BALI EXPRESS, TABANAN - Fenomena kemunculan Lulut Emas banyak ditemui belakangan ini. Segerombolan ulat kecil berwarna emas dari tanah itu, kian menghebohkan jagat media sosial,karena banyak tafsir yang didominasi urusan mistis alias niskala.
Di Tabanan saja sejak bulan April 2017 lalu hingga saat ini, terhitung sudah ada beberapa kali kemunculan Lulut Emas. Diawali dengan kemunculan di rumah salah seorang warga bernama I Kadek Triwarka, 38, di Banjar Kubontingguh, Desa Denbantas, Kecamatan Tabanan, dimana pada hari Selasa, 18 April 2017 tiba-tiba saja muncul Lulut Emas di halaman rumahnya.
Ia melihat benda sejenis cacing kecil , namun menjadi satu seperti ular kecil dengan panjang mencapai 30 sentimeter di depan Palinggih Surya yang kebetulan ada di depan Bale Dajenya. Berselang lima belas menit, Lulut Emas dengan kelompok berbeda kembali muncul di areal tersebut dengan ukuran sepanjang 25 sentimeter.
Selanjutnya, ia dibantu bibinya pun akhirnya membakar Lulut Emas tersebut dengan menghaturkan sesajen berupa Segehan Manca Warna dan Canang. Selanjutnya, sisa-sisa Lulut Emas yang sudah dibakar langsung di halaman rumahnya dibawa ke perempatan jalan dan dibakar kembali juga dengan menghaturkan Segehan Putih-Kuning dan canang. “Dan, setelah meminta petunjuk kepada Pemangku, saya akhirnya menggelar Pacaruan Ayam Brumbun di rumah,” ujarnya.
Belum tuntas rasa penasaran publik terjawab, Lulut Emas kembali muncul di rumah warga bernama I Gede Ariana Eka Putra, 22, di Banjar Telaga Tunjung Kaja, Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Kamis 29 Juni lalu. Berbeda dari sebelumnya, kemunculan Lulut Emas di bangunan Bale Suka Duka tersebut terbilang cukup lama , yakni sampai empat jam.
Karena baru pertama kali terjadi, Ariana kemudian mencoba mencari informasi dari kerabatnya dan banyak yang menyarankan, jika kemunculan Lulut Emas tersebut menjadi pertanda ia harus menggelar Upacara Pacaruan di rumahnya.Selanjutnya disusul dengan kemunculan Lulut di salah satu rumah warga di Desa Buruan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Dan, terakhir, Lulut Emas muncul di halaman SDN 2 Buahan, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan, Senin 17 Juli 2017. Namun, warna Lulut ini cenderung lebih gelap alias tidak tidak terlalu kuning seperti emas.
Oleh sang Guru, Lulut Emas itu kemudian diberikan banten berupa Segehan dan Canang. Lulut Emas tersebut kemudian diambil dan dimasukkan dalam Bungkak Nyuh Gading dan kemudian dihanyutkan ke Sungai yang ada di dekat sekolah.
Atas kemunculan tersebut, Kepala Sekolah beserta para Guru menggelar Pacaruan Caru Ayam Brumbun. “Pada Buda Kliwon Ugu ini kami menggelar Pacaruan atas kemunculan Lulut tersebut,” ujar Kepala Sekolah SDN 2 Buahan, I Made Suardika kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.
Tak hanya di Tabanan, sejatinya kemunculan Lulut Emas juga terjadi di sejumlah daerah di Bali yang videonya langsung viral di dunia maya. Menanggapi hal tersebut, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Tabanan I Ketut Tontra mengatakan, bahwa kemunculan Lulut Emas di pekarangan rumah atau lokasi lainnya selama ini dikenal sebagai pertanda buruk atau kondisi karang yang panas alias Karang Panes. “Oleh karena itu, perlu dinetralisasi dengan caru ayam putih mulus atau ayam klawu kedungan manut sapakramaning caru,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakannya, sejak dulu kemunculan Lulut Emas memang sudah terjadi di Bali alias bukan fenomena yang baru. Hanya saja belakangan ini dengan kemajuan teknologi, kemunculan Lulut Emas itu diabadikan melalui foto atau video kemudian di unggah ke media sosial, sehingga menjadi viral dan heboh diperbincangkan. Lulut sendiri pada umumnya terdapat beberapa jenis, mulai dari lulut emas, lulut perak, lulut tembaga dan lulut hitam.
Editor : I Putu Suyatra