Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Batu Medau; Berawal dari Aksi Tokoh Sakti Bersenjata Perahu

I Putu Suyatra • Minggu, 30 Juli 2017 | 17:16 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, NUSA PENIDA - Pura Batu Medau yang terletak di pinggir pantai bagain timur di Desa Suana, Nusa Penida, Klungkung ini, menyimpan sejarah unik bagi umat Hindu di Bali.

Banyak cerita bernuansa magis yang diterima secara turun temurun. Seperti apa misterinya?

Ketua Yayasan Bakti Pura Batu Medau, I Made Wijaya, mengatakan keberadaan pura yang kini berdiri megah tersebut terkait cerita yang telah turun-temurun dipercayai oleh masyarakat, berdasarkan Babad Nusa Penida.

Dikisahkan ada seseorang dari Nusa Penida yang memiliki kemampuan tingkat tinggi bernama I Renggan, salah satu cucu Dukuh Jumpungan.

Suatu hari I Renggan hendak menaklukkan Bali. Adapun salah satu senjatanya adalah perahu sakti. Konon perahu tersebut mampu membelah daratan dan menjadikannya laut.

“Bahkan Nusa Penida berhasil dibelah oleh perahu tersebut sehingga menjadi Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan,” ujarnya, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Nusa Penida Oktober 2016 lalu.

Setelah semua persiapan dianggap cukup, berangkatlah I Renggan menuju Pulau Bali.

Sementara, Ida Bhatara Tolangkir yang bersemayam di Gunung Agung ternyata mengetahui rencana I Renggan.

Beliau pun tidak tinggal diam dan mengatur siasat. Saat I Renggan mengendarai perahu, dibuatlah agar ia tidak sadar alias tertidur.

Akibatnya, laju perahunya tak terkendali dan mengarah kesana kemari.

Tiba-tiba perahu tersebut menyerempet daerah Manggis, Karangasem sehingga menghasilkan beberapa pulau kecil di daerah Padang Bai yang masih bisa disaksikan hingga kini.

Setelah sekian lama, I Renggan pun tersadar dan kecewa karena rencananya gagal.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, I Renggan kemudian memutuskan untuk kembali ke Nusa Penida.

Ketika tiba di bagian timur pulau, perahunya kemudian hendak ditambatkan. Sayangnya, perahu tersebut kemudian naik ke daratan dan membelah bebatuan yang ada di pinggir pantai.

Sedangkan ujungnya yang lain masih menjulur ke pantai. Ujungnya tersebut kemudian menjadi Pura Segara, salah satu bagian Pura Batu Medau. 

Konon, berdasarkan cerita tersebutlah kata Medau berasal.

“Jadi Medau berasal dari kata Perahu Medah (membedah) Batu dan kalau diperhatikan secara seksama, bentuknya persis seperti perahu dengan ujungnya yang menjulur ke laut,” jelas pria 45 tahun tersebut.

Setelah peristiwa itu, I Renggan kemudian meninggalkan perahunya dan menuju ke Dalem Ped.

Ternyata di dalam perahu tersebut masih tersimpan banyak bahan makanan serta harta berharga, sehingga memberikan berkah bagi masyarakat sekitarnya sehingga dimuliakan hingga kini.

Makanya, lanjut Wijaya, bila pujawali di Pura Batu Medau dilaksanakan setiap Buddha (Rabu) Kliwon Pahang,  bertepatan dengan rahina Pegatwakan, dipastikan banyak pamedek yang tangkil.

Dikatakannnya, Pura Batu Medau sebenarnya masuk dalam konsep Tri Purusha di Nusa Penida, selain Pura Dalem Ped, dan Pura Puncak Mundi.

“Tri Purusha ini lalu berkembang menjadi Sad Kahyangan, yakni Batu Medau, Dalem Ped, Puncak Mundi, Dalem Penida, Tunjuk Pusuh, dan Puncak Saab,” jelasnya.

Saat ditanya tentang nama Ida Bhatara yang malinggih di Pura Batu Medau, Wijaya hanya mengatakan Ida Bhatara Batu Medau.

“Nama Beliau, ya Ida Bhatara Batu Medau,” jelasnya.

Mengenai peninggalan di Pura Batu Medau, Wijaya menyebutkan ada arca berbentuk batu yang sangat dikeramatkan oleh pangempon. “Bentuknya seperti lingga yoni,” ujarnya.

Disinggung soal perhatian pemerintah soal pembangunan pura, Wijaya mengatakan sudah ada.

Namun, Wijaya menegaskan  bahwa pembangunan Pura Batu Medau hingga menjadi semegah sekarang ini, murni swadaya masyarakat pangempon.

“Saya berani bilang ini 95 persen swadaya masyarakat pangempon, 5 persen barulah sumbangan dari luar,” akunya.

“Pangempon terdiri dari 20 Desa Pakraman. Kami urunan dan pembangunan selama 10 tahun, karena sedikit demi sedikit, bertahap,” tandasnya.

Jika bersembahyang ke pura ini, maka umat akan diarahkan untuk sembahyang terlebih dahulu di Pura Segara yang letaknya persis di pinggir pantai dengan bagian yang menjulur ke pantai yang bentuknya seperti ujung perahu.

Selanjutnya, ke Pura Taman yang ada di sebelah baratnya. Dari sana, barulah ke jeroan Pura Batu Medau. ***

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #hindu #pura #sejarah #klungkung #nusa penida