Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pucak Sari; Berawal dari Janji Tokoh Hindu Bali yang Diikat Pasukan Belanda

I Putu Suyatra • Senin, 17 Juli 2017 | 02:31 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, NEGARA - Pura Pucak Sari, Pangkung Jangu Kauh, salah satu tempat suci umat Hindu di Bali, sesuai dengan namanya, memang berada di puncak pegunungan.

Muasal berdirinya pura yang berada di kawasan hutan Jembrana, Bali, ini bertalian janji seorang tokoh desa yang diikat di dalam hutan oleh pasukan Belanda pada masa penjajahan.

Menatap Pura Pucak Sari, Anda pasti menghela napas karena di depan terbentang jalan terjal dengan sudut kemiringan sekitar 65 derajat, sepanjang dua kilo meter, ketika sampai di punggung bukit Pangkung Jangu.

Memang cukup melelahkan, perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju lokasi pura, yang terletak  sekitar 15 km ke arah utara dari jalan utama Denpasar-Gilimanuk di Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Jembrana.

Jero Mangku Aryana, selama perjalanan selalu mewanti-wanti agar berhati-hati karena jalanan setapak, cukup licin, lantaran dibasahi embun.

Apalagi,  kunjungan yang tak direncanakan itu dilakukan pukul 24.30 Wita, usai bertemu di salah satu piodalan pura dadia di Banjar Ngoneng, Mendoyo Dauh Tukad.

Sepanjang jalan yang dilalui hampir tak ada lampu penerangan yang memadai.

Pandangan mata yang terbatas, membuat laju mobil tak lebih dari 25 km per jam, sehingga membuat perjalanan semakin terasa lama.

Karena tak menguasai medan, akhirnya di ujung jalan aspal, sekitar dua kilo meter dari lokasi pura, mobil tak mampu naik, bahkan sempat terdorong mundur.

Beruntung,  Mangku Aryana yang duduk di depan dengan sigap turun dan mengganjal ban kendaraan dengan batu.

Tak dinyana, rem tangan mobil jenis jeep tersebut tak berdaya.Akhirnya, setelah keadaan mampu dikendalikan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Kali ini, praktis meraba-raba jalan yang harus ditempuh, karena tak ada yang membawa lampu pijar.

Kadang ada kilatan sinar, itu pun sekali sekali karena berasal dari nyala korek api pemantik rokok.

Kondisi seperti ini bukan hal yang baru bagi Mangku Aryana, yang  minimal seminggu dua kali menaiki punggung bukit ini untuk sembahyang dengan berjalan kaki dari rumahnya yang berada di kaki bukit Pangkung Jangu.

Suara jangkrik dan lolongan anjing malam di kejauhan,seperti ikut mengiringi langkah kaki hingga tiba di pelataran pura yang hening dan dingin.

Berada di pelataran pura, sangat terasa tenang, meski kaki terasa pegal.Temaram lampu kawasan Kota Negara terlihat sangat indah dilihat dari puncak pegunungan.

Setelah istirahat sejenak, pemangku, penulis dan salah seorang sahabat yang ikut menemani, sembahyang bersama.

Setelah usai, Pamangku Pura Pucak Sari Mangku Aryana, menjelaskan, bahwa kisah berdirinya pura secara tertulis belum ada ditemukan.

Tapi, berdasarkan cerita turun-temurun, konon pura ini berdiri atas janji kelian adat kala itu.

"Salah seorang kepala desa diikat di salah satu pohon oleh tentara Belanda karena ulah mata-mata yang memberitahukan posisinya," ujar Mangku Aryana, dengan suara pelan.

Tempat penahanannya persis di puncak bukit tempat berdirinya pura sekarang.

Bersamaan dengan itu, petani ladang yang biasa merabas hutan untuk bertani, tak pernah menuai hasil ladangnya.

Sesuai dengan  keyakinan, petani yang suka merabas hutan dan berpindah-pindah itu, akhirnya mendirikan turus lumbung (tempat sembahyang yang dibuat dari pohon hidup) untuk sembahyang, memohon kemurahan hati Yang Kuasa agar panen tak gagal.

Benar saja, setelah didirikannya turus lumbung, perlahan gangguan hama dan penyakit menghilang.

Seperti yang dilakukan petani, kelian adat yang diikat ini pun memohon perlindungan Yang Kuasa, agar nyawanya bisa terselamatkan.

"Bila selamat, kelian adat   tersebut bersedia ngaturang ayah (mengabdi) di kawasan hutan yang ada turus lumbungnya," beber Mangku Aryana.

Karena permohonannya terkabulkan, maka sejak itu pula kelian adat tersebut ngayah di hutan, sekaligus jadi juru sapuh (mengabdi) di turus lumbung.

Lalu bagaimana ceritanya, turus lumbung berdiri menjadi Pura Desa ? Mangku Aryana mengatakan, semua itu  berkaitan dengan petunjuk yang didapat saat paruman Barong di Pura Natar Sari, Apuan, Tabanan.

Ratu Ayu Mas sungsungan ( yang dipuja) Pura Dalem, Desa Adat Poh Santen saat itu, memberikan petunjuk pada pangiringnya (pengikutnya) bahwa di bagian Utara desa ada pura yang punya hubungan khusus karena ada hubungan persaudaraan. 

"Ingat tangkil kesana," ujar Mangku Aryana, menyampaikan petunjuk yang diterima warga yang karauhan (trance) saat itu. 

Lalu, setibanya di Desa Poh Santen, Jembrana, warga bingung apa yang harus dilakukan.

"Akhirnya kami ngalawang tapakan Ratu Ayu keliling desa mengunjungi masing-masing pura," ungkapnya.Pasalnya, di utara desa tak ada pura yang terbilang besar.

Sejumlah pura dikunjungi, namun Ratu Ayu tak pernah berkenan masuk ke dalam.

Bahkan, kerap mengunci kakinya ketika pintu gerbang pura sudah berjarak 100 meter.

Melihat-tanda-tanda seperti itu, lanjutnya, berarti bukan pura tersebut yang dimaksud, apalagi punya hubungan khusus dengan tapakan Ratu Ayu.

Namun, ketika dicoba ngalawang ke hutan Pura Pucak Sari, jalan Ratu Ayu begitu kencang menapaki jalan terjal.

Terlihat sangat ringan melangkah, bahkan nyaris tak terkejar.Bahkan, Ratu Ayu langsung memasuki pura yang berada di puncak gunung itu.

Pemandangan itu tentu sangat berbeda, ketika Ratu Ayu diarak ke tempat  suci lainnya, yang tak jarang mengunci kakinya tidak mau masuk ke halaman pura, bahkan berbalik.

Setelah diyakini Pura Pucak Sari adalah pasametonan (saudara) Ratu Ayu Mas di Pura Dalem Poh Santen, maka pura permanen pun dibangun.

Dikatakan Mangku Aryana, selain yang berstana mahapemurah, belakangan juga banyak pamedek (umat yang datang) memohon kesembuhan, agar terbebas dari penyakit karena niskala atau sakit disebabkan oleh non-medis. (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pura #pucak sari #jembrana