Antrean BBM Perpanjang Jam Operasional TMD, Sopir Bisa Pulang Pukul 03.00

Rika Riyanti • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 16:47 WIB
Antrean pembelian BBM di SPBU Jalan Nangka Utara, Denpasar, Rabu (14/10). (Agung Bayu/Bali Express)
Antrean pembelian BBM di SPBU Jalan Nangka Utara, Denpasar, Rabu (14/10). (Agung Bayu/Bali Express)

 

BALIEXPRESS.ID – Antrean bahan bakar minyak (BBM) di kawasan Sarbagita membuat operasional Trans Metro Dewata (TMD) berlangsung lebih lama dari biasanya.

Keterlambatan pengisian BBM menggeser jadwal keberangkatan bus, memperpanjang jam kerja pengemudi hingga pukul 03.00 dini hari, serta menambah beban biaya lembur operator.

Manajer TMD, Ida Bagus Eka Budi, mengatakan gangguan jadwal mulai terjadi sejak Selasa (13/10).

Meski jumlah armada yang beroperasi tetap dipertahankan, keterlambatan kedatangan bus membuat jadwal perjalanan berikutnya ikut terdampak.

Baca Juga: Dokter Internasional di Bali Bahas Strategi Kombinasi Perawatan Estetika Wajah

"Mau enggak mau nambah (jam operasional), karena jam 10.00 aja belum tentu datang mobilnya. Yang harusnya berangkat jam 09.00, dia berangkat jam 10.00," kata Budi.

Pergeseran jadwal tersebut membuat sebagian pengemudi harus menyelesaikan pekerjaan jauh melewati waktu operasional normal.

Ada sopir yang baru bisa pulang sekitar pukul 01.00 dini hari.

Bahkan, sejumlah armada baru tiba di pool atau mengakhiri operasional sekitar pukul 03.00.

Budi mengingatkan, kondisi ini berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan personel apabila terus berlanjut.

Jam kerja yang semakin panjang dapat memicu kelelahan, terutama bagi pengemudi yang harus tetap berkonsentrasi selama perjalanan.

Dampak lainnya terlihat pada pengeluaran operator. Perpanjangan jam kerja membuat biaya lembur tidak dapat dihindari.

Tambahan biaya tersebut ditanggung manajemen operator sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pekerja, meskipun tidak tercakup dalam anggaran operasional reguler.

Selain persoalan pasokan BBM, kemacetan lalu lintas juga menghambat kelancaran layanan TMD.

Baca Juga: BRI Raih 2 Penghargaan BIFA 2026, Hery Gunardi Dinobatkan Best CEO Transformasi Ekosistem UMKM

Bus membutuhkan waktu lebih lama untuk menempuh perjalanan sehingga frekuensi keberangkatan ikut terpengaruh.

Sementara itu, apabila ada armada yang mengalami gangguan di jalan, proses penanganannya turut memakan waktu karena harus menunggu bantuan dari unit TMD lainnya.

Di tengah berbagai kendala tersebut, jumlah penumpang TMD justru meningkat sekitar 15 persen.

Kenaikan ini diperkirakan berkaitan dengan peralihan sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar jalur layanan ke transportasi publik untuk menghindari antrean panjang di SPBU.

Baca Juga: Ramadhipa Jaga Peluang Papan Atas Moto3 Junior di Misano

Peningkatan jumlah pengguna tersebut menjadi peluang bagi pengembangan angkutan massal di Bali.

Namun, operator menilai pertumbuhan permintaan perlu diimbangi dengan dukungan pemerintah melalui penyediaan sarana yang lebih memadai dan penambahan armada secara berkelanjutan, sehingga layanan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa menambah tekanan berlebihan terhadap operasional.(***)

Editor : Rika Riyanti
bali bbm Trans Metro Dewata antre