Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Apakah Surga Tempat Akhir Misterius Kehidupan Manusia?

I Putu Suyatra • Jumat, 14 Juli 2017 | 18:09 WIB
Photo
Photo

DENPASAR, BALI EXPRESS - Tidak dapat disangkal bahwa Surga atau Swarga adalah tempat yang diinginkan oleh banyak orang setelah kepergian mereka.

Namun, konsep ini memiliki banyak makna berbeda. Swarga, secara harfiah, terdiri dari kata "swar," yang berarti cahaya, dan "ga," yang berarti pergi.

Oleh karena itu, Swarga adalah pergi ke cahaya. Ini dijelaskan dalam mantra Atarwaweda 11.59 yang menyatakan, "Tamaso ma jyotir gamaya," yang berarti, "Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan menuju cahaya."

Baca Juga: Filosofis Jejahitan Tamiang yang Tak Boleh Ditinggalkan bagi Umat Hindu di Bali saat Kuningan

Cahaya memiliki pengaruh yang mendalam pada kehidupan, dan kita pada akhirnya akan kembali pada cahaya itu sendiri, yaitu Paramajiwa (Atma).

Cahaya selalu hadir dalam berbagai bentuk, dari matahari di siang hari hingga bulan di malam hari.

Ketika keduanya absen, api menyinari kegelapan. Bahkan ketika itu juga padam, suara menerangi, dan ketika suara itu pun hilang, jiwa (atman) tetap menerangi. Dengan kata lain, cahaya yang abadi memandu Atma atau Paramjyotir.

Menurut Jro Mangku Agni Baradah, dalam Veda, Surga digambarkan sebagai tempat yang selalu terang, bersinar, dan tidak pernah gelap. Ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang suci dan merupakan dunia kebaikan. Keabadian bahkan dijelaskan dalam kitab suci Rgveda XI.113.8-11.

Dalam kitab-kitab Purana seperti Vayu Purana, Surga memiliki tujuh pintu gerbang yang dapat diakses oleh mereka yang mempraktikkan Tapa (pengendalian diri), Dana (pemberian tulus), Sama (kesetaraan dalam suka dan duka), Dama (pengendalian pikiran), Hrih (rasa malu), Arjawam (rendah hati), dan Karuna (simpati) terhadap semua mahluk.

Baca Juga: Tempat Melukat Umat Hindu di Bali; Tak Telanjang Bulat Saat Melukat di Telaga Waja, Kena Sanksi Adat

Menurut filsafat, Surga adalah keadaan pikiran yang bahagia. "Asal pikiran seseorang bahagia, maka ia berada di Surga. Surga tidak hanya berada di alam lain, tetapi juga ada di dalam pikiran kita," kata pemilik Yayasan Karmadatu ini.

Dalam pandangan agama, Surga adalah tempat di mana atman (jiwa) menikmati kebahagiaan dunia. Jika seseorang selalu melakukan perbuatan baik di dunia ini, setelah meninggal, atman akan dijemput oleh bidadari dan dibawa ke Surga.

Di sana, atman akan ditemani oleh para bidadari dan segala keinginannya akan terpenuhi. Bahkan, ada pohon Kalpa Taru yang selalu memenuhi keinginan manusia di Surga.

Sementara itu, Neraka adalah keadaan pikiran yang menderita. Jika seseorang menderita dalam pikirannya, itu berarti ia berada di alam Neraka. Neraka juga ada di dalam pikiran manusia.

Menurut agama, Neraka adalah tempat di mana atman menerima hukuman. Ini berada di luar dunia ini, di antara planet-planet di luar angkasa.

Jika seseorang melakukan karma buruk selama hidupnya, maka setelah meninggal, atman akan dihadapkan kepada dewa Yama untuk diadili dan menerima hukumannya.

Surga juga dijelaskan dalam Bhumi Kapila Sutra sebagai tempat di mana mahluk bersinar dan bahagia. Mereka dulunya manusia yang melakukan perbuatan baik dan tinggal di sana selama beberapa tahun sebelum terlahir kembali di alam lain.

Jadi, apakah Surga terletak di alam sana? Menurut Brahmacaria Indra Udayana, memang begitu. Ia menjelaskan bahwa ada banyak alam di luar Bumi ini, dan Surga adalah salah satunya.

Apakah Surga bisa dicapai selama hidup? Menurut Jro Agni Baradah, Surga hanya dapat dicapai setelah kematian, dan proses kelahiran di Surga tidak melibatkan panca maha buta (rahim) tetapi melibatkan cahaya.

Baca Juga: Fungsi dan Makna Guwungan Bagi Umat Hindu di Bali (2-Habis)

Namun, ada persepsi yang salah bahwa dosa dapat diampuni oleh Tuhan, yang mengakibatkan ketidakpedulian terhadap Surga atau Neraka.

Ini karena pemahaman yang kurang kuat tentang hukum karma. Jika pemahaman tentang karma kuat, maka tindakan baik akan diupayakan, karena hasilnya tidak hanya di masa depan, tetapi juga sekarang.

Brahmacaria Indra Udayana melihat Surga dari perspektif Gandhian. Menurutnya, Surga adalah ketika kita bahagia dan mampu melayani mereka yang menderita. Surga bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang prosesnya. Ketika kita membedakan Surga dan Neraka, kita sering mengabaikan proses sesungguhnya dari hukum karma. Oleh karena itu, manusia memiliki peran dalam memperbaiki diri dan membangun kesadaran sejati.

Dalam Bhagavad Githa, Shri Krishna menyatakan bahwa ada ruang bagi pelayanan yang tulus dan murni untuk memperbaiki kesalahan besar. Dengan demikian, Surga sejati datang dari pelayanan yang tulus dan murni.

Jadi, apakah Surga hanya sebuah tempat di alam sana? Menurut penjelasan ini, Surga bisa berarti banyak hal, termasuk kebahagiaan pikiran, dan dapat dicapai setelah kematian atau selama hidup, tergantung pada pandangan dan keyakinan individu.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #surga