TABANAN, BALI EXPRESS - Kulkul atau kentongan merupakan alat komunikasi tradisional masyarakat Bali yang umumnya terbuat dari kayu dan bambu dan merupakan benda peninggalan leluhur. Di sejumlah tempat, kulkul bahkan disakralkan.
Salah satu warga di Banjar Batugaing Kaja, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, bisa dikatakan piawai membuat kulkul. Dia adalah I Made Adhi Susila. Awal mula dirinya belajar membuat kulkul adalah karena kecintaannya terhadap budaya tradisi Bali yang sangat luhur. Namun generasi muda jarang atau malah tidak ada yang mau menekuni dan meneruskan tata cara pembuatan kulkul tersebut, terlebih literasi tata cara pembuatan sangat terbatas.
Selama ini, dirinya pun belajar membuat kulkul dengan belajar dari tetua-tetua yang pernah membuat kulkul secara otodidak, mulai dari tata cara, pemilihan bahan, dan sebagainya. Sampai akhirnya dia bisa membuat hasil karya perdana. "Meskipun begitu, sampai saat ini saya terus belajar dan belajar," ujarnya Selasa (27/4).
Kini profesi pembuatan kulkul telah ia tekuni selama 21 tahun namun ia mengaku terus belajar. Menurutnya kayu yang bagus sebagai bahan kulkul sesuai yang ia pelajari dari para tetua adalah tingkat utama, wit sidaguri/silaguri, tingkat madya, wit kapurancak/camplung, dan nista, wit intaran gading/pandan. "Masyarakat sering salah paham, disamakan dengan kayu intaran, padahal bukan kayu intaran yang dimaksud dan nangka," imbuhnya.
Untuk pemilihan kayu, kata dia, diusahakan mendapatkan bahan baku yang agak 'mapah biu' karena akan lebih bagus resonansi suaranya atau bisa juga yang lurus, yang batangnya tidak berisi soca useran atau bekas cabang karena akan mempengaruhi resonansi suara.
Selanjutnya bahan baku yang sudah dipotong sesuai ukuran harus dikeringkan secara alami dengan cara dianginkan dan tidak boleh dijemur minimal 5 tahun agar kadar airnya hilang dan pori-pori seratnya sangat rapat. Kalau bahan masih mentah dibuat kulkul jadi, maka saat digantung di bale kulkul, kena angin dan sinar, dalam jangka waktu 7 bulan suaranya akan berubah menjadi enek atau betu. "Kalau sudah begitu diperbaiki suaranya pun susah," lanjutnya.
Di samping itu dalam pembuatan kulkul diperlukan hari baik atau Dewasa Ayu. Yakni awal pembuatan kulkul atau ngecek taru hari baiknya adalah pada Wraspati Pon Wuku Wariga, karena pada hari itu saja berisi Kala Geger yang dipercayai oleh leluhur tetua sebagai hari baik membuat kulkul. "Untuk sikut pembuatan kulkulnya ada tersendiri, termasuk pangurip yang dipakai berbeda antara kulkul untuk di kahyangan, di bale banjar, dan di pakubonan," paparnya.
Sebagaimana kulkul di Bali dianggap benda yang sakral, maka diperlukan banten yang dihaturkan sebelum melakukan pembuatan kulkul yakni berupa pejati. Dimana yang distanakan adalah Sanghyang Iswara, juga Sang Kala Geger, termasuk saat pembuatannya apakah kulkul lanang atau kulkul wadon atau keduanya ; Sang Kala Gentar & Sang Kala Genter.
Namun selama ini dia hanya mampu memenuhi pembuatan kulkul dan kentungan untuk wilayah Tabanan, karena terkendala bahan baku yang sulit didapatkan. "Dan terkadang pesanan mendadak tidak bisa dipenuhi karena pertimbangan bahan baku yang belum kering karena proses pembuatannya cukup lama," tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna