BALI EXPRESS, DENPASAR - Tampilan Gebogan belakangan kian variatif. Tak hanya buah-buahan yang ditata, namun produk minuman kaleng pun mulai bertengger. Layakkah gaya membuat Gebogan seperti ini diteruskan?
Menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, makna dari dibuatnya Gebogan dalam aktivitas ritual Agama Hindu ini sebagai bentuk persembahan. “Memang dalam melakukan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi, kita bisa mempersembahkan apa saja. Namun, jika menggunakan minuman kaleng dalam Gebogan itu kurang wajar,” jelasnya.
Dibandingkan dengan buah impor, penggunaan minuman kaleng, tidak wajar. Ida Rsi mengingatkan jangan menghilangkan unsur Panca Rengga, karena
Nilai spiritual suatu Gebogan tidak bisa dilihat dari banyaknya item buah atau pun makanan yang digunakan.
Selain sebagai sebuah persembahan, Gebogan ini diakui Ida Rsi, juga bisa menjadi bagian dari dekorasi. Untuk kepentingan dekorasi ini, maka gebogan yang dibuat tidak memakai sampian dan porosan. “Gebogan sebagai dekorasi tidak memiliki makna apa pun dari sisi keagamaan, sehingga item yang digunakan dalam Gebogan tersebut bisa beragam, tanpa harus terpaku pada unsur Panca Rengga,” ungkapnya.
Gebogan dekorasi ini, komposisi yang ditonjolak adalah nilai seni dan estetika dari Gebogan itu sendiri, yakni mulai dari kerapian, kesegaran Gebogan dan ketepatan waktu serta tinggi Gebogan.
Editor : I Putu Suyatra