BALI EXPRESS - Gianyar sebagai salah satu kabupaten di Bali, tak hanya dikenal dengan seni dan budaya. Tapi, terdapat banyak mata air yang disucikan masyarakat yang biasa menjadi tempat melukat (tempat menyucikan diri bagi umat Hindu di Bali). Salah satunya Pancoran Sudamala, yang berada di areal Candi Tebing, situs purbakala di aliran Tukad Pakerisan.
Berlokasi di wilayah Desa Pakraman Tegallinggah, Bedulu, Pancoran Sudamala sebenarnya tak begitu sulit dicari, karena cukup ditempuh dalam waktu 15 menit dari Kota Gianyar. Namun, untuk sampai ke lokasi, tetap membutuhkan tenaga ekstra, lantaran harus menuruni ratusan anak tangga, dari areal parkir objek wisata Candi Tebing.
I Wayan Biata, Bendesa Pakraman Tegallinggah kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin, mengungkapkan, areal Pancoran Sudamala masih berada dalam areal Situs Purbakala Candi Tebing. Meski begitu, dia enggan untuk membeber bagaimana sejarah Candi Tebing, dan sebatas menuturkan bagaimana Pancoran Sudamala tersebut hingga disucikan masyarakat setempat.
“Kalau sejarah Candi Tebing, sepertinya saya kurang pantas untuk menjelaskan. Tapi, lebih pas jika ditanyakan langsung ke bagian purbakala. Karena Candi Tebing itu masuk dalam situs purbakala. Tapi, untuk Pancoran Sudamala, saya akan coba jelaskan sedikit,” ucapnya mengawali.
Secara umum kapan mulai munculnya pancoran ini, memang tidak ada yang mengetahuinya. Termasuk para tetua yang ada di desa tersebut. Lantaran menurut Biata, dari cerita-cerita para panglingsir di Tegallinggah, pancoran tersebut sudah ada seperti yang terlihat sekarang.
“Dari dulu memang sudah ada begitu. Bahkan, para orang tua di sini, mendapati memang sudah seperti itu. Jadi, kapan pertama kali keluar, juga tidak ada yang tahu,” terangnya. Sedangkan untuk fungsinya sebagai tempat malukat. Biata menjelaskan, hal tersebut memang sudah berlangsung secara turun-temurun. Bedanya, saat ini mereka yang malukat tak hanya berasal dari wilayah Tegallinggah saja, tapi juga dari luar daerah.
“Sebenarnya untuk Pancoran Sudamala ini, juga menjadi tempat untuk pasiraman. Artinya, kalau ada ngening di Pura Puncak Manik yang merupakan sungsungan Desa Pakraman Tegallinggah, maka pasti akan ke pancoran tersebut. Ya semacam pasiraman ida bhatara,” bebernya.
“Cuma jika Anda sempat kesana, memang areal di situ sudah berubah. Kalau dulu masih banyak semak-semak, sekarang sudah ditata, dan jalannya juga sudah lebih bagus,” bebernya.
Disinggung mengenai banyaknya cerita yang berkembang di masyartakat mengenai keberadaan Pancoran Sudamala dan kawasan Candi Tebing pada umumnya, Biata mengaku tidak pernah mengalami kejadian-kejadian mistis di tempat tersebut. Tapi, kalau keyakinan masyarakat yang mengatakan areal Candi Tebing dan Pancoran Sudamala tenget, dia tak menampiknya.
“Kalau cerita-cerita saya sih tak pernah mengalaminya langsung. Yang jelas tempat itu memang disucikan dan dikeramatkan, serta dipakai ketika piodalan, terutama di Pura Puncak Manik. Selain itu, banyak yang malukat, tak hanya dari desa kami, dari luar juga banyak,” bebernya. Biasanya yang ramai itu, lanjutnya, saat Banyupinaruh, serta saat Purnama dan Tilem .
Lantas, adakah keyakinan jika malukat di Pancoran Sudamala tersebut bisa memberikan manfaat secara medis, seperti bisa menyembuhkan suatu penyakit? “Kalau itu sih tak ada. Cuma yang malukat tergantung dengan kepentingannya apa. Mungkin mereka dapat pawisik (petunjuk) mesti malukat ke Pancoran Sudamala, tapi spesifik untuk pengobatan tak ada,” pungkasnya.
Sementara itu, Made Suasta, mantan juru rawat situs Candi Tebing mengungkapkan, jika sejarah candi ini memang masih abu-abu. Namun, terkait dengan cerita-cerita yang muncul di kawasan situs purbakala dan Pancoran Sudamala ini sangat banyak di masyarakat. Bahkan, beberapa kali pula dia mengalami kejadian aneh di areal tersebut, saat masih rutin membersihkan situs-situs seperti candi dan ceruk di areal itu.
“Kalau sejarah secara arkeologi, katanya memang masih abu-abu, itu kata arkeolog yang saya tahu. Tapi , seperti apa aura dan kejadian-kejadian di luar nalar yang terjadi di sana, beberapa saya tahu,” ucapnya. Salah satunya mengenai mahluk halus yang banyak menghuni kawasan tersebut. Bahkan, beberapa tahun lalu, ketika dia tengah melakukan pembersihan areal situs purbakala itu, pria aseli Tegallinggah ini mengalaminya langsung.
“Kejadiannya itu saat saya tengah membersihkan ceruk-ceruk yang ada di sisi Selatan. Tiba-tiba saja terdengar suara orang ramai. Saat itu saya kira ada warga yang sedang mandi atau malukat di pancoran. Tapi, beberapa saat kemudian, saat saya tengok suara ramai itu langsung hilang, dan kondisi di areal pancoran tidak ada orang sama sekali,” ceritanya. Namun ketika itu, dia belum ngeh mengenai kejadian aneh itu, hingga dia kembali beraktivitas. Tapi tak berselang lama, suara orang-orang kembali ramai dia dengar, dan lagi-lagi dia mendekati areal pancoran.
“Namun sama saja, tak ada orang sama sekali. Ketika itu saya baru ngeh dan merasa takut, apalagi saat saya menengok ke areal pancoran, satu gencet buah kelapa jatuh. Saya pun langsung lari ke atas,” sambungnya. Selain keyakinan tengetnya kawasan tersebut, di areal itu juga diyakini dihuni seorang perempuan cantik, dan cerita itu pun cukup banyak diketahui warga setempat.
“Banyak cerita mistis sebenarnya di areal tersebut. Karena aura di sana masih sangat kuat,” paparnya. Sedangkan terkait dengan keberadaan Pancoran Sudamala, dikatakan pria yang kini berdinas di Museum Purbakala ini, memang sudah dari dulu dikenal sebagai tempat untuk malukat. Bahkan, Pancoran Sudamala ini sudah dikenal secara turun-temurun oleh warga setempat.
“Dari dulu memang sudah dikenal oleh masyarakat. Makanya, setiap Banyupinaruh, pasti ramai yang malukat. Bahkan sekarang, banyak juga warga luar yang datang untuk malukat ke Pancoran Sudamala tersebut,” pungkasnya.
Sementara itu, menurut salah seorang warga, meski kawasan ini dikenal tenget dan disucikan masyarakat setempat, namun lokasi Candi Tebing ternyata menyimpan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, termasuk mereka yang hendak melakukan foto prawedding. Terlebih keberadaan jembatan yang menghubungkan tepi kanan dan kiri Tukad Pakerisan memberikan panorama bagaimana asrinya alam daerah tersebut, dan keindahan dari tebing dengan candi dan ceruk yang ada di sisi kiri dan kanan tebing. “Sekarang tak hanya yang malukat yang banyak datang ke sini. Beberapa kali juga ada pasangan yang melakukan foto prawedding di tempat ini. Bahkan, mereka banyak yang berasal dari luar Gianyar. Katanya tempat yang paling bagus itu di atas jembatan dengan latar tebing,” ucap seorang warga.
Editor : I Putu Suyatra