BALIEXPRESS.ID- Antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Tabanan membawa dampak terdahap aktivitas nelayan setempat.
SPBU yang ditunjuk sebagai rekanan resmi sebagai penyedia untuk mendukung aktivitas melaut para nelayan tidak dapat melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM).
Ketua Paguyuban Nelayan Bali Ketut Arsana Yasa, ketika dikonfirmasi menyatakan kekecewaannya terhadap kondisi ini.
Baca Juga: Discovery Kartika Plaza Hotel dan Discovery Mall Bali Rayakan Hari Jadi di KUTAKITA Sundown Yard
Pihak SPBU yang sudah menjadi rekanan para nelayan di Kabupaten Tabanan menolak pengisian BBM jenis Pertalite ataupun Pertamax dalam wadah mesin tempel milik nelayan.
“Saya sangat kecewa dengan SPBU yang sudah menjadi rekanan, mereka menolak para nelayan untuk membeli BBM yang akan digunakan sebagai bahan bakar pada mesin tempelnya,” jelasnya Jumat (16/10/2026).
Akibat penolakan ini, menurut Arsana Yasa, nelayan di Kabupaten Tabanan berpotensi mengalami kerugian, pasalnya saat ini di kawasan perairan pesisir selatan Tabanan sedang memasuki musim lobster, namun karena kondisi ini, aktivitas nelayan menjadi terhambat.
Baca Juga: Atlet Savate Jembrana Juara Umum Kejurprov Bali 2026, Sabet 12 Medali Emas
Dilanjutkannya, petugas SPBU menolak pengisian dengan dalih menjalankan larangan pembelian menggunakan jerigen, padahal wadah berkapasitas 24 liter tersebut merupakan tangki resmi mesin tempel perahu yang terjamin keamanannya.
“Saya sempat marah-marah di SPBU karena nelayan tidak dilayani membeli BBM dengan alasan tidak melayani pembelian dengan menggunakan jerigen. Padahal itu tangki mesin bukan jerigen. Sudah direkomendasi keamanannya,” tegas Arsana Yasa.
Baca Juga: PSABB IAHN Mpu Kuturan Raih Dua Juara Pertama di Ajang Imbasadi 2026
Arsana Yasa menerangkan, pembelian BBM menggunakan tangki mesin tempel di SPBU umum sudah sesuai dengan prosedur operasional baku. Pasalnya, di Tabanan hingga kini belum memiliki fasilitas SPBU khusus nelayan.
“Satu wadah tangki berkapasitas 24 liter tersebut sangat krusial karena menjadi modal utama nelayan untuk melaut mencari lobster maupun memancing hingga ke perairan tengah, situasi ini membuat potensi pendapatan besar dari hasil laut terbuang sia-sia,” tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan