BALI EXPRESS, SINGARAJA -Sejak beberapa hari terakhir, pengguna media sosial khususnya Facebook di Bali sedang dimabukkan dengan keberadaan sebuah aplikasi id.testony.com. Aplikasi ini tak seperti aplikasi pada umumnya, lantaran menggunakan Bahasa Bali sebagai media penyampaiannya.
Para netizen yang memiliki akun facebook pun mencoba berbagai pertanyaan yang jawabannya cukup mengejutkan. Mereka melakukan semacam tes online yang berkaitan dengan jodoh, masa depan, pekerjaan, serta hal-hal privasi lainnya. Setelah hasilnya diperoleh, pemilik akun langsung bisa membagikannya. Namun tak sedikit juga jawaban yang didapat para netizen dari test online tersebut bahasanya tergolong kasar serta berkonten pornografi.
Hal inilah yang mendapat sorotan dari Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa. Menurutnya hasil tes yang menggunakan Bahasa Bali yang tergolong dalam tingkatan Bahasa Bali kepara (biasa dalam keseharian, Red) memang jika dilihat dari sisi positifnya bisa dikatakan bagus, karena bisa meningkatkan penggunaan Bahasa Bali dalam kesehariannya.
Namun mengingat adanya bahasa yang tak layak dan cenderung berkonten porno inilah yang membuatnya khawatir, karena dianggap kebablasan. Pihaknya pun melayangkan somasi secara terbuka melalui akun Facebooknya agar aplikasi id.testony.com tersebut secepatnya dihapus karena dianggap tidak pantas dikonsumsi oleh generasi muda.
“Yang saya somasi itu kan yang berkonten porno. Karena tidak pantas dikonsumsi semua kalangan. Saya selaku generasi muda Bali yang peduli terhadap keberadaan dan eksistensi Bahasa Bali meminta kepada akun-akun pribadi pembuat aplikasi online yang berkonten tidak pantas di laman id.testony.com agar menghapus "tes online" yang telah dibuatnya itu, dan agar tidak lagi membuat tes online yang berkonten tak layak,” ujar Suka kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (12/7) kemarin.
Suka menuturkan setelah dirinya mensomasi secara terbuka melalui akun Facebooknya yang ia lakukan Selasa (11/7) malam lalu, justru banyak pihak yang menghujat balik dirinya karena melayangkan somasi tersebut. Dikatakan Suka, dirinya dianggap netizen terlalu berlebihan menanggapi aplikasi tersebut lantaran hanya sebuah lelucon. Namun pihaknya tetap bersikukuh memegang prinsip dan idealisme untuk sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan Bahasa Bali. Bahkan ia menilai bisa saja Bahasa Bali kehilangan taksunya jika menggunakan Bahasa Bali tidak pada tempatnya.
“Setelah saya mensomasi justru banyak yang menghujat saya karena dianggap berlebihan menanggapi konten tersebut. Karena katanya itu sesuatu yang biasa dan dianggap lelucon. Tapi bagi saya karena memegang prinsip dan idealisme dalam pelestarian Bahasa Bali, ini sudah kebablasan, dan tidak pantas karena berkonten porno. Sebab Facebook ini kan dikonsumsi semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua,” tegasnya.
Ditambahkan Suka, Secara Undang-Undang, Indonesia sudah mengatur tentang Pornografi. Bahkan ujaran tersebut berpotensi melanggar UU Nomor 44 Tahun 2008 tentag Pornografi terutama pasal 4 tentang larangan dan Pembatasan. "Ayat 1 Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit. Ini yang harus diperhatikan para pengguna akun pribadi ini. Jika ada yang melaporkan bisa saja dibawa ke ranah pidana,” imbuhnya lagi.
Ia pun berharap agar masyarakat khususnya pemilik akun pribadi setidaknya lebih bijak dalam menggunakan media sosial, dan tidak men-share begitu saja hasil uji id.testony.com. “Jika sudah tak pantas, lebih baik jangan di-share. Kalau seperti ini penggunaan bahasa Bali-nya berarti kita sama saja mekecuh marep menek (meludah ke atas, Red) kita sendiri yang akan kena karena berbahasa yang tak senonoh serta kasar yang bisa saja mudah ditirukan oleh anak-anak kecil. Kasihan generasi muda kita,” tutup Suka.
Editor : I Putu Suyatra