BALI EXPRESS, AMLAPURA - Pengempon Pura Ratu Sakti Kancing Gumi juga meyakini adanya sumber mata air sebagai petirtaan yang berkaitan dengan pura tersebut. Tempat petirtaan itu berada sekitar 2 kilometer, dengan posisi naik ke atas dari pura tersebut.
Jalannya terjal. Tak bisa dilalui sepeda motor. Sehingga kalau kesana harus dilalui dengan berjalan kaki. Sebagaimana penuturan Mangku Nyoman Tunas, lokasi petirtaan ini terbilang unik. Mirip wajan atau penggorengan. Arealnya termasuk luas. “Namanya Telaga Maya. Di sana adalah bejinya,” jelas dia.
Untuk diketahui, Pura Ratu Sakti Kancing Gumi sendiri berada di tengah hutang lindung yang disebut Munduk Bukit Keboh, wilayah Banjar Besakih Kawan, Desa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Pura ini terkubur sejak letusan Gunung Agung 1963 silam.
Secara kasat mata, Mangku Nyoman Tunas dan sejumlah pangempon lainnya menuturkan, di tempat petirtaan tersebut ada dua sumber mata air. Saat ini debit airnya sangat kecil. Ini diperkirakan karena tidak ada yang mengurus. Baik secara skala maupun niskala. Misalnya dilaksanakan upacara di sana.
“Kalau secara kasat mata, tempat itu hanya sebuah kubangan yang ditumbuhi rumput, dan ada sumber mata air,” jelasnya. Namun oleh orang-orang tertentu, lanjut dia, bisa dilihat berbagai hal ada dalam areal mirip penggorengan tersebut. “Di sana ada nenek-nenek, ada pasar, ada perkebunan. Tapi sulit saya buktikan, karena tidak semua bisa melihat, merasakannya,” jelas pria berusia 32 tahun itu.
Mangku Nyoman Tunas yang merupakan salah satu pamangku di Pura Ratu Sakti Kancing Gumi ini mengaku sudah sering malukat, hingga semedi di tempat tersebut. Dia juga sering mengantar sejumlah orang dari luar Karangasem, malukat di petirtaan tersebut. “Kalau berkenan saya antar ke sana. Tapi harus jalan kaki,” terang Mangku Nyoman Tunas kepada koran ini.
Editor : I Putu Suyatra