BALIEXPRESS.ID– Perselisihan pemanfaatan air Sungai Ijogading di Desa Berangbang, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, berakhir damai.
Tujuh kelompok pengguna air sepakat mengatur ulang distribusi air dengan menerapkan sistem giliran menyusul penurunan debit sungai akibat musim kemarau.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam mediasi yang difasilitasi Perumda Air Minum Tirta Amertha Jati Jembrana di Kantor Desa Berangbang, Jumat (9/10/2026).
Baca Juga: Bukan Laka Lantas, Polisi Usut Kematian Warga Sukawana Kintamani yang Ditemukan Tertindih Motor
Pertemuan dipimpin Direktur Utama PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana I Gede Puriawan bersama Perbekel Berangbang Gusti Putu Supradnya.
Supradnya mengatakan, mediasi dilakukan sebagai langkah antisipasi agar persoalan pemanfaatan air tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Penurunan debit Sungai Ijogading dikhawatirkan mengganggu pasokan air minum bagi warga Desa Berangbang dan Kelurahan Baler Bale Agung.
Baca Juga: BNI Hadirkan Promo dan Kemudahan Transaksi di MotoGP Mandalika 2026
“Hari ini pertemuan untuk antisipasi agar masalah tidak makin berkembang. Antisipasi dilakukan dengan dimediasi atau difasilitasi oleh PDAM,” ujarnya.
Menurut Supradnya, terdapat tujuh kelompok yang memanfaatkan sumber air tersebut.
Baca Juga: Hanya Menunggu 4 Hari, Layanan Pengukuran Pertanahan Lebih Terukur, Teratur, dan Pasti
Empat kelompok berada di wilayah Desa Berangbang, di luar BUMDes, sedangkan kelompok lainnya berada di wilayah Kelurahan Baler Bale Agung, tepatnya di Pancardaya.
Penyusutan debit air saat musim kemarau membuat penggunaan jaringan pipa berdiameter besar oleh kelompok-kelompok tersebut turut memengaruhi distribusi air.
Selain itu, terdapat warga yang memasang pipa berukuran satu inci untuk memenuhi kebutuhan air minum secara mandiri. Kondisi tersebut sempat memicu miskomunikasi di lapangan.
Dari sisi jumlah pengguna, BUMDes Berangbang mencatat sekitar 705 kepala keluarga (KK) sebagai anggotanya. Jumlah tersebut belum termasuk ratusan KK dari kelompok pengguna lainnya serta sekitar 100 pelanggan PDAM.
“Kalau total pengguna sumber air itu mencapai lebih dari 1.000 KK,” tambahnya.
Melalui kesepakatan mediasi, kelompok pengguna air yang berada di sisi utara akan membagikan sebagian pasokan kepada kelompok lainnya.
Jika distribusi tersebut masih belum mencukupi, terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumen BUMDes, kelompok-kelompok pengguna akan memberikan giliran tambahan pada malam hari.
Supradnya menegaskan, seluruh pihak telah menyepakati pengaturan ulang distribusi air tersebut agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah keterbatasan debit sungai.
“Pada prinsipnya tidak ada masalah, satu kesepakatan, jadi akan diatur ulang. Ada giliran. Bukan saja digilir, tetapi ada kebijakan yang luar biasa dari kelompok yang lebih di utara, itu nanti akan dibagi airnya. Ketika dipandang belum mencukupi terutama oleh konsumen BUMDes, ini akan digilir lagi malam harinya,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana I Gede Puriawan menekankan pentingnya komunikasi antarpengguna air untuk mencegah konflik, terutama saat musim kemarau.
Sesuai arahan Bupati Jembrana, pihaknya rutin turun ke masyarakat untuk menjelaskan kondisi sumber air dan pelayanan distribusi.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya ego sektoral dalam pemanfaatan air.
Puriawan menjelaskan, hampir seluruh sumber air permukaan mengalami penurunan debit, mulai dari aliran sungai hingga air baku di bendungan.
Kondisi itu berdampak langsung terhadap pelayanan PDAM, khususnya tekanan air yang diterima pelanggan.
“Jadi hampir semua hulu air permukaan, khususnya air sungai, termasuk juga air baku di bendungan, semua mengalami penurunan debit. Ini sangat memengaruhi pelayanan kita, terutama tekanan yang sampai ke pelanggan,” kata Puriawan.
Di sisi lain, kebutuhan air masyarakat justru meningkat, terutama pada jam-jam puncak. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air juga digunakan untuk menyiram tanaman.
Menurut Puriawan, PDAM masih memiliki idle capacity atau kapasitas cadangan yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Penggunaan cadangan secara berlebihan berpotensi mengurangi ruang kapasitas yang tersedia untuk menjaga pelayanan.
Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak selama musim kemarau, memeriksa jaringan pipa untuk memastikan tidak ada kebocoran, serta menghentikan sementara penggunaan air yang tidak mendesak.
Sebagai upaya membantu warga terdampak kekeringan, PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana menyalurkan sekitar empat hingga lima tangki air setiap hari. Setiap tangki berkapasitas empat meter kubik atau setara 4.000 liter.
Air tersebut diambil oleh PMI, BPBD, serta unsur TNI-Polri untuk kemudian didistribusikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.
Penyaluran tersebut dicatat sebagai non-revenue water (NRW) atau air tak berekening. (*)
Editor : I Made Mertawan