Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Hindu Bali: Mekering-Keringan Endut, Perayaan Pujawali yang Memukau di Pura Gede Pemayun, Banyuning

I Putu Suyatra • Senin, 24 Juli 2017 | 16:04 WIB
Photo
Photo

BULELENG, SINGARAJA- Tradisi Mekering-Keringan Endut adalah salah satu tradisi unik umat Hindu di Bali.

Tradisi ini menghadirkan keceriaan dan kesakralan dalam perayaan pujawali di Areal Pura Gede Pemayun, Banyuning, Buleleng, Bali.

Seperti apa kemeriahan dan rasa kebersamaan yang memukau dalam permainan berlumpur yang melibatkan seluruh masyarakat setempat setiap tahunnya tersebut? 

Areal Pura Gede Pemayun, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Bali, pada Sabtu siang (22/7/2017) nampak berbeda dari sebelumnya. 

Pasalnya puluhan remaja larut dalam permainan Mekering Endut (bermain lumpur, Red) di Jaba Pura Gede Pemayun.

Uniknya, permainan Mekering-keringan endut dimainkan secara spontanitas oleh ratusan warga sebagai rangkaian pujawali di Pura Gede Pemayun.

Tradisi ini terbilang sakral, karena mekering-keringan endut sebagai rangkaian acara Piodalan Agung Pura Gede Pemayun, Desa Pakraman Banyuning yang jatuh tiap Buda Kliwon Ugu. Pelaksanaanya pun dilaksanakan di areal Pura Gede Pemayun.

Bahkan tradisi ini merupakan wujud syukur karena telah labda karya (sukses, Red) melaksanakan pujawali di pura tersebut.

Riuh rendah keseruan tradisi Mekering-Keringan Endut rupanya tidak hanya melibatkan anak seusia taman kanak-kanan (TK) dan sekolah dasar (SD).

Bahkan para remaja hingga dewasa ikut larut dalam suasana keceriaan mengikuti permainan anak tempo dulu yang tentunya sudah jarang dimainkan di era modern seperti sekarang ini.

Bagi mereka, permainan mekering-keringan endut adalah salah satu hiburan masyarakat yang sangat ditunggu-tunggu, karena dimainkan setiap setahun sekali.

Seputaran kawasan Pura Gede Pemayun terletak di Jalan Gempol, Banyuning siang itu pun mendadak ramai.

Puluhan remaja dengan wajah serta badan contrang-contreng penuh lumpur berjejer di Balai Masyarakat Lingkungan Tengah, Kelurahan Banyuning.

Mereka memang sengaja melumuri wajah dengan lumpur sambil menunggu kedatangan rekan-rekan lainnya yang notabene masih warga setempat untuk diajak Ngayah dalam permainan Mekering-keringan endut.

Tak hanya menunggu, mereka juga mengawasi hiruk pikuk ramainya jalanan Gempol mengincar calon "mangsa" yang nantinya akan digotong beramai ramai menuju areal jaba sisi Pura Gede Pemayun.

Secara spontanitas puluhan pemuda berhamburan menyerbu seorang pengendara motor berbaju seragam sekolah yang hendak melintas di Jalan Gempol, Banyuning.

Kemudian, oleh puluhan pemuda Banyuning, pengendara itu pun langsung dihentikan, bahkan pengendara motor digotong beramai-ramai menuju areal Pura Gede Pemayun. 

Berselang beberapa waktu kemudian, pengendara yang merupakan pemuda setempat tersebut sembari tersenyum keluar dari areal Pura Gede Pemayun dengan kondisi seragam penuh lumpur.

Saat koran ini melihat di areal Jaba Tengah yang posisinya berhadap-hadapan dengan Balai masyarakat, suasananya pun hampir sama. Puluhan anak-anak itu pun tubuhnya penuh belepotan lumpur. 

Mereka bertempur saling serang memakai lumpur di sebuah kubangan yang sebelumnya sudah didesain sedemikian rupa yang spesial disiapkan untuk permainan Mekering-keringan endut.

"Seluruh lapisan masyarakat Banyuning bernostalgia, baik pria dan wanita ikut ngayah dalam Mekering-keringan dan colek-colekan endut serangkaian upacara Piodalan di Pura Gede Pemayun. Kalau mulainya, dari pukul 12.00 sampai 16.00 wita.

Setelah selesai, biasanya mandi bersama di Tukad Tangis," kata Kadek Arta Bawa, 35, salah satu pemuda Banyuning.

Jika melihat catatan sejarah, tradisi Mekering-keringan di Pura Gede Pemayun merupakan salah satu permainan khas Banjar Adat Banyuning Tengah, Kelurahan Banyuning. Dahulu permainan Mkering-keringan itu pun sebenarnya tidak menggunakan endut (lumpur).

Namun, lambat laun seiring perkembangan jaman permaian itu pun mulai jarang diminati, bahkan terkesan membosankan.

Praktis, peminat permaian yang diadakan setahun sekali, tepatnya saat wayonan Piodalan Agung Pura Gede Pemayun mulai berkurang.

"Dahulu, tradisi Mekering-keringan berupa unti-untian, jaran-jaranan. Tapi rupanya semua itu kurang diminati, lalu muncul ide memadukan dengan endut tanpa melepas model permainan lama seperti unti-untian. Jadi, ada lawan antar satu dengan lainnya," kata Klian Banjar Adat Banyuning Tengah, Ketut Setiawan (57) saat ditemui Minggu (23/7) sore.

Ketut Setiawan mengungkapkan bahwa permainan Mekering-keringan saat wayonan piodalan Agung di Pura Pemayun yang digelar setahun sekali, yang jatuh tiap Buda Kliwon Ugu. 

Mulanya hanya diikuti oleh krama pengempon Pura yang berjumlah 429 kepala keluarga (KK).

"Namun seiring perkembangan jaman ternyata tradisi turun-temurun permainan mekering-keringan dan colek-colekan endut akhirnya diikuti oleh seluruh masyarakat Banyuning. Sebenarnya sih, permainan hanya melibatkan 429 KK pengempon Pura, dan bukan untuk seluruh masyarakat Banyuning," jelasnya.

Menurutnya tradisi yang tetap dilaksanakan secara turun temurun diyakini oleh krama pengempon Pura Gede Pemayun merupakan wujud bhakti meyadnya dengan cara mandi berlumur lumpur tebal dari wajah hingga sekujur badan.

"Hampir sebagian besar krama pria dan wanita terlibat, baik anak-anak, remaja, dewasa bahkan orangtua. Mereka secara spontanitas ikut meramaikan permainan sebagai bentuk ngayah. Jadi dianggap meyadnya, kalau belum dapat mengecap rasa endut di Pura rasanya sujud bhakti kehadapan Ibu Pertiwi itu kurang komplit," imbuhnya.

Menariknya, setiap tahunnya, sambung Setiawan puluhan bahkan ratusan warga Banyuning terlibat hanya untuk bermain lumpur saat wayonan Piodalan Agung di Pura Gede Pemayun. 

Hingga dalam sekejap, tubuh mereka terbalut lumpur cokelat.

Merasa sudah terlanjur, mereka pun memutuskan mandi lumpur di areal jaba Pura lalu berlarian di jalanan tersebut.

"Semua harus mandi lumpur. Kalau ada yang ikut tapi bajunya masih bersih, maka wajib dipeluk, sehingga bajunya penuh lumpur. Itulah keseruannya sehingga tradisi ini menimbulkan rasa kebersamaan dan menumbuhkan rasa saling memiliki," ungkapnya. (*) 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #hindu #tradisi #buleleng