BALI EXPRESS, DENPASAR - Salah satu produk dari Rudraksha adalah japamala atau tasbih.
Japamala berasal dari kata “Japa” dan “Mala”.
Bagi umat Hindu di Bali, Japa berarti pengucapan aksara atau nama suci Tuhan secara berulang, sedangkan Mala berarti butiran yang dihubungkan dengan benang.
Dengan demikian, Japamala berarti sebuah alat berupa untaian butiran benda tertentu yang digunakan untuk menyebut aksara suci atau nama Tuhan secara berulang.
Menurut Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata, fungsi Japamala sebenarnya untuk melatih diri dalam memuja Tuhan.
Jumlah butiran yang ada pada Japamala adalah 108, setengahnya, seperempatnya, dan sebagainya.
“108 menandakan jumlah nama Tuhan dalam Hindu. 108 dibulatkan menjadi 9 sehingga menjadi Dewata Nawa Sanga,” jelasnya.
Mengenai bahan, beliau mengatakan ada bermacam-macam. Untuk pemuja Siwa biasanya menggunakan Rudraksha, sedangkan pemuja Wisnu biasa menggunakan kayu Tulasi.
Namun sesungguhnya semua kayu yang bisa digunakan dalam upacara dapat digunakan sebagai bahan Japamala, seperti majagau, cendana, cempaka, gaharu.
“Bahkan, batu mulia pun bisa digunakan,” terangnya.
Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata menjelaskan, dalam untaian Japamala, ada satu simpul yang disebut Guru.
Dalam penggunaannya, telunjuk melambangkan atman (jiwa) dan ibu jari adalah paramatman (jiwa tertinggi/Tuhan). Sedangkan jari tengah, manis, dan kelingking adalah Triguna atau tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia, yakni Sattwam (ketenangan, kesucian, dan kebijaksanaan), Rajas (lincah, ambisius, dan energik), serta Tamas (malas, rakus, dan tamak). Oleh karena itu, untaian Japamala diletakkan di atas jari tengah.
Memutar japamala dimulai dengan telunjuk perlahan menggeser butiran Japamala pertama setelah Guru dengan perlahan dari depan ke belakang, sehingga ujung telunjuk dan ibu jari bertemu.
Hal ini melambangkan pertemuan atman dengan paramaatman.
“Hal tersebut sesuai tujuan berjapa adalah mendekatkan diri dengan Tuhan,” ungkap Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata.
Ketika sampai di Guru, japa dihentikan sejenak, Japamala diputar 180 derajat dan japa bisa dilanjutkan.
“Itu karena tidak etis melangkahi Guru,” jelasnya.
Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata dari Griya Taman Giri Candra, Batubulan, mengatakan, waktu berjapa yang baik adalah sesuai dengan sandhya (pergantian waktu), saat pergantian siang ke malam dan malam ke siang atau sekitar jam enam pagi dan jam enam sore.
“Kalau bisa, yang paling baik adalah jam 02.00 sampai 06.00 pagi yang dinamakan Brahma Muhurta. Pada saat itu dipercaya para dewa juga bermeditasi, sehingga kita mendapat vibrasi dari Beliau,” terangnya.
Mengenai lafal yang diucapkan, Sira Mpu mengatakan, selain penyebutan nama Tuhan, bisa pula menggunakan mantra Om Kara.
Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata menekankan, penyebutan sebaiknya dilakukan secara perlahan dengan mengatur nafas, hirup dari hidung dan keluarkan dari mulut.
Sikap umumnya dengan duduk bersila dengan punggung tegak. Tangan kanan memegang Japamala sejajar dada, sedangkan telapak tangan kiri terbuka menengadah (bisa dengan mudra tertentu pula), dan diletakkan di depan pusar atau di atas lutut kiri.
Mata dibuka sedikit untuk memandang ujung hidung, sehingga pikiran terfokus. Mulut juga dibuka sedikit agar suara keluar. Saat pelafalan, “A” rasakan di perut, “U” di dada, dan “M” di ubun-ubun.
Jika dilaksanakan secara rutin, maka baik untuk kesehatan jasmani dan rohani.
Berdasarkan hal tersebut, lanjut Sira MpuDharma Agni Yoga Sogata, selain sebagai alat berjapa, Japamala juga bisa melindungi diri dan memberikan kesucian karena bahannya yang berkualitas, seperti Rudraksha. Namun demikian, semuanya tergantung pikiran seseorang.
“Dengan pikiran positif, kita bisa menetralisasi hal buruk dalam diri sehingga mendatangkan kesucian,” tegasnya. (*)
Editor : I Putu Suyatra