perkembangan kondisi paru-paru korban. Selain persoalan pernapasan, luka bakar yang melingkari bagian dada juga menjadi perhatian serius tim medis. Kondisi tersebut dapat membuat gerakan dada menjadi terbatas sehingga menyulitkan korban bernapas secara normal.
"Jeratan luka bakar itu seperti diikat dengan tali di dada yang membuat pasien sulit bernapas," terang dr. Roy. Perawatan luka akan terus dilakukan secara berkala. Apabila kondisi luka sudah bersih dan tidak terdapat jaringan mati atau eskar, tim medis dapat mempertimbangkan tindakan tandur kulit menggunakan kulit dari bagian tubuh korban sendiri.
Untuk luka bakar seluas 68 persen, tindakan tersebut tidak dapat dilakukan sekaligus. Pengambilan kulit bisa dilakukan secara bertahap, misalnya dari bagian paha, kemudian kembali dilakukan setelah area donor pulih. dr. Roy menyebut jumlah operasi yang diperlukan belum dapat dipastikan karena sangat bergantung pada perkembangan kondisi pasien dan ada atau tidaknya infeksi. Dalam kasus luka bakar yang luas, tindakan medis bahkan dapat berlangsung berbulan-bulan.
"Mudah-mudahan pasien tidak ada infeksi pada hari ke-7, hari ke-8. Kalau memang bisa melalui sampai dua minggu, hari ke-14, bisa 10 sampai 12 kali tindakan operasi," ungkapnya. Ada pula kondisi pasca operasi yang mungkin terjadi kepada pasien selamat biasanya kontraktur leher (tarikan pasca operasi) dan adanya jaringan parut. (ges)
Editor : Wiwin Meliana