22 Perupa Bebaskan Imajinasi di Ubud, “Beauty In Freedom”

Putu Agus Adegrantika • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:55 WIB
Seniman
Seniman

BALIEXPRESS.ID - Puluhan burung terbang ke alam bebas, mengiringi pembukaan pameran seni rupa Beauty In Freedom di Monkey Forest Art Gallery, Ubud, Gianyar, Rabu (14/10) sore. Pelepasan burung tersebut menjadi simbol kebebasan yang sekaligus merepresentasikan semangat 22 perupa Komunitas Insan Perupa Bali dalam mengekspresikan gagasan melalui karya seni.

Pameran yang berlangsung hingga 14 November 2026 ini tidak sekadar menjadi ruang untuk memajang lukisan. Lebih dari itu, perhelatan tersebut menjadi panggung bagi para perupa untuk menunjukkan karakter, mengeksplorasi medium, sekaligus membangun ekosistem seni rupa yang terus tumbuh di Bali.

Di tengah kuatnya citra Ubud sebagai destinasi pariwisata dan pusat seni budaya, kehadiran pameran ini memperlihatkan bahwa kreativitas para seniman lokal terus bergerak. Mereka menghadirkan beragam karya dengan pendekatan artistik yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu semangat: kebebasan berekspresi.

Ketua Komunitas Insan Perupa Bali, Ketut Ardana Maiyana, mengatakan komunitas tersebut lahir dari antusiasme para perupa yang ingin berhimpun dalam sebuah wadah bersama. Melalui komunitas ini, mereka tidak hanya ingin berkarya, tetapi juga belajar, saling bertukar pengalaman, dan meningkatkan kemampuan.

“Komunitas ini lahir karena teman-teman perupa sangat antusias ingin menghimpun diri dalam sebuah wadah. Adapun visi dan misi utama yang menyatukan kami di Insan Perupa Bali adalah keinginan kuat untuk terus belajar bersama, mengembangkan kapasitas, sekaligus melestarikan kesenian, khususnya pada ranah seni lukis dan karya-karya dua dimensi lainnya,” ungkap Ardana Maiyana.

Perupa asal Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, itu menjelaskan, tema Beauty In Freedom dipilih untuk mencerminkan ruang kebebasan yang diberikan kepada setiap anggota. Tidak ada tuntutan untuk menyeragamkan gaya. Sebaliknya, setiap seniman didorong menampilkan identitas dan karakter artistiknya masing-masing.

Prinsip tersebut terasa dalam ragam karya yang dipamerkan. Pengunjung dapat menikmati lukisan bergaya impresionis yang menonjolkan permainan cahaya dan kesan visual, karya naturalis yang mengangkat keindahan alam, hingga lukisan dekoratif dengan komposisi presisi serta permainan warna yang berani.

Perbedaan pendekatan itu menjadi daya tarik tersendiri. Setiap kanvas seolah menyampaikan bahasa visual yang berbeda, memperlihatkan bagaimana satu ruang pamer dapat menampung beragam cara pandang dan interpretasi terhadap keindahan.

Eksplorasi para perupa juga tidak berhenti pada medium kanvas. Herman Kimong menghadirkan karya seni instalasi dengan memanfaatkan material kayu, batu, dan besi. Perpaduan material tersebut memperluas pengalaman menikmati seni, sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas dapat melampaui batas-batas medium konvensional.

Eksperimen berbeda ditampilkan Sang Made Budiasa, perupa asal Banjar Silungan, Desa Lodtunduh, Ubud. Ia menghadirkan lukisan menggunakan teknik bakar di atas kanvas, sebuah pendekatan yang memberikan alternatif dalam proses penciptaan karya seni rupa.

Kehadiran kedua karya tersebut memperlihatkan bahwa kebebasan dalam pameran ini bukan semata-mata tentang perbedaan gaya lukisan, melainkan juga keberanian mengeksplorasi material dan teknik. Seni menjadi ruang terbuka bagi setiap perupa untuk menemukan kemungkinan baru dalam berkarya.

Sebanyak 22 perupa yang terlibat dalam pameran ini adalah A Maiyana, Md Teresna, Wy Sudirta, Suartana, Kesuma T, Agung Adi, Ardika, Dw Ardana, GN Wijana, Kesuma Jaya, Wy Merta, SM Budiasa, Wy Sudiarta, Wy Artana, Artha Wijaya, Md Tinggal, Md Warjana, Kt Subarya, Gst Astawa, Herman K, Md Saryana, dan Sudarsana.

Bagi komunitas ini, pameran bukan hanya kesempatan untuk memperkenalkan karya kepada publik. Pertemuan karya dalam satu ruang juga menjadi sarana evaluasi, tempat para seniman melihat perkembangan masing-masing sekaligus memetik pelajaran dari karya rekan sesama perupa.

Ardana Maiyana berharap kegiatan pameran dapat digelar secara reguler sehingga anggota komunitas memiliki kesempatan berkelanjutan untuk menguji gagasan dan meningkatkan kualitas karya.

“Harapan kami ke depan, kehadiran komunitas ini benar-benar bisa memacu peningkatan kualitas karya. Dengan adanya wadah gelar pameran secara reguler seperti ini, kami memiliki ruang evaluasi untuk menantang diri kami sendiri. Sehingga pada akhirnya, perupa-perupa di komunitas ini siap memperkenalkan karya mereka lebih jauh lagi di berbagai ruang seni, kesempatan, dan pameran bergengsi lainnya,” ujarnya.

Harapan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya ruang apresiasi bagi keberlangsungan seni rupa. Melalui pameran, para perupa dapat membangun dialog dengan pengunjung, memperoleh perspektif baru, dan memperluas jangkauan karya mereka.

Penyelenggara pun mengundang masyarakat luas, penikmat seni, serta wisatawan yang sedang berkunjung ke Ubud untuk menyaksikan pameran Beauty In Freedom di Monkey Forest Art Gallery hingga 14 November 2026.

Di tengah dinamika pariwisata Ubud, pameran ini menjadi pengingat bahwa seni tidak hanya hadir sebagai daya tarik destinasi, tetapi juga tumbuh dari semangat komunitas yang terus belajar dan berproses. Melalui kebebasan berekspresi, 22 perupa Insan Perupa Bali merawat keberagaman sekaligus membuka ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan artistik baru.(ade)

Editor : Putu Agus Adegrantika
Sumber : adegrantika
ubud seniman armada