BALIEXPRESS.ID – Menindaklanjuti instruksi Bupati Bangli untuk mewujudkan sekolah ramah disleksia di seluruh sekolah di Kabupaten Bangli, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bangli bersama Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGMP BK) menyelenggarakan pelatihan identifikasi awal anak berisiko disleksia melalui screening test dan penerapan structured reading untuk membantu siswa belajar membaca. Kegiatan ini dilaksanakan di SMP Negeri 6 Kintamani dan diikuti oleh 30 guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang bertugas di SMP se-Kabupaten Bangli.
Pelatihan ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kesiapan sekolah dalam mengenali kebutuhan belajar siswa dan memberikan dukungan yang tepat bagi anak yang mengalami kesulitan membaca. Melalui kegiatan ini, guru BK dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis untuk melakukan identifikasi awal anak berisiko disleksia serta menerapkan pendekatan pembelajaran membaca yang terstruktur, sistematis, dan ramah terhadap kebutuhan belajar siswa.
Dalam sambutannya, Kepala Disdikpora Kabupaten Bangli, Komang Pariartha, S.H., M.M., menekankan pentingnya upaya pencegahan dan kesiapsiagaan guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus, termasuk anak berisiko disleksia.
Menurutnya, sekolah perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai agar mampu mengenali kebutuhan siswa sejak dini dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan karakteristik masing-masing peserta didik.
Baca Juga: Wisuda 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan, De Gadjah: Jangan Hanya Cari Kerja, Ciptakan Peluang
Kesiapan guru menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif. Dengan pemahaman yang tepat, kesulitan belajar yang dialami siswa diharapkan dapat dikenali lebih awal sehingga sekolah dapat menentukan bentuk dukungan dan tindak lanjut pembelajaran yang sesuai.
Kepala SMP Negeri 6 Kintamani, sebagai tuan rumah kegiatan sekaligus salah satu inisiator pengembangan sekolah ramah disleksia di Kabupaten Bangli, menyampaikan kesiapan sekolahnya untuk berkolaborasi dengan sekolah-sekolah lain.
Ia berharap pelatihan ini tidak hanya menjadi sarana peningkatan kompetensi guru, tetapi juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan praktik baik dalam mendampingi siswa yang mengalami kesulitan membaca.
Pelatihan menghadirkan I Ketut Trika Adi Ana, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber. Materi difokuskan pada penguasaan pendekatan structured reading yang dipadukan dengan praktik langsung penyusunan materi bacaan ramah disleksia. Peserta juga mengikuti simulasi penggunaan screening test untuk membantu mengidentifikasi siswa yang menunjukkan karakteristik risiko disleksia.
Dalam sesi praktik, guru diperkenalkan pada prinsip penyusunan bacaan yang lebih mudah diakses oleh siswa dengan kesulitan membaca. Pendekatan structured reading menekankan pembelajaran yang terstruktur, bertahap, eksplisit, dan sistematis sehingga siswa memperoleh kesempatan untuk membangun keterampilan membaca sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Guru juga diajak memahami bahwa hasil skrining merupakan langkah identifikasi awal, bukan diagnosis disleksia, sehingga diperlukan pengamatan lebih lanjut dan tindak lanjut yang tepat.
Trika Adi Ana menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan bukan sekadar meningkatkan kemampuan guru menggunakan instrumen skrining atau menerapkan teknik membaca, tetapi juga membangun cara pandang yang lebih positif terhadap anak yang mengalami kesulitan belajar.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap guru-guru dapat melakukan identifikasi awal dengan lebih tepat, memberikan dukungan pembelajaran yang sesuai, dan menghindari pemberian label negatif kepada anak berisiko disleksia. Kesulitan membaca tidak seharusnya menjadi alasan bagi anak untuk merasa rendah diri atau kehilangan kesempatan belajar. Sebaliknya, guru perlu memahami kebutuhan anak dan membantu mereka berkembang melalui pendekatan yang tepat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa sekolah ramah disleksia tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan skrining semata. Upaya tersebut perlu dilanjutkan dengan strategi pembelajaran yang sesuai, pemantauan perkembangan siswa, serta kolaborasi antara guru, sekolah, orang tua, dan pihak terkait.
Baca Juga: Wamenag Dorong IAHN Mpu Kuturan Perkuat Integritas dan Kualitas Lulusan
Melalui pelatihan ini, Disdikpora Kabupaten Bangli bersama MGMP BK berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di sekolah masing-masing serta membagikan praktik baik kepada rekan guru lainnya. Langkah ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun lingkungan pendidikan yang lebih inklusif di Kabupaten Bangli.
Sejalan dengan instruksi Bupati Bangli, penguatan kapasitas guru menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan sekolah ramah disleksia di seluruh wilayah Bangli. Dengan meningkatnya kemampuan guru dalam mengenali risiko disleksia dan memberikan dukungan pembelajaran yang tepat, setiap anak diharapkan memperoleh kesempatan yang lebih setara untuk belajar, berkembang, dan mencapai potensinya. (dik)
Editor : I Putu Mardika